Rabu, 11 Juli 2012

Inovasi Pendidikan


PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
            Pendidikan merupakan suatu proses  untuk mengubah tingkah laku dan sekaligus merupakan usaha untuk membantu dan mengarahkan manusia  agar berkembang secara maksimal untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.  Senada dengan hal tersebut Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas  yang mengatakan bahwa:
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar  peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan, bangsa dan negara.”
Berdasarkan kutipan tersebut di atas, sangat jelas bahwa segala aktivitas pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menciptakan generasi bangsa yang terampil, maju, cerdas, tangguh, profesional, mandiri, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam kondisi sehat jasmani dan rohani. Dalam usaha keseluruhan upaya pendidikan, proses belajar
mengajar (PBM) merupakan aktivitas yang paling penting karena melalui proses itulah tujuan pendidikan akan tercapai dalam bentuk perubahan tingkah laku siswa.
Dari masa ke masa pembaruan pendidikan selalu mengalami perubahan. Dari basis yang sangat sempit sekedar melayani kepentingan individu tertentu menuju basis yang semakin luas untuk melayani kepentingan lokal, nasional, dan global.
Pada era globalisasi pendidikan dituding tidak mampu mengikuti perubahan dan tuntutan pada sektor ekonomi, perdagangan, dan industri. Pada sejumlah negarakarena kurangnya sumber dan waktu, akibatnya pembaruan pendidikan terkesan dilakukan secara tambal-sulam. Perubahan tambal-sulam dalam pendidikan pasti tidak akan efektif untuk menghadapi isu-isu global, seperti pentingnya perdamaian dan keselamatan dunia, lingkungan yang baik, air dan udara yang bersih, kesehatan dan kemiskinan. Dengan kata lain, saat ini masalah pendidikan tidak dapat lagi di baca semata-mata dari kaca mata pendidikan, melainkan harus merujuk pada isu –isu yang berada di kawasan non pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan  pembahasan dengan judul“Implikasi Globalisasi dan Desentralisasi Terhadap Pendidikan”.
B.      Identifikasi  Masalah
       Berdasarkan masalah-masalah yang dipaparkan dalam latar belakang di atas dapat di identifikasi masalahnya sebagai berikut :
1.      Pada era globalisasi pendidikan dituding tidak mampu mengikuti perubahan dan tuntutan pada sektor ekonomi, perdagangan, dan industri
2.      Kurangnya sumber dan waktu, akibatnya pembaruan pendidikan terkesan dilakukan secara tambal-sulam
3.      Pembaruan secara tambal-sulam mengakibatkan kurangnya kesadaran tentang pentingnya perdamaian dan keselamatan dunia, lingkungan yang baik, air dan udara yang bersih, kesehatan dan kemiskinan

C.      Pembatasan Masalah
       Untuk menghindari penafsiran yang tidak diinginkan dalam memahami maksud dan tujuan pembahasan ini, dirasa perlu untuk mengadakan pembatasan masalah, yaitu  :
1.      Yang menjadi pokok masalah dalam pembahasan ini adalah Implikasi Globalisasi dan Desentralisasi terhadap Pendidikan
2.      Yang dijadikan objek adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah palangkaraya, khususnya ruang B 36 angkatan tahun 2009.

D.      Rumusan Masalah
       Berdasarkan latar belakang di atas penulis mencoba memberikan perumusan masalah guna memperjelas apa yang dikaji dalam bab selanjutnya. Adapun perumusaan masalah dari latar belakang di atas adalah:
1.      Bagaimana cara meningkatkan pendidikan pada era globalisasi agar pendidikan mampu mengikuti perubahan dan tuntutan pada sektor ekonomi, perdagangan, dan industri
2.      Melakukan upaya baru dalam menambah sumber dan waktu, agar pembaruan pendidikan terkesan dilakukan secara terus menerus.
3.      Mencari pembaruan baru dalam pendidikan agar individu sadar tentang pentingnya perdamaian dan keselamatan dunia, lingkungan yang baik, air dan udara yang bersih, kesehatan dan kemiskinan.

E.       Tujuan Pembahasan
       Agar kita dapat   yang ada sekarang, agar para calon-calon guru dapat bersaing dalam memajukan mutu pendidikan di era globalisasi dan sebagai bahan diskusi agar para mahasiswa bias tukar pendapat serta bertambah wawasanya.


F.       Manfaat Pembahasan
       Ada pun mamfaat pembahasan makalah, agar mahasiswa bertambah wawasanya, dan mempersiapkan diri untuk memajukan mutu pendidikan di era globalisasi sekarang.












BAB II
PEMBAHASAN

IMPLIKASI GLOBALISASI DAN DESENTRALISASI

Pembahasan mengambil dua sisi pandang, yaitu bersifat makro yang sifatnya umum dan lebih banyak memasuki daerah kebijakan atau policy, terutama yang terkait dengan kebijakan pemerintah pada tingkat pusat dan daerah. Pembahsan memalui mikro terutama dikaitkan dengan aspek implemtasi, khususunya yang terkait dengan pembaharuan dalam pembelajaran yang terjadi pada tingkat sekolah dan kelas.

A.    KRONOLOGIS PEMBARUAN PENDIDIKAN

1.      Proses sejarah pembaruan pendidikan apabila dilihat dari fokus kepentingannya, dapat ditapaktilas sejak lebih dari seribu tahun lalu(lihat Townsemd & Otero,2000). Sekitar tahun 1000, boleh dikatakan focus pendidikan sangat dikaitkan dengan kepentingan kaum aristokrasi, yaitu suatu kepentingan agar kaum aristokrasi ini mampu memperkuat kekuasaanya, dan mempertahankan hak-hak istemewa yang melekat pada dirinya sebagai seorang aristocrat. Mereka didik secara individual atau kelompok kecil oleh tutor atau guru spesialis.
2.      Pada tahun 1850-an, pendidikan dituntut untuk melayani banyak orang. Namun, pelayanan ini masih terbatas pada pendidikan yang sangat dasar, yaitu yang ditunjukan untuk menyiapkan anak-anak samapi mereka mencapai umur yang layak untuk bekerja sebagai buruh, melayani kepentingan local, khususnya kaum pemilik pabrik.
3.      Mulai tahun 1900-an, pendidikan mulai mengalami perubahan pusat perhatian, dari kepentingan individu dan local, menjadi lebih luas lagi, yaitu kepentingan masyarakat atu kepentingan nasional. Pelayanan pendidikan semakin beragam sesuai dengan kepentinganya. Mereka dianggap lebih cocok untuk bekerja sebagai buruh di pabrik dan di pertambangan diberikan pendidikan dasar. Mereka yang berminat dan berbakat untuk bekerja dibidang seni, diberikan pendidikan kesenian dan ketrampilan. Begitu pula mereka yang ingin jadi pemikir atau penemu bidang sain dan teknologi, dan mereka yang ingin menjadi “boss”, pemimpin atau aristocrat diberikan pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya.
4.      Sekitar tahun 1980-an, tatkala ekonomi global mulai merebak dan memicu lahirnya pengembangan teknologi yang berhasil mengubah wajah komunikasi dan pertukaran ilmu pengatahuan, sekali lagi focus pendidikan mengalami perubahan. Pendidikan meluas dari kepentingan local menjadi untuk kepentingan nasional. Pendidikan untuk semua orang menjadi tema era iuni. Berlangsung hingga tahun 2000.
Perubahan darstis dalam kurikulum tentu saja tidak dapat dielakan guna memenuhi tuntutan pembangunan ekonomi nasional. Istilah baru yang menambahkan “nasional” bermunculan. Seperti tujuan nasioanl, kurikulum nasional, standar nasional, system evaluasi, testing dan ujiuan nasional. Kurikulum mengalami perampingan, agar waktu belajar dan mengajar dapat difokuskan pada bidang studi yang dinilai menunjang pembangunan ekonomi nasional.
5.      Berada dalam melenium kedua, focus pendidikan kembali lagi mengalami perubahan. Focus pendidikan yang serba nasional ternyata tidak lagi merupakan bekal yang cukup untuk bersaing, bergaul, dan bekerja sama secara global dan internasional. Isu yang berkenaan dengan hajat orang, seperti listerasi, kesehatan, lingkungan, kesejahtraan dan kemakmuran, hak asasi manusia dan hak anak dan kaum wanita tidak sepenuhnya lagi layak di hadapi secara nasional.

B.     TANTANGAN BAGI PENDIDIKAN

Tiada yang abadi, kecuali perubahaan tidak ada yang lebih cepat daripada perubahan yang cepat. Memasuki era globalisasi dan perdagangan bebas, pendidikan menjadi sumber kritikan kerena dituding tidak mampu mengikuti perubahan dan tuntutan sector ekonomi, perdagangan, dan industry. Oleh karenanya, memasuki millennium kedua dan seterusnya, motto yang pernah popular di tahun 1970-an, yaitu think globally and act iccally dianggap sudah tidak sesuai lagi. Di era globalisasi ini motto itu perlu diperluas  perspektifnya menjadi think and act both locally and globally. Sejumlah Negara karena kurangnya sumber dan waktu, akibatnya pembaruan pendidikan terkesan dilakukan secar tambal-sulam. Tambal-sulam seoerti itu, sudah barang tentu tidak sesuai lagi. Minzey (1981) mengibaratkan perubahan tambal-sulam itu melalui ungkapnya, seperti berikut ini. “ that previous education reform had been similar to reanangin the toy in the box, when what we really needs was a whole new box”

Dengan kata lain, saat ini masalah pendidikan tidak dapat lagi dibaca semata-mata dari kacamata pendidikan, melainkan harus merujuk pada isu-isu yang berada di kawasan non pendidikan, hal ini menegaskan kembali betapa pentingnya pendidikan berbasis yang luas. mengenai betapa luasnya basis pendidikan. Globalisasi memberikan visibility yang khusus bahwa pendidikan harus mampu menciptakan knowledge society. Yaitu masyrakat yang berkeyakinan bahwa pengatahuan dan ketrampilan manusia jauh lebih penting dari pada sumber alam, material yang melimpah, dan bahkan modal sekalipun.
Titik pandang seperti ini, penting sekali anda hayati. Pandangan ini mengingatkan kita sebagai guru bahwa betapa pun terbatasnya fasilitas, bahan dan alat di sekolah dan kelas yang anda ajar, asal pengetahuan dan keterampilan anda memadai maka kualitas pengajaran yang anda sampaikan masih tetap dapat dipertanggung jawabkan.
Pemberdayaan atau empowerment pendidikan merupakan kebijakan dan tindakan yang amat penting. Dalam era globalisasi, nasib kita ke depan, bukanlah sesuatu yang dapat di tentukan lebih dulu (predetermined), melainkan tergantung pada pilihan kita saat ini, yaitu pilihan yang sesuai dengan proses globalisasi ke depan, termasuk keputusan desentralisasi yang telah menjadi kesepakatan nasional.
Gelombang dan arus deras globalisasi tidak hanya membawa perubahan yang radikal dalam teknologi dan komunikasi, tetapi juga transformasi dalam hubungan antar penduduk di dunia. Difusi ilmu pengetahuan  dan informasi membawa dampak dalam penyebaran kekuatan di antara Negara dan bangsa di dunia. Perubahan yang radikal dalam ilmu pengetahuan dan informasi menciptakan peluang untuk memajukan mutu kehidupan manusia dan masing-masing individunya.
Pendidikan menjadi sentral jika kita menginginkan sukses menghadapi gelombang globalisasi. Bagi sebuah bangsa dan Negara begitu pula bagi warga negaranya, pendidikan merupakan sumber utama pengetahuan untuk mewujudkan keberhasilan dalam era ekonomi informasi baru. Pendidikan yang baik dan kuat merupakan kunci sukses menuju kemakmuran ekonomi dan standar hidup layak dan manusiawi.
Oleh karena itu, mutlak diperlukan kebijakan dan tindakan yang strategis dan efektif untuk mendifusikan ilmu pengetahuan. Difusi ilmu pengetahuan dari seseorang ke oank lainnya tidak akan menyebabkan mengurangi kadar pengetahuan dan mereka yang membantu menyebarkannya. Sebaliknya semakin besar gudang pengetahuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat maka akan semakin baik bagi kehidupan masyarakat dan warganya.
Pengetahuan lebih dari sekedar kendaraan untuk melaju pada jalur ekonomi menuju kemakmuran. Pendidikan juga merupakan kendaraan utama untuk pemberdayaan warga suatu bangsa, untukn mengembangkan institusi demokratis; untuk menciptakan system operasi yang efektif dalam pemerintahan; untuk memerangi ketidakadilan; untuk mengikis kemiskinan dan penyakit; untuk memelihara identitas cultural; dan untuk memperkuat masyarakat yang berbasiskan kekuatan sipil (civil society).

C.    PEMBARUAN PENDIDIKAN PADA TINGKAT MAKRO
Pembaruan pendidikan di Indonesia sudah dilakukan berkali-kali. Ingatkah anda berapa kalikah kita telah memperbarui kurikulum? Sedikitnya enam sampai tujuh kali. Begitu sering dan luasnya pembaruan pendidikan di Indonesia niscaya kotak minzey, tidak akan cukup untuk menampungnya. Penulis mengusulkan perumpamaan lain, yaitu dengan sebuah mobil, pengemudi, penumpang, jalan raya dan rambu-rambunya, serta lingkungan yang di lalui dan tujuan yang akan dicapai.
Ada kesan selama ini, pembaruan pendidikan lebih banyak memusatkan perhatian untuk memperbarui mobil (kurikulum, bahan ajar, system evaluasi, perbaikan dan pengadaan gedung dan alat). Kemudian, melatih pengemudinya (tenaga pendidikan, dan staf administrasi). Penumpang di dalamnya (siswa, orang tua, dan pemakai lulusan) tidak banyak disentuh dalam praktik kependidikan. Penumpang dibiarkan berdesak-desakan di tengah hawa mobil yang pengap, kadang diperburuk lagi oleh asap rokok dari para perokok yang hanya memikirkan kesenangan dirinya tanpa menghiraukan bahaya yang mereka timbulkan terhadap penumpang di sekitarnya.
Terkait dengan tujuan (tujuan pendidikan, tujuan sekolah, tujuan kelas, dam pembelajaran). Masih banyak supir yang tidak tahu ke mana mobil dan penumpangnya akan dibawa. Lebih parah lagi, penumpangnya sendiri belum terbiasa untuk menyampaikan maksud dan tujuan mereka karena berpuluh-puluh tahun mereka terbiasa mengatakan “terserah yang membuat mobil dan pak supir saja”. Para penumpang ini tidak dikondisikan untuk menyampaikan dan menegaskan tujuan mereka dengan terbuka. Maka, apabila :
1.      Kurikulum (mobil) kita tidak layak;
2.      Guru (sopir) kurang berkualitas;
3.      Siswa, orang tua, pemakai tenaga lulusan (penumpang) belum berperan aktif;
4.      Dukungan masyarakat dan pemerintah (jalan raya dan alam sekitar) minim;
5.      Visi, filosofi dan tujuan pendidikan (tempat tujuan) belum terumuskan dan disepakati oleh semua pihak, dapatkah anda membayangkan apa yang bakal terjadi dengan SDM Indonesia?

D.    REFORMASI
Mengumpamakan repormasi pendidikan dengan mobil, supir, penumpang, jalan raya serta lingkungannya, dan tempat yang hendak dituju dalam sebuah perjalan tidaklah dimaksudkan untuk menyederhanakan reformasi pendidikan. Kita semua tahu, mereformasi pendidikan bukanlah suatu upaya yang sederhana. Perumpamaan itu hanya sebatas maksud untuk memvisualisasikan isu-isu pokok dalam pendidikan.

1.      Jalan raya dan lingkungan pendidikan
Sebuah real estate yang bonafide, bijaksana dan berpandangan ke depan, sebelum ia memmbangun rumah, bahkan sebelum melakukan pemasaran, ia membuat sarana jalan, menyiapakan jaringan listrik, telepon, saluran air, dan saluran pembuangan limbah kotoran manusia, serta menata lingkungan sekitarnya supaya kelihatan serasi, menarik, nyaman, dan aman. Bahkan, ada yang mengundang pabrik untuk menyampaikan  saran-saran perbaikan. Jalan raya dan lingkungan yang asri, aman, nyaman dan terkendali dalam kontek pendidikan, dapat diibaratkan system makroyang langsung atau tidak langsung terkait untuk mengembangkan mutu dan pelayanan serta hasil pendidikan.
Bagaiman mungkin pendidikan Indonesia bias berkembangjika kebijakan dan praktik-praktik di tanah air sebagaimana yang dielustrasikan oleh Editorial Media (3 Mei 2001). “ pendidikan di imndonesia adalah kunci dunia yang sepi dan terbuang. Ia seperti ditakdirkan untuk menderita sendirian dan menanggung kemasgulan dari penguasa satu kepenguasa lain. Hal yang amat menyedihkan, direpublik ini dalam kesulitan ekonomi yang amat gawat sekalipun, politik selalu bias dengan mudah menarik orang ramai untuk mendanainya. Sementara itu, pendidikan dalam keadaan ekonomi amat bagus pun, dia tetap dalam papan”.
Tak kurang pentingnya adalah kebijakan dalam merekrut tenaga kerja baik disektor pem,erintah maupun swasta. Kebijakn dan praktek rekrutmen terkesan kolusi dan nepotisme, sungguh merupakn penyakit kangker yang mematikan pendidikan. Seorang lulusan pendidikan yang tidakperlu lagi berbekal ilmu pengatahuan, ketrampilan dan sikap yang terpuji untuk mendapatkan pekerjaan. Sebaliknya yang lulusan dengan hasil yang baik, tidak pernah yakin akan mendapatkan pekerjaan yang ia minati. System dan praktek rekrutmen tenaga kerja cendrung menggunakan pendekatan personal daripada professional, langsung atau tidak langsung telah menjatuhkan kualitas pendidikan.
Begitulah halnya dengan dunia pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia bukanlah semata-mata bersal dari pendidikan sendiri tetapi lebih banyak dan kuat bersal dari lingkungan sekitarnya. Lemahnya dukungan terutama dukungan politik kurangnya kaitan antara kebijakan di bidang ekonomi, keuanganan, investasi, perpajakan, rekrutmen tenaga kerja, system uypah dan penggajihan, pengembangan karier, dengan pendidikan itulah yang menjadi factor mengapa dunia pendidikan sukar berkembang (A. Djalil 1999) 
2.      Pengemudi pendidikan.
Guru dan kepala sekolah adalah pengemudi pendidikan di lapangan. Semestinya mereka ini direkrut dari calon pengemudi yang berbakat,cerdas dan bertanggung jawab. Creby (1970) mengamati teacctive for bright students (profesi gru tidak menarik bagi siswa yang cerdas). Hal yang sama juga diungkapkan dalam Sektor Review (1986). Ketiga SPG masih ada, siswa-siswa yang cerdas dan berbakat jarang yang memilih SPG. Pilihan utama mereka dalah SMA Negri, pilihan kedua SMA swasta yang ternama, pilihan ketiga adalah STM yang sekarang berubah menjadi SMK dan pilihan terakhir baru SPG. Pembaruan pengemudi pendidikan harus dilakukan mutu pendidikan ditingkatkan. Harus ada keputusan politik, keuangan dan anggaran serta ketenagakerjaan yang dimaksudkan untuk menjaring dan menyaring calon tenaga pendidik.
Rekrutmen, seleksi, pelatiahan, dan induksi guru denagan tingkat pedagogical dan life skill yang tinggi merupakan tanggung jawab yang besar bagi suatu bangsa. Profesi guru harus diduduki oleh mereka yang mempunyai pribadi yang terpuji dan merupakn role models bagi kaum muda. Pilihan untuk  perbaikan sesungguhnya sudah jelas jika kita berkaca pada pengalaman masa lalu. Dukungan untuk memperkuat lembaga pendidikan guru hendaklah dijadikan prioritas nasional. Pemerintah harus berani mengambil keputusan untuk investasikan APBD dan APBN, antara lain dalam bentuk TID yang besarnya tidak cukup menarik untuk mendorong kompetesi di kalangan lulusan SMU dan SMK. Memalui TID akan terjaring lulusan yang terbaik yang berminat untuk meneruskan lembaga pendidikan guru.
Kebijakan ini melahirkan guru-guru dan kepala sekolah yang tanggung, dengan mereka lah kita berharap pembaruan pendidikan. Terutama pembaruan pembelajaran dapat terjadi. Dari mereka pulalah kita dapat berharap untuk melahirkan lulusan atau SDM yang juga bermutu tinggi. Dengan SDM yang bermutu tinggi ini pulalah, Indonesia membangun dan mengembangkan sector industry, perdagangan, pertanian dan jasa yang tangguh yang pada giliranya pasti akan meningkatkan GDP dan GNP rakyatnya. Membenahi jalan raya dan lingkunganya, serta mendidik dan melatih para pengemudi harusnya menjadi prioritas utama. Idealnya, bahkan tinggi sklanya daripada sector-sektor lainya.
3.      Mobil.
Dengan jalan raya dan lingkungan yang kondusif dan pengemudi yang tangguh maka dengan mobil (kurikulum, bahan ajar, dan teknik serta media pembelajaran)seadanya pun kita masih dapat berharap penumpangnya akan sampai tujuan. Artinya jika dukungan politik dan kebijakan makro yang diambil oleh pemerintah itu didukung, dan guru-guru kita direkrut dengan cara professional maka betapa punbelum sempurnanya kurikulum, kita masih dapat berharap akan terjadi perubahan yang positif dan signifikan pada anak didik kita. Supir (guru) yang handal bahkan adakalanya mampu memperbaharui mobil (kurikulum) yang ia bawa. Sementara itu, sesuai dengan kemampuan ekonomi secara bertahap kita mulai meng-upgrade mobil (kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran) yang ada dan dengan semakin membaiknya  ekonomi-keuangan, kita mampu membeli mobil-mobilan yang baru (kurikulum yang baru) yang lebih canggih. Bukankah pengalaman telah mengajarkan kepada kita, walaupun mobil (kurikulum dan bahan ajar, dan teknik serta media pembelajaran) yang ada telah kita upgrade berkali-kali, namun dengan kemampuan dasar pengemudinya (guru, kepala sekolah) yang terbatas sehingga saat ini kita menyaksikan hasil yang kita harapkan.
4.      Penumpang dan Tujuan
Penumpang terpenung pertama adalah siswa. Penumpang kedua terpenting adalah orang tua siswa, dan yang terpenting ketiga adalah pemakai lulusan. Supir (guru) yang bijak dan mobil (kurikulum, bahan ajar, dan teknik serta media pembelajaran) yang bagus harus membawa ketiga jenis penumpang ini bersama-sama dalam satu mobil. Dengan demikian, terbuka luas dialog antara penumpang dengan supir dan di antara penumpang itu sendiri. Melalui dialog ini diungkapkan tujuan masing-masing penumpang sehingga supir mengerti tujuan mana yang merupakan tujuan bersama dan tujuan mana pula yang merupakan tujuan yang unik dari masing-masing penumpang. Dari hasil dialog ini dapat diputuskan apakah masih akan menggunakan mobil atau supir yang sudah ada atau memperbaiki mobil atau melatih kembali supir atau mengganti salah satu atau kedua-duanya.
Lahirnya gagasan yang di beri nama dewan pendidikan, komite sekolah, manajemen berbasiskan sekolah (MBS), pada dasarnya dimaksudkan agar dialog yang sehat, konstruktif dan produktif, sebagaimana yang dikemukakan di atas dapat terjadi. Uraian tambahan mengenai MBS ini juga dapat anda baca pada “pembaruan pendidikan pada tingkat mikro”.
Anak didik, orang tua dan pemakai lulusan (penumpang) berharap agar guru (pengemudi) dengan kurikulumm, bahan ajar, dan teknik serta media pembelajaran (mobil) yang dipercayakan kepadanya harus mampu memberikan layanan yang memuaskan, dari segi intelektual, fisikal, emosional, social dan spiritual. Dimensi afektif pengembangan perasaan, harus mendapatkan perhatian yang lebih besar.
Pendidikan harus mampu menjadikan setiap anak didik menjadi calon pemimpin untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Menurut Goh Cok Tong, perdana menteri  singapura, seorang pemimpin yang baik harus mempunyai 5 C yang andal, yaitu Character atau sifat dan tabiat, Capability atau kemampuan professional, Compassion atau perasaan haru, simpati, tidak tega melihat kesusahan, penderitaan, kemelaratan dan kebobrokan, kedinaan (termasuk KKN), Conviction atau pendirian yang teguh (konsisten), dan Commintment atau tekad untuk menepati janji, ikrar atau sumpah ketika ia dilantik sebagai pemimpin.
Sekali lagi, pendidikan dengan basis yang luas sangat diperlukan untuk menghasilkan warga dan calon-calon pemimpin sebagaimana digambarkan oleh Perdana Menteri Singapura.

E.     PEMBARUAN PENDIDIKAN TINGKAT MIKRO
Dengan pengibaratan di muka, mudah-mudahan perencana dan pembuat mobil (pengambil kebijakan, pengembang kurikulum, bahan ajar, teknik dan media pembelajaran) dan pengemudi (kepala sekolah dan guru) akan memperoleh gambaran mengenai bagaimana agar penumpang selamat, puas, damai dan bahagia selama mereka mengikuti dalam perjalanan. Lebih-lebih lagi ketika mereka sampai di tempat tujuan. Lebih lengkap lagi jika mereka merasa tetap puas walaupun mereka telah meninggalkan mobil dan pengemudinya.
1.      Prinsip yang menggarisbawahi pembaruan pembelajaran.
Peran guru dilukiskan sebagai pemimpin, pembimbing, mendorong, membantu, membidani, memilihara, dan mendukung. Kalau peran-peran itu yang harus dilaksanakan oleh guru sebagai pendidik dilaksanakan maka dia layak disebut sebagai pembaru dalam pembelajaran. Kini kita maklumi betapa mulianya tugas sebagai seorang pendidik. Menjuadi guru masa kini perlu memberi bentuk baru dalam hubunganya dengan anak didiknya, yaitu dari bentuk power relationship ke bentuk shared relationship, yaitu dari posisi mengontrol ke posisi kerja sama. Isu yangkritikal dalam pendidikan bukan lagi bagaimana agar guru mampu mengontrol kelasnya, tetapi bagaimana agar anak didik kita terlihat langsung dalam pembelajaran. Ini termasuk prinsip penting sebagai landasan menuju pembaruan pembelajaran.
 Prinsip ini mengingatkan kita bahwa anak didik kita hanya tertarik untuk ikut aktif dalam pembelajaran jika pengajaran kita relevan. Pengajaran yang kita sampaikan hanya akn relevan jika dihubungkan dengan konteks social, di mana kita hidup saat ini. Inilah beberapa kiat bagaimana sebaiknya anda bersikap dan bertindak, agar siswa anda terlibat aktif secara konstruktif dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain bagaimana agar terjadi efektif (Townsed & Otero, 1999).
Pembelajaran terjadi pada puncaknya jika ekspektasi atau harapan dipusatkan pada keberhasilan (lihat juga A. Djalal, 1984).
o   Rasa takut bukanlah pemicu belajar yang efektif.
o   Perubahahan harus diyakini sebagai sesuatu yang selalu mungkin dicapai.
o   Control hanyalah suatu ilusi.
o   Saling tergantung atau “interdependensi merupakan kunci menuju sukses”

2.      Gambaran sekolah masa mendatang.
Townsend (1998) ketika dia membayangkan bagaimana baiknya sekolah di masa mendatang. Saya terjemahkan secara bebas, seperti berikut ini.
“dalam pandangan saya pendidikan terbaik yang kita harapakan bagi anak-anak kita, bagi keluarga kita…adalah pendidikan local, yaitu yang berakar dari masyarakat setempat, dan juga global, yang menyediakan akses terhadap sumber ilmu pengatahuan di seluruh dunia. Pendidikan yang berpijak di masyarakat, di mana saya hidup, tetapi juga menghadirkan sebuah dunia yang menjanjikan kemungkinan yang hanpir tampa batas. Sifatnya education dan juga social. Pendidikan itu memberikan saya butuhkan sekarang dari memungkinkan saya untuk akses lagi, di belakang hari, jika ada ketrampilan yang saya perlukan. Setiap saat, dimana pun saya berada di muka planet ini, saya selalu ditautkan dengan pendidikan. Anak-anak seusia saya, seluruh keluarga saya, tetangga saya, dan teman-teman saya dapat berpartisifasi dengan saya. Kami menginginkan agar sekolah yang terbaik ada didaerah kami. Pendek kata, lembaga yang baru ini menjadi fasilitas masyarakat dan dalam saat tertentu juga digunakan bagi pendidikan anak-anak lembaga pendidikan yang baru ini juga dimaksudkan untuk menggantikan sekolah yang berfungsi sbagai fasilitas masyarakat, yangpada masa lalu hanya dipakai sekaliu-kali untuk pendidikan anak”.
Menurut Townsend dan Otero (1999) pembaruan pendidikan dan pembelajaran hendaknya diduduki di atas empat pilar, yaitu sebagai berikut :
  a.  Pendidikan untuk keberlangsungan hidup.
o   Literasi dan numerasi.
o   Kemampuan teknologi.
o   Ketrampilan komunikasi.
o   Kemampuan dalam menyusun dan mengembangkan rencana.
o   Ketrampilan berpikir kritis.
o   Penyesuaian diri atau adaptability.
b. Pemahaman terhadap kedudukan atau tempat kita di dunia.
o   Tukar-menukar gagasan.
o   Pengalaman kerja dan sikap wiraswata.
o   Kesadaraan dan apresiasi terhadap budaya.
o   Pengembangan social, emosial, dan fisikal.
o   Kemampuan berkreasi.
o   Berwawasan luas dan berpandangan terbuka.
o   Kesadaran bahwa ada hak seseorang untuk menentukan pilihanya.
c.   Pemahaman tentang hakikat masyrakat, yaitu bagaiman diri kita dan lainya saling terkait.
o   Kemampuan untuk bekerja sama suatu tim.
o   Kajian kewarganegaraan.
o   Pengabdian masyarakat.
o   Pendidikan masyarakat
o   Kesadaran global.
o   Mengembangkan asset siswa (misalnya kemampuan, mkecerdasan, hoby yang telah dimiliki siswa)

d.   Pemahaman terhadap tanggung jawab diri, yaitu memahami bahwa setiap anggota masyrakat dunia membawa tanggung jawab dan hak-haknya masing-masing.
o   Kometmen terhadap pengembangan diri melalui proses belajar seumur hidup.
o   Pengembangan system nilai diri.
o   Kemampuan kepemimpinan.
o   Kometmen terhadap pembbangunan masyarakat dan perkembangan global.
o   Kometmen terhadap kesehatan diri dan kesehatan masyrakat.
Sekali lagi anda melihatapa pentingnya pendidikan dengan basis luas. Secara singkat, jika dikaitkan dengan pembaruan pembelajaran maka proses pembelajaran masa kini dan yang akan dating harus diarahkan untuk :
o   Mengembnagkan collaborative learning atau pembelajaran kolaborasi pada tingkat local, nasional dan global.
o   Menerima dan menerapkan konsep belajar seumur hidup.
o   Mengembangkan learning communities of learners (masyarakat yang gemar belajar, bukan sekedar kumpulan para pembelajar).
o   Menekankan keterampilan proses lebih tinggi daripada sekedar penguasaan ilmu lyang psepik, lebih menekankan ketrampilan pada jenjang yang lebih tinggi daripada sekedar penguasaan factual.

3.      Riset tentang pembeljaran yang efektif.
Pembaruan pembelajaran, selain dilandasi oleh prinsip yang filosofis, haruslah juga dilandasi oleh temuan-temuan empiris, yaitu riset yang memusatkan kajianya pada sekolah. Scheerene (dalam Townsend dan Otero, 1990) mengidentifikasi empat kategori besar reset persekolahan.
a.       Mengkaji outcomes pendidikan.
b.      Mengkaji fungsi produksi pendidikan.
c.       Mengkaji sekolah yang efektif.
d.      Mengkaji instruksional yang efektif.
Katagori pertama biasanya mengkaji hubungan antar latar belakang social-ekonomi siswa dengan hasil belajar. Katagorikedua biasanya mengkaji hubungan antara input (sarana, prasarana, alat dan kelengkapan dll) dengan hasil belajar. Katagori ketiga ditujukan untuk membuka kotak hitam atau black box, apakah anda ingat akan guna black box bagi sebuah pesawat ? jika pada pesawat terbang jatuh pasti yang dicari-cari black box karena disitulah terekam informasi mengenai pesawat tersebut jatuh, begitu pula dengan pendidikan. Dikelas lah banyak terekam informasi mengenai mengapa mutu pendidikan dan pengajaran kita kita jatuh terjerembab. Kelas itu di ibaratkan black box. Kategori keempat bahkan lebih dalam lagi memasuki kotak hitam kelas karena memusatkan perhatianya untuk menemukan cara-cara mengajar (instryction strategis) yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar.
4.      Sekolah yang efektif dan berkembang.
Sebagai sekolah yang efektif dan berkembang. Kita harus mengingat ciri-ciri yang disampaikan oleh Caldwell dan Spink itu tidak otomatis sama dengan cirri-ciri yang terkandung dalam pembaruan pembelajaran.Apa yang disampaikan oleh mereka berdua dapat kita pakai sebagai konsep dan cirri yang menggarisbawahi pembaruan pembelajaran.
a.       Kurikulum.
1.      Sekolah mencantumkan dengan jelas tujuan pendidikan yang akan dicapai
2.      Sekolah mempunyai rencana yang baik disertai dengan program yang berimbang dan terorganisasi, ditujukan untuk memenuhi apa yang diperlukan oleh peserta didik.
3.      Sekolah mempunyai program yang dimaksudkan untuk memberikan ktrampilan pada anak didik. Adanya keterlibatan orang tua yang tinggi dalam kegiatan belajar siswa.

b.      Pengambilan keputusan.
1.      Adanya keterlibatan yang tinggi di kalangan staf dalam mengembangkan tujuan sekolah.
2.      Guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
3.      Adanya keterlibatan yang tinggi dari masyrakat dalam pengambilan keputusan

c.       Sumber.
1.      Adanya sumber yang menandai di sekolah sehingga memungkinkan stf untuk mengajar dengan efektif.
2.      Sekolah mempunyai guru yang capable dan bermotivasi tinggi.
3.      Tingkat melanjutkan sekolah tinggi dan daya serap lapangan kerja tinggi.

d.      Hasil belajar.
1.      tingkat drup out rendah.
2.      Nilai tes menunjukan tingkat pencapaian yang tinggi.
3.      Tingkat melanjutkan sekolah tinggi dan daya serap lapangan kerja tinggi.

e.       Kepemimpinan.
Adanya kepala sekolah yang :
1.      Mau bertanggung jawab dan mengelola sumber daya dengan efesien.
2.      Menjamin sumber daya teralokasikan sesuai dan konsisten dengan kepentinganpendidikan.
3.      Respon dan supportive terhadap kepentingan guru.
4.      Peduli dengan perkembangan profesional.
5.      Mendorong keterlibatan staf dalam program pengembangan professional dan menjadikan program ini sebagai peluang bagi guru untuk menguasai keterampilan yang mereka perlukan.
6.      Menaruh perhatian yang tinggi mengenai apa yang sedang terjadi disekolah.
7.      Membangun relasi yang efektif dengan depdiknas atau dinas pendidikan, masyrakat, guru dan siswa.
8.      Mempunyai gaya administrative yag luwes.
9.      Bersedia menanggung resiko.
10.  Memberikan umpan balik yang bermutu pada guru.
11.  Menjamin adanya kaji ulang yang kontinu terhadap program sekolah dan melakukan evaluasi kemajuan program kea rah pencapian tujuan sekolah.
f.       Iklim.
1.      Sekolah mempunyai seperangkat nilai etika-moralitas dan etos yang dianggap penting.
2.      Kepala sekolah, guru dan siswa menunjukan kepedulian dan loyalitas terhadap tujuan sekolah dan nilai-nilai.
3.      Sekolah menjanjikan lingkungna dan suasana yang menyenangkan, menggairahkan, dan menantang bagi guru dan siswa.
4.      Adanya iklim saling menghargai dan saling mempercayai sesame dan di antara guru dan siswa.
5.      Adanya iklim saling mempercayai dan komunikasi yang terbuka di sekolah.
6.      Adanya ekspektasi terhadap semua siswa bahwa mereka akan berlaku sebaik-baiknya. Adanya komutmen yang kuat untuk belajar sungguh-sungguh.
7.      Kepala sekolah, guru dan siswa mempunyai semangat yang tinggi untuk mencapai prestasi balajar yang tinggi.
8.      Adanya morale (semangat juang) yang tinggi di kalangan siswa.
9.      Parta siswa saling menaruh respect terhadap sesamanya dan terhadap barang-barang milik mereka.
10.  Adanya kesempatan bagi siswa untuk mengambil tanggung jawab di sekolah.
11.  Adanya displin yang baik di sekolah.
12.  Jarang sekali ada kejadian yang menuntut staf administrasi senior untuk turun tangan menertibkan pelanggran disiplin yang dilakukan siswa.
13.  Adanya tingkat kemangkiran yamg rendah dikalangan siswa.
14.  Adanya tingkat mengulang kelas yang rendah.
15.  Adanya tingkat kenakalan anak yang rendah.
16.  Adanya morele (semangat juang) yang tinggi bagi guru.
17.  Adanya tingkat per satuan (cohesivesnes) dan semangat yang tinggi di kalngan guru.
18.  Adanya tingkat kemangkiran yang rendah di kalangan guru.
19.  Sedikit sekali permohonan untuk pindah dari guru ke sekolah lain.

5. Ciri-ciri pembelajaran yang disarankan.
Sebagai tambahan ciri-ciri diatas, berikut ini saya sajikan peran sekolah dan guru yang terkait dengan siswa.
a. Memberikan pemahaman mengenai factor-faktor yang berpengaruh di dalam mengembangkan pandangan hidup siswa.
b. Mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang penting guna berpartisipasi dalam proses politik.
c.  Mengembangkan sikap cinta belajar dan mewujudkannya di dalam setiap kegiatan   yang terjadi sepanjang hidup.
d.  Mengembangkan bakat kreatif siswa secara penuh dalam berbagai bidang kesenian.
Khusus yang terkait dengan pengalaman belajar, sekolah dan guru serta pihak yang berkepentingan dengan pendidikan dituntut untuk bekerja sama dalam hal berikut ini.
a.       Menjamin agar semua siswa mengalami dalam penggunaan dan pemahaman makna serta pengembangan bahasa melalui cerita, sajak, drama dan kegiatan lainnya yang terkait.
b.      Menjamin bahwa pembelajaran sedapat mungkin berlangsung melalui pengalaman langsung.
c.       Menyediakan peluang bagi semua siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka.
d.      Memberikan pengalaman bagi siswa yang mempunyai hambatan khusus agar mampu mengatasi hambatan yang mereka miliki.

Khusus yang terkait dengan manajemen sekolah, kepala sekolah dan guru disarankan untuk:
a.       Menyediakan berbagai peluang bagi orang tua siswa untuk melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sekolah;
b.      Mengembangkan system penghargaan sesuai dengan umur siswa sebagai pengakuan atas prestasi istimewa yang mereka capai;
c.       Mengelola sekolah dengan cara-cara yang merefleksikan keberlangsungan keterlaksanaan kurikulum;
d.      Menciptakan cara-cara agar pemberian informasi kepada orang tua mengenai hal-hal yang terkait dengan sekolah dan kemajuan siswa dapat berlangsung secara teratur.

F.     Mengenal anak didik
Tak salah lagi, guru yang bijak merasa wajib untuk mengenal siswa dengan baik. Tanpa itu, amat sulit bagi anda untuk membuat keputusan yang terkait dengan pembelajaran yang akan anda pilih. Uraian berikut ini diambil dari Dot Walker (1995) sebagai bahan pertimbangan bagi anda.
1.      Pertanyaan salah tatau betul.
a.       Keberagamaan atau diversity adalah kreatif?
b.      Ethnicity adalah sesuatu yang berkaitan dengan di mana anda tinggal?
c.       Diskriminasi perlu ditantang?
d.      Pengajaran hendaknya sebagai respons terhadap konteks social dan cultural?
e.       Warga Negara yang aktif dan informed (mempunyai informasi yang benar dan lengkap) adalah yang mengerti mengenai politik dan pemerintah?
f.       Anak didik yang cacat tidak belajar sebaik anak-anak yang normal?
g.      Para guru perlu menghadapi tantangan (challenge) dan mempunyai harapan yang realistis terhadap semua siswa?
h.      Satu bagian terpenting dalam pembelajaran adalah menjadikan siswa mampu dalam merespons perubahan yang terjadi?

2.      Gaya belajar
Jika anda amati dengan saksama bagaiman siswa-siswa anda nbelajar maka anda sampai pada empat gaya belajar.
a.       Active learners atau pembelajaran aktif
Siswa yang termasuk kategori ini tidak suka menggunakan buku petunjuk. Mereka lebih senang mencari sendiri, trial and error, coba-coba, bagaimana mengoperasikan alat tersebut.
b.      Structured learnersatau pembelajaran terstruktur
Siswa termasuk kategori ini mengikuti satu per satu, langkah demi langkah sebagaimana yang tercantum dalam manual.
c.       Pembelajaran personal
Siswa termasuk kategori ini lebih senang belajar dengan cara berbincang-bincang dan bertanya pada orang lain.ia memerlukan seseorang berada di sampingnya.
d.      Pembelajaran terfokus
Siswa kategori ini senang dengan adanya tantangan. Dengan atau tanpa menggunakan manual ia ingin melakukan sesuatuyang memukau, di luar dugaan.






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Tiada yang abadi selain perubahan tidak ada yang lebih cepat selain perubahan. Memasuki era globalisasi dan perdaganan bebas, pendidikan menjadi sumber kritikan kerena dituding tidak mampu mengikuti perubahan dan tuntun sector ekonomi, perdagananserta industry. Dengan kata lain masalah pendidikan tidak dapatlagidibacasemata-matadarikacamatapendidikan, melainkanharusmerujukpadaisu-isu yang berada di bawah non pendidikan.
Globalisasi memberikan visibility yang khusus bagi pendidikan. Globalisasi juga menyampaikan pesan khusus bagi pendidikan harus menciptakan knowledge society, yaitu masyarakat yang berkeyakinan bahwa pengatahuan dan keterampilan manusia jauh lebih penting dari pada sumber alam, material yang melimpah, dan bahkan modal sekalipun.


B.      Saran
Untuk menciptakan mutu pendidikan kita harus menerima globalisasi dan desentralisasi dari untuk kemajuan mutu pendidikan bangsa kita, tetapi kita harus menyaringnya sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa kita.


1 komentar: