BAB II
PEMBAHASAN
1.
IMPLIKASI
GLOBALISASI DAN DESENTRALISASI
Pembahasan mengambil dua sisi pandang, yaitu
bersifat makro yang sifatnya umum dan lebih banyak memasuki daerah kebijakan
atau policy, terutama yang terkait dengan kebijakan pemerintah pada tingkat
pusat dan daerah. Pembahsan memalui mikro terutama dikaitkan dengan aspek
implemtasi, khususunya yang terkait dengan pembaharuan dalam pembelajaran yang
terjadi pada tingkat sekolah dan kelas.
A. KRONOLOGIS PEMBARUAN PENDIDIKAN
1.
Proses sejarah
pembaruan pendidikan apabila dilihat dari fokus kepentingannya, dapat
ditapaktilas sejak lebih dari seribu tahun lalu(lihat Townsemd &
Otero,2000). Sekitar tahun 1000, boleh dikatakan focus pendidikan sangat
dikaitkan dengan kepentingan kaum aristokrasi, yaitu suatu kepentingan agar
kaum aristokrasi ini mampu memperkuat kekuasaanya, dan mempertahankan hak-hak
istemewa yang melekat pada dirinya sebagai seorang aristocrat. Mereka didik
secara individual atau kelompok kecil oleh tutor atau guru spesialis.
2.
Pada tahun
1850-an, pendidikan dituntut untuk melayani banyak orang. Namun, pelayanan ini
masih terbatas pada pendidikan yang sangat dasar, yaitu yang ditunjukan untuk
menyiapkan anak-anak samapi mereka mencapai umur yang layak untuk bekerja
sebagai buruh, melayani kepentingan local, khususnya kaum pemilik pabrik.
3.
Mulai tahun
1900-an, pendidikan mulai mengalami perubahan pusat perhatian, dari kepentingan
individu dan local, menjadi lebih luas lagi, yaitu kepentingan masyarakat atu
kepentingan nasional. Pelayanan pendidikan semakin beragam sesuai dengan
kepentinganya. Mereka dianggap lebih cocok untuk bekerja sebagai buruh di
pabrik dan di pertambangan diberikan pendidikan dasar. Mereka yang berminat dan
berbakat untuk bekerja dibidang seni, diberikan pendidikan kesenian dan
ketrampilan. Begitu pula mereka yang ingin jadi pemikir atau penemu bidang sain
dan teknologi, dan mereka yang ingin menjadi “boss”, pemimpin atau aristocrat
diberikan pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya.
4.
Sekitar tahun
1980-an, tatkala ekonomi global mulai merebak dan memicu lahirnya pengembangan
teknologi yang berhasil mengubah wajah komunikasi dan pertukaran ilmu
pengatahuan, sekali lagi focus pendidikan mengalami perubahan. Pendidikan
meluas dari kepentingan local menjadi untuk kepentingan nasional. Pendidikan
untuk semua orang menjadi tema era iuni. Berlangsung hingga tahun 2000.
Perubahan darstis dalam
kurikulum tentu saja tidak dapat dielakan guna memenuhi tuntutan pembangunan
ekonomi nasional. Istilah baru yang menambahkan “nasional” bermunculan. Seperti
tujuan nasioanl, kurikulum nasional, standar nasional, system evaluasi, testing
dan ujiuan nasional. Kurikulum mengalami perampingan, agar waktu belajar dan
mengajar dapat difokuskan pada bidang studi yang dinilai menunjang pembangunan ekonomi
nasional.
5.
Berada dalam
melenium kedua, focus pendidikan kembali lagi mengalami perubahan. Focus
pendidikan yang serba nasional ternyata tidak lagi merupakan bekal yang cukup
untuk bersaing, bergaul, dan bekerja sama secara global dan internasional. Isu
yang berkenaan dengan hajat orang, seperti listerasi, kesehatan, lingkungan,
kesejahtraan dan kemakmuran, hak asasi manusia dan hak anak dan kaum wanita
tidak sepenuhnya lagi layak di hadapi secara nasional.
B. TANTANGAN BAGI PENDIDIKAN
Tiada yang abadi, kecuali perubahaan tidak ada yang
lebih cepat daripada perubahan yang cepat. Memasuki era globalisasi dan
perdagangan bebas, pendidikan menjadi sumber kritikan kerena dituding tidak
mampu mengikuti perubahan dan tuntutan sector ekonomi, perdagangan, dan industry.
Oleh karenanya, memasuki millennium kedua dan seterusnya, motto yang pernah
popular di tahun 1970-an, yaitu think
globally and act iccally dianggap sudah tidak sesuai lagi. Di era
globalisasi ini motto itu perlu diperluas
perspektifnya menjadi think and
act both locally and globally. Sejumlah Negara karena kurangnya sumber dan
waktu, akibatnya pembaruan pendidikan terkesan dilakukan secar tambal-sulam.
Tambal-sulam seoerti itu, sudah barang tentu tidak sesuai lagi. Minzey (1981)
mengibaratkan perubahan tambal-sulam itu melalui ungkapnya, seperti berikut
ini. “ that previous education reform had been similar to reanangin the toy in
the box, when what we really needs was a whole new box”
Dengan kata lain, saat ini masalah pendidikan tidak
dapat lagi dibaca semata-mata dari kacamata pendidikan, melainkan harus merujuk
pada isu-isu yang berada di kawasan non pendidikan, hal ini menegaskan kembali
betapa pentingnya pendidikan berbasis yang luas. mengenai betapa luasnya basis
pendidikan. Globalisasi memberikan visibility
yang khusus bahwa pendidikan harus mampu menciptakan knowledge society. Yaitu masyrakat yang berkeyakinan bahwa
pengatahuan dan ketrampilan manusia jauh lebih penting dari pada sumber alam,
material yang melimpah, dan bahkan modal sekalipun.