Halaman

Tampilkan postingan dengan label Balajar Dan Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balajar Dan Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Satuan Kegiatan Layanan : Memahami Gaya Belajar

SATUAN KEGIATAN LAYANAN


Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.
Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi “pintar”. Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.
Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.
Otak Sebagai Pusat Belajar
Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.

Inovasi Pendidikan


PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
            Pendidikan merupakan suatu proses  untuk mengubah tingkah laku dan sekaligus merupakan usaha untuk membantu dan mengarahkan manusia  agar berkembang secara maksimal untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.  Senada dengan hal tersebut Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas  yang mengatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar  peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan, bangsa dan negara.”
Berdasarkan kutipan tersebut di atas, sangat jelas bahwa segala aktivitas pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menciptakan generasi bangsa yang terampil, maju, cerdas, tangguh, profesional, mandiri, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam kondisi sehat jasmani dan rohani. Dalam usaha keseluruhan upaya pendidikan, proses belajar

Minggu, 01 Juli 2012

Contoh RPP IPA : Gravitasi Bumi


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran              :  IPA
Materi pokok                :  Gaya gravitasi
Kelas / Semester           :  V / II
Hari / Tanggal               : 
Waktu                           :

Standar Kompetensi :    
Memahami hubungan antara gaya, gerak, dan energi serta fungsinya.

Kompetensi Dasar     :    
Mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak, dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gerak, gaya magnet).

Indikator                    :     Siswa dapat:
1.      Membandingkan kecepatan jatuh dua buah benda (yang berbeda berat, bentuk, dan ukuran) dari ketinggian.
2.      Menyimpulkan bahwa gaya gravitasi menyebabkan benda bergerak ke bawah.
3.      Memprediksi seandainya tidak ada gaya gravitasi di bumi.

Makalah Implikasi Global Dan Desentralisasi


BAB II
PEMBAHASAN


     1.     IMPLIKASI GLOBALISASI DAN DESENTRALISASI

Pembahasan mengambil dua sisi pandang, yaitu bersifat makro yang sifatnya umum dan lebih banyak memasuki daerah kebijakan atau policy, terutama yang terkait dengan kebijakan pemerintah pada tingkat pusat dan daerah. Pembahsan memalui mikro terutama dikaitkan dengan aspek implemtasi, khususunya yang terkait dengan pembaharuan dalam pembelajaran yang terjadi pada tingkat sekolah dan kelas.

      A.    KRONOLOGIS PEMBARUAN PENDIDIKAN

1.      Proses sejarah pembaruan pendidikan apabila dilihat dari fokus kepentingannya, dapat ditapaktilas sejak lebih dari seribu tahun lalu(lihat Townsemd & Otero,2000). Sekitar tahun 1000, boleh dikatakan focus pendidikan sangat dikaitkan dengan kepentingan kaum aristokrasi, yaitu suatu kepentingan agar kaum aristokrasi ini mampu memperkuat kekuasaanya, dan mempertahankan hak-hak istemewa yang melekat pada dirinya sebagai seorang aristocrat. Mereka didik secara individual atau kelompok kecil oleh tutor atau guru spesialis.
2.      Pada tahun 1850-an, pendidikan dituntut untuk melayani banyak orang. Namun, pelayanan ini masih terbatas pada pendidikan yang sangat dasar, yaitu yang ditunjukan untuk menyiapkan anak-anak samapi mereka mencapai umur yang layak untuk bekerja sebagai buruh, melayani kepentingan local, khususnya kaum pemilik pabrik.
3.      Mulai tahun 1900-an, pendidikan mulai mengalami perubahan pusat perhatian, dari kepentingan individu dan local, menjadi lebih luas lagi, yaitu kepentingan masyarakat atu kepentingan nasional. Pelayanan pendidikan semakin beragam sesuai dengan kepentinganya. Mereka dianggap lebih cocok untuk bekerja sebagai buruh di pabrik dan di pertambangan diberikan pendidikan dasar. Mereka yang berminat dan berbakat untuk bekerja dibidang seni, diberikan pendidikan kesenian dan ketrampilan. Begitu pula mereka yang ingin jadi pemikir atau penemu bidang sain dan teknologi, dan mereka yang ingin menjadi “boss”, pemimpin atau aristocrat diberikan pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya.
4.      Sekitar tahun 1980-an, tatkala ekonomi global mulai merebak dan memicu lahirnya pengembangan teknologi yang berhasil mengubah wajah komunikasi dan pertukaran ilmu pengatahuan, sekali lagi focus pendidikan mengalami perubahan. Pendidikan meluas dari kepentingan local menjadi untuk kepentingan nasional. Pendidikan untuk semua orang menjadi tema era iuni. Berlangsung hingga tahun 2000.
Perubahan darstis dalam kurikulum tentu saja tidak dapat dielakan guna memenuhi tuntutan pembangunan ekonomi nasional. Istilah baru yang menambahkan “nasional” bermunculan. Seperti tujuan nasioanl, kurikulum nasional, standar nasional, system evaluasi, testing dan ujiuan nasional. Kurikulum mengalami perampingan, agar waktu belajar dan mengajar dapat difokuskan pada bidang studi yang dinilai menunjang pembangunan ekonomi nasional.
5.      Berada dalam melenium kedua, focus pendidikan kembali lagi mengalami perubahan. Focus pendidikan yang serba nasional ternyata tidak lagi merupakan bekal yang cukup untuk bersaing, bergaul, dan bekerja sama secara global dan internasional. Isu yang berkenaan dengan hajat orang, seperti listerasi, kesehatan, lingkungan, kesejahtraan dan kemakmuran, hak asasi manusia dan hak anak dan kaum wanita tidak sepenuhnya lagi layak di hadapi secara nasional.

      B.     TANTANGAN BAGI PENDIDIKAN

Tiada yang abadi, kecuali perubahaan tidak ada yang lebih cepat daripada perubahan yang cepat. Memasuki era globalisasi dan perdagangan bebas, pendidikan menjadi sumber kritikan kerena dituding tidak mampu mengikuti perubahan dan tuntutan sector ekonomi, perdagangan, dan industry. Oleh karenanya, memasuki millennium kedua dan seterusnya, motto yang pernah popular di tahun 1970-an, yaitu think globally and act iccally dianggap sudah tidak sesuai lagi. Di era globalisasi ini motto itu perlu diperluas  perspektifnya menjadi think and act both locally and globally. Sejumlah Negara karena kurangnya sumber dan waktu, akibatnya pembaruan pendidikan terkesan dilakukan secar tambal-sulam. Tambal-sulam seoerti itu, sudah barang tentu tidak sesuai lagi. Minzey (1981) mengibaratkan perubahan tambal-sulam itu melalui ungkapnya, seperti berikut ini. “ that previous education reform had been similar to reanangin the toy in the box, when what we really needs was a whole new box”

Dengan kata lain, saat ini masalah pendidikan tidak dapat lagi dibaca semata-mata dari kacamata pendidikan, melainkan harus merujuk pada isu-isu yang berada di kawasan non pendidikan, hal ini menegaskan kembali betapa pentingnya pendidikan berbasis yang luas. mengenai betapa luasnya basis pendidikan. Globalisasi memberikan visibility yang khusus bahwa pendidikan harus mampu menciptakan knowledge society. Yaitu masyrakat yang berkeyakinan bahwa pengatahuan dan ketrampilan manusia jauh lebih penting dari pada sumber alam, material yang melimpah, dan bahkan modal sekalipun.

Minggu, 13 Mei 2012

Pengertian Belajar Dan Pembelajaran


BAB I
PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   PENGERTIAN BELAJAR
1.    Definisi Belajar Pendapat Para Ahli
Banyak ahli yang mengemukakan pengertian belajar. Pertama, Cronbach (1954). Menurut Cronbach, "Learning is shown by change in behavior as result of experience". Belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Dengan pengalarnan tersebut pelajar menggunakan seluruh pancainderanya. Pendapat ini sesuai dengan apa yang dikernukakan oleh Spears (1955), yang menyatakan bahwa "Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction".
Kedua, Morgan dan kawan-kawan (1986), yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagal hasil latihan atau pengalarnan. Pernyataan Morgan dan kawan-kawan ini senada dengan apa yang dikernukakan para ahli yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku disebabkan adanya reaksi terhadap suatu situasi tertentu di dalam diri seseorang. Perubahan ini tidak terjadi karena adanya warisan genetik atau respons secara alarniah, kedewasaan, atau keadaan obat-obatan, rasa takut, dan sebagainya. Melainkan perubahan dalarn permahaman, perilaku, Persepsi, motivasi, atau gabungan dari semuanya.
Seperti halnya para ahli yang menekankan pengalarnan dan latihan sebagal mediasi bagi kegiatan belajar, Woolffolk (1995) juga menyatakan bahwa " learning occurs when experience causes a relatively permanent change in an individual's knowledge or behavior". Disengaja atau tidak. perubahan yang terjadi melalui proses belajar ini bisa saja ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya, kea rah yang salah.
Dan berbagal definisi di atas, kita dapat menemukan kesamaan-kesamaan pengertian yang dikernukakan oleh para ahli psikologi maupun ahli pendidikan. Bedanya, ahli psikologi memandang belajar sebagai perubahan yang dapat dilihat dan tidak peduli apakah hasil belajar tersebut mengharnbat atau tidak menghambat proses adaptasi seseorang terhadap kebutuhan-kebutuhan dengan masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan para ahli pendidikan memandang bahwa belajar adalah proses perubahan manusia ke arah tujuan yang 1ebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.