Minggu, 13 Mei 2012

Pengertian Belajar Dan Pembelajaran


BAB I
PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   PENGERTIAN BELAJAR
1.    Definisi Belajar Pendapat Para Ahli
Banyak ahli yang mengemukakan pengertian belajar. Pertama, Cronbach (1954). Menurut Cronbach, "Learning is shown by change in behavior as result of experience". Belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Dengan pengalarnan tersebut pelajar menggunakan seluruh pancainderanya. Pendapat ini sesuai dengan apa yang dikernukakan oleh Spears (1955), yang menyatakan bahwa "Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction".
Kedua, Morgan dan kawan-kawan (1986), yang menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagal hasil latihan atau pengalarnan. Pernyataan Morgan dan kawan-kawan ini senada dengan apa yang dikernukakan para ahli yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku disebabkan adanya reaksi terhadap suatu situasi tertentu di dalam diri seseorang. Perubahan ini tidak terjadi karena adanya warisan genetik atau respons secara alarniah, kedewasaan, atau keadaan obat-obatan, rasa takut, dan sebagainya. Melainkan perubahan dalarn permahaman, perilaku, Persepsi, motivasi, atau gabungan dari semuanya.
Seperti halnya para ahli yang menekankan pengalarnan dan latihan sebagal mediasi bagi kegiatan belajar, Woolffolk (1995) juga menyatakan bahwa " learning occurs when experience causes a relatively permanent change in an individual's knowledge or behavior". Disengaja atau tidak. perubahan yang terjadi melalui proses belajar ini bisa saja ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya, kea rah yang salah.
Dan berbagal definisi di atas, kita dapat menemukan kesamaan-kesamaan pengertian yang dikernukakan oleh para ahli psikologi maupun ahli pendidikan. Bedanya, ahli psikologi memandang belajar sebagai perubahan yang dapat dilihat dan tidak peduli apakah hasil belajar tersebut mengharnbat atau tidak menghambat proses adaptasi seseorang terhadap kebutuhan-kebutuhan dengan masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan para ahli pendidikan memandang bahwa belajar adalah proses perubahan manusia ke arah tujuan yang 1ebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.


2.    Ciri-ciri Belajar
Dari beberapa definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar, yaitu :
a.    Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior). Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terarnpil menjadi terarnpil. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan dapat mengetahui ada tidaknya hasil belajar.
b.    Perubahan perilaku relative permanent. Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang tejadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah. Tetapi, perubahan tingkah laku tersebut tidak akan terpncang seumur hidup.
c.    Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diarnati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial
d.   Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalarnan.
e.    Pengalarnan atau latihan itu dapat mernberikan penguatan. Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.
3.    Prinsip-prinsip Belajar
Di dalarn tugas melaksanakan proses belajar mengajar, seorang guru perlu memperhatikan beberapa prinsip belajar berikut:
a.    Apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu, siswalah yang harus bertindak aktif.
b.    Setiap siswa belajar sesual dengan tingkat kernarnpuannya.
c.    Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selarna proses belajar
d.   Penguasaan yang sernpurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan mernbuat proses belajar lebih berarti.
e.    Motivasi belajar siswa aan lebih meningkat apabila ia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya.

B.   BELAJAR SEBAGAI PERUBAHAN TINGKAH LAKU
Para pakar aliran Behavioristik melihat belajar adalah perubahan tingkah laku dan tingkah laku tersebut dapat diurai jenis atau ranah (domain) dan jenjang tingkatan (taxon). Selama bertahun-tahun terutarna di era penerapan PPSI (Pendekatan Prosedur Sistern Instruksional), pandangan ini sangat dominan mempengaruhi praktik
pembelajaran di Indonesia. Sekalipun sebagian pakar pendidikan menentang pendekatan ini karena dinilai lebih bersifat admimistratif dan mereduksi pendidikan menjadi pengajaran, tetapi dalam beberapa hal pendekatan ini juga memiliki kelebihan di antaranya proses belajar dan pembelajaran lebih mudah dirancang dan dievaluasi.
1.    Belajar dan Perubahan Tingkah Laku
Salah satu definisi modern tentang belajar menyatakan bahwa belajar adalah "Pengalaman terencana yang membawa perubahan tingkah laku" (Gintings, 2005). Senada dengan ini, maka pembelajaran berarti juga memotivasi dan menyediakan fasilitas agar terjadi proses belajar pada diri si pelajar.
Dari pengertian ini pula maka berarti guru bertanggung jawab dalam :
a.    Mengidentifikasi perubahan tingkah laku yang di inginkan
b.    Menyusun sumber-sumber belajar termasuk isi dan media instruksi untuk menyedikan suatu pengalaman dari mana siswa akan memperoleh kesempatan untuk mengubah tingkah lakunya.
c.    Menyelenggarakan sesi pembelajaran (kegiatan belajar pembelajaran).
d.   Mengevaluasi apakah perubahan tingkah laku telah tercapai, dan bila sudah menilai kualitas dan kuantitas perubahan tersebut.
Dari uraian ini ada dua dimensi pembelajaran yang harus benar-benar dipahami dan dihayati oleh seorang guru yakni :
a.    Guru harus menetapkan perubahan tingkah laku yang harus dicapai siswa dan merencanakan pengalaman yang akan dilalui oleh siswa untuk mencapai perubahan tersebut.
b.    Pada kenyataannya, siswa harus menjadikan perubahan tingkah laku tersebut menjadi keinginannya sendiri sebelurn mereka siap untuk belajar.
Dengan singkat dapat pula dinyatakan bahwa proses pembelajaran akan berlangsung pada setiap kali guru menetapkan bahwa tingkah laku siswa perlu mengalami perubahan dan siswa tersebut berusaha mencapai perubahan itu. Ini berarti bahwa guru dapat menyediakan prasarana dan sarana formal, tetapi siswa harus memiliki motivasi dan keinginan untuk belajar.
2.    Ranah Tingkah Laku Menurut Bloom
Bloom berpendapat, tingkah laku dapat dibedakan atas tiga ranah (domain) pengetahuan (cognitive), keterampilan (psychomotoric), dan sikap (affective).
Jika pendapat Bloom ini kita terapkan dalam menerapkan tujuan proses belajar pembelajaran, maka ada tiga "Domain" tingkah laku yang secara terpisah atau panduannya yang harus diidentifikasi, dicapai, dan dievaluasi dalam kegiatan belajar pembelajaran.
Tingkah Laku Awal
- Pengetahuan
- Keterampilan
- Sikap

Tingkah Laku Akhir
- Pengetahuan +
- Keterampilan +
- Sikap +



Gambar 1.1 Kegiatan Belajar Pembelajaran dan Perubahan Tingkah Laku

3.    Taksonomi Tinakah Laku
Di samping membedakan tingkah laku atas tiga ranah seperti dijelaskan di atas, Bloom juga membedakan tingkah laku atas tingkatan atau taksonomi. Tingkatan ini dapat dijadikan pedornan bagi guru dalarn menetapkan tujuan instruksional yang akan dicapai melalui kegiatan belajar pembelajaran yang direncanakan. Dengan kata lain, guru dapat menetapkan pada tingkah mana perubahan tingkah laku dalam ranah pengetahuan dan keteramplian diharapkan dapat dicapai siswa melalul pengalaman belajar yang direncanakan. Tabel. 1.1 berikut im memperlihatkan peta tingkatan dari tingkah laku untuk ranah pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Tabel 1.1
Taxonomi Tingkah Laku
Cognitive (Thinking)
Psychomotor (Doing)
Affective (Feeling)
1.  Knowledge
1. Perception
1.  Receiving (attending)
2.  Comprehension
2. Guided
2. Responding
3.  Application response
3. Guided Mechanism
3. Valueing
4.  Analysis

4. Complex over response
by value or value
complex
4. Organisation of Values
5.  Synthesis
5. Orginating
5. Characterisation
6.  Evaluation



Perlu diingat, bahwa tingkatan tingkah laku tertentu baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap merupakan akumulasi tingkatan fingkah laku pada jenjang di bawahnya.
Dengan demikian dapat dinvatakan bahwa :
a.         Seseorang yang telah mencapai tingkah laku tertentu dapat dipastikan menguasai tingkatan sebelumnya.
b.        Untuk menguasai tingkatan tingkah laku tertentu tidak dapat dilakukan dengan melompat jenjang yang ada di bawahnya.

4.    Mengidentifikasi dan Proses Pengubaban Tingkah Laku
Mengidentifikasi perubahan tingkah laku yang harus dicapai dapat dimulai dengan melakukan Training Need Analysis atau Analisis Kebutuhan Pelatihan. Gambar. 1.2 memperlihatkan diagram alur (fow chart) proses mengidentifikasi tingkah laku vang akan diubah dikuti dengan proses perancangan, penyelenggaraan, dan evaluasi kegiatan belajar dan pembelajaran.
Tingkah Laku yang Diharapkan

Evaluasi dan Umpan Bak




Analisis Kebutuhan
Belajar dan
Pembelajaran


Hasil Belajar





Gap/Perbedaan
-    Isi
-   Strategi
-   Sumberdaya
-   Manajemen
-   Lingkungan

Proses Belajar dan
Pembelaiaran




















Tingkah Laku
Saat ini



Rencana Penyelenggaraan Pembelajaran :









-          Isi
-          Metode
-          Alat Bantu
-          Evaliasi










Gambar 1.2 Identifikasi tingkah laku yang akan diubah

C.   TUJUAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Ditinjau secara umum, maka tujuan belajar itu ada tiga jenis, yaitu
a.    Untuk mendapatkan pengetahuan
b.    Penanaman konsep dan keterampilan
c.    Pembentukan sikap
Jadi pada intinva, tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampian dan penanaman sikap mental/nilal-nial. Pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan, hasil belajar. Relevan dengan uraian mengenal tujuan belajar tersebut, hasil belajar itu meliputi :
a. Hal ihwal keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif);
b. Hal ihwal personal, kepribadian atau sikap (afektif);
c. Hal ihwal kelakuan, keterampilan atau penamplian (psikomotonik).
Ketiga hasil belajar di atas dalam pengajaran merupakan tiga hal yang secara perencanaan dan programatik terpisah, namun dalam kenyataannya pada diri siswa akan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Ketiganya itu dalam kegiatan belajar mengajar, masing-masing direncanakan sesuai dengan butir-butir bahan pelajaran (content). Karena semua itu bermuara kepada anak didik, maka setelah terjadi proses internalisasi, terbentuklah suatu kepribadian yang utuh. Dan untuk itu semua, diperlukan sistem lingkungan yang mendukung.

























BAB II
KARAKTERISTIK BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   KOMPLEKSITAS BELAJAR & PEMBELAJARAN
Belajar dan pembelajaran adalah proses yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk memahami dan meningkatkan cara pembelajaran guru harus; memahami faktor-faktor tersebut yang diantaranya adalah:
1.    Pengaruh Budaya
Setiap budaya memiliki suatu bentuk tertentu dart proses pendidikannya baik formal maupun yang informal. Bagaimanapun salah satu tujuan utama pendidikan adalah melestarikan budaya.
Proses pelestarian budaya ini dapat dilihat disemua kelompok masyarakat. Masyarakat kesukuan (Tribal) menjaga agar budaya dan tradisi dilestarikan melalui berbagai bentuk pendidikan seperti upacara adat, lagu, tarian, seni dan melalui pendidikan informal khusus oleh para orang tua dan sesepuh. Sementara itu masyarakat barat aktif dalam proses pelestarian budaya melalui sekolah formal, instruksi informal, dan melalui bentuk lain seperti norma sosial, dan media lainnya.
2.    Pengaruh Sejarah
Pendidikan adalah hasil dari suatu perkembangan sejarah. Perkembangan ini biasanya berasal dari suatu "setting:" budaya sehingga mengandung bias budaya (metode pembelajaran misalnya) dan berkaitan erat dengan reproduksi budaya. Sejarah pendidikan Indonesia juga dipengaruhi oleh sejarah panjang kehidupan bangsa Indonesia itu sendiri. Ketika zaman kerajaan Hindu dan Budha, inti pendidikan yang diberikan kepada masyarakat adalah pendidikan tentang ajaran kedua agama tersebut yang tentu saja disertai dengan literasi alau baca tulls. Kemudian, hubungan dagang dengan bangsa yang beragama Islam di antaranya bangsa Gujarat telah menhadirkan agama Islam di nusantara bersama aspek-aspek pendidikannya. Istilah mandala yang merupakan padepokan belajar yang digunakan oleh agama Hindu dan Budha, kemudian diadopsi oleh para wali dalam menyelenggarakan pendidikan agama Islam dengan nama pesantren.
Kedatangan bangsa Belanda yang diikuti dengan kolonisasi serta "Politik Balas Budi" telah menjadi tonggak awal diterapkannya secara terbuka pendidikan formal model Barat di Indonesia sekalipun dalam skala terbatas dan diskniminatif. Tentu saja,
kolonialisme Barat int telah menanamkan gaya belajar dan pernbelajaran tertentu pula dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia penerapan teori-teori belajar dan pembelajaran dari dunia Barat seperti paham Stimulus-Response, Teori Gestalt, dan lain sebagainya. Penjajahan Jepang dalam penerapan disiplin gaya militerisme. Upacara bendara dan penggunaan seragam di sekolah adalah salah satu contoh pengaruh pendidikan aspek sikap model Jepang.
Banyak lagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang semua baik langsung maupun tidak langsung berkontribusi kepada pendekatan belajar dan pembelajaran di negeri ini. Adanya perjalanan sejarah yang agak berbeda antar daerah di Indonesia juga mempengaruhi cara dan sikap, belajar dari satu daerah ke daerah lainnya di nusantara.
3.    Hambatan Prakfis
Manusia hidup di dunia yang kurang ideal dan dalam banyak hal manusia dapat berbuat justru akibat dari kekurangidealan tersebut. Terdapat banyak hambatan praktis yang ditemui dalam proses belajar pembelajaran. Guru dibatasi o1eh waktu, sumber dan fasilitas. Guru juga dibatasi oleh undang-undang dan aturan yang harus di indahkan. Tidak jarang guru dibatasi idealismenya dalam belajar dan pembelajaran oleh kekakuan birokrasi dan manajemen.
4.    Karakteristik Guru sebagai Guru
Banyak hal yang mempengaruhi guru sehingga merniliki kepribadian tertentu yang unik. Lingkup budaya di mana guru berkembang, masyarakat di mana guru hidup, pengaruh keluarga, pengaruh agama yang dianut, pengalaman akademis, pengalaman kerja, serta genetika atau pengaruh bawaan yang membentuk cara berpikir guru, semua akan membentuk gaya dan cara guru dalam pembelajaran. Setiap guru memiliki kepribadian walaupun dalam beberapa hat membantu dalam menyelenggarakan pembelajaran walaupun dalam beberapa aspek mungkin pertu dimodifikasi.
5.    Karakteristik Siswa
Disadari atau tidak disadari, salah satu kegiatan pra belajar dan pembelajaran adalah mengidentifikasi karakteristik awal siswa. Karakteristik awal siswa meliputi berbagai aspek seperti : bahasa, latar belajar akademis, usia dan tingkat kedewasaan, latar belakang budaya, tingkat pengetahuan serta keterampilan yang mungkin rnerupakan syarat awal atau "prerequisite" bagi pelajaran yang akan disajikan. Oleh sebab itu, karakteristik individual siswa dapat dan harus dildentifikasi. Begitu juga karakteristik umurn kelompok atau kelas harus dipaharm oleh guru sebelum memulai
program belajar dan pembelajaran.



6.    Proses Belajar
Aspek ini berkaitan dengan proses kognitif aktual yang harus dilalui o1eh siswa dalam rangka mencapai keberhasilan belajar. Ini berlangsung melalui proses penyerapan gagasan dan keterampilan baru metalui kegiatan belajar dan pembelajaran berupa pengingatan dalarn waktu yang singkat (Short-Term Memory) kemudian menyimpan informasi yang diterima agar kelak dapat diamakan kembali.
Bagaimanapun proses belajar adalah rumit atau kompleks karena mencakup penggunaan panca Indera (lihat, dengar, cium, sentuh, dan rasa) dan proses kognitif dari pengingatan, pemecahan masalah, dan reasoning. Oleh sebab itu, kondisi fisik dan psikologis harus dipertimbangkan dalarn pengelolaan belajar dan pembelajaran. Dan sudut pandang psikologis, tingkat kesuhtan materi belajar ranah pengetahuan yang diberikan harus dirancang dengan mempertimbanakan perkembangan intelektual siswa. Begitu juga dalam belajar dan pembelajaran ranah psikomotorik atau keterampilan, pertumbuhan fisik siswa merupakan salah satu rujukan dalam memilih kegiatan praktik yang akan diberikan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan.

B.   FAKTOR UTAMA YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PEMBELAJARAN
Telah dipahami bagaimana kompleknya proses belajar dan pernbelajaran karena menyangkut berbagai faktor baik yang berasal dari diri guru, berasal dan diri siswa, serta yang berasal diri dari guru, berasal dari diri siswa, serta yang berasal dan luar keduanya baik yang bersifat makro atau prinsip maupun mikro atau operasional dan praktis. Oleh sebab itu, sebelum guru menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran, ada empat pertanyaan mendasar yang harus diajukan kepada dan dijawab oleh guru sendiri.
Keempat pertanyaan tersebut adalah
•   Apa yang akan diajarkan ?
•   Siapa yang akan belajar ?
•   Bagaimana mereka belajar ?
Setelah guru memperoleh jawaban atas ketiga jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut selanjutnya berdasarkan jawaban itu jawablah pertanyaan keempat yaitu :
•   Baimana saya harus menyelenggarakan pembelajaran ?
Jawaban yang tepat atas pertanyaan terakhir ini akan membantu keberhasilan guru dalam menyelenggarakan belajar dan pembelajaran karena sesuai dengan tujuan
yang temuat di dalam kurikulum dan sesuai dengan aspek-aspek kepribadian siswa. Dengan demikian, dapat diharapkan akan terjadi kesalahan belajar dan pembelajaran yang kondusif bagi pencapaian tujuan belajar dan pembelajaran.
C.   PRINSIP-PRINSIP DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Agar kegiatan belajar dan pembelajaran berhasil mengantarkan siswa mencapai tujuan pelajaran, maka salah satu faktor yang harus dipahami oleh guru adalah prinsip belajar. Berikut ini akan diketengahkan rangkuman dari beberapa prinsip belajar tersebut.
1.    Pembelajaran adalah memotivasi dan memberikan fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri.
2.    Pepatah Cina mengatakan, saya dengar saya lupa, saya lihat saya ingat, dan saya lakukan saya paham.
3.    Semakin banyak alat deria atau indera yang diaktifkan dalam kegiatan belajar semaki banyak informasi yang terserap.
4.    Belajar dalam banyak hal adalah suatu pengalaman. Oleh sebab itu, keterilibatan siswa merupakan satu di antara faktor penting dalarn keberhasilan belajar.
5.    Materi akan lebih mudah dikuasai apabila siswa terlibat secaraa emosional dalam kegiatan belajar pembelajaran. Siswa akan terlibat secara emosional dalam kegiatan belajar pembelajaran jika pelajaran adalah bemakna baginya.
6.    Belajar dipengaruhi oleh motivasi dari dalam (intrinsik) dan darli luar dirl (ekstrinsik) siswa.
7.    Semua manusia termasuk siswa, ingin dihargai dan dipuji. Penghargaan dan pujian merupakan motivasi instrinsik bagi siswa.
8.    Makna pelajaran bagi diri sendiri merupakan motivasi dalam yang kuat sedangkan faktor kejutan (faktor "Aha") merupakan motivasi luar yang efektif dalam belajar.
9.    Belajar "Is enhanced by challenge and and inhibited by Threat".
10.    Setiap otak adalah unik. Karena itu setiap siswa memiliki persamaan dan perbedaan cara terbaik untuk memahami pelajaran.
11.    Otak akan lebih mudah merekam input jika dalam keadaan santai atau rileks dan'pada dalam keadaan tegang.






BAB III
UNSUR-UNSUR DINAMIS BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   DINAMIKA GURU DALAM PEMBELAJARAN
Guru dalam pembelajaran berperan mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan kepada siswa.
Guru adalah subjek pembelajar siswa untuk itu guru berhubungan langsung dengan siswa. Guru memiliki peranan penting dalam acara pembelajaran.
Peranan guru tersebut dirumuskan Dimyati, (2006 : 37) antara lain :
a).   Membuat desain pembelajaran secara tertulis, lengkap dan menyeluruh
b).   Meningkatkan diri untuk menjadi seorang yang berkepribadian utuh
c).   Bertindak sebagai guru yang mendidik
d).   Meningkatkan profesionalitas keguruan
e). Melakukan pembelajaran sesuai dengan berbagai model pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi siswa, bahan belajar, dan kondisi sekolah seternpat. Penyesuaian tersebut dilakukan untuk peningkatan mutu belajar.
f).    Dalam berhadapan dengan siswa, guru berperan sebagal fasilitas belajar, pembimbing belaiar dan pemberi balikan belajar.
Sementara secara lebih lengkap tugas guru dalam proses belajar mengajar menurut Usman, (2008 : 9), adalah sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator dan konselor.
Menurut Mulyasa, (2008 : 37) dapat diidentifikasi sedikitnva ada 19 peranan guru berdasarkan kajian Pillias dan Young (1988), Manan (1990), serta Yelon dan Weinstein (1997) yaitu guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pernindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.
Jadi guru sebagai subjek pembelajar memiliki peranan atau tugas yang banyak- dan memerlukan keahlian khusus serta berperan penting dalam menentukan gerak maju kehidupan di bidang pendidikan maupun di masyarakat.


B.   DINAMIKA SISWA DALAM BELAJAR
Siswa yang belajar berarti menggunakan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik terhadap lingkungannya. Ada beberapa ahli yang mempelajari' ranah-ranah tersebut dengan hasil penggolongan kemampuan-kemampuan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik secara hierarkis. Salah satu hasil penggolongan tentang kategon perilaku hasil belajar adalah taksonomi Bloom, yang dikemukakan oleh Berlyamin Bloom dan kawan­-kawan. Kebaikan taksonomi Bloom terletak pada rincinya jenis perilaku yang terkait dengan kernampuan internal dan kata-kata kerja operasional. Jenis perilaku tersebut dipandang bersifat hierarkis.
Secara ringkas menurut Budiningsih, (2005 : 75-76) ketiga ranah taksonomi Bloom tersebut adalah sebagal berikut :
Ranah kognitif Bloom terdin' dari enam jenis perilaku, yaltu
1.    Pengetahuan, mencapai kernampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan yang berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip atau metode.
2.    Pemahaman, mencakup kernampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
3.    Penerapan/aplikasi, mencakup kernarnpuan menerapkan rnetode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya menggunakan prinsip.
4.    Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5.    Sintesis, mencakup kernampuan rnembentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program kerja.
6.    Envaluasi, mencakup kemampuan meniai berdasarkan norma.
     Ranah afektif Bloom terdirl darl lima perilaku-perilaku sebagai berikut:
1.    Penerirnaan/pengenalan, mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut. Misalnya kemampuan mengakui adanya perbedaan­perbedaan.
2.    Partisipasi/merespon, mencakup kerelaan, kesediaan mernperhatikan dan berpartisipasi dalarn suatu kegiatan. Misalnya mematuhi aturan dan berpartisipasi dalarn suatu kegiatan.
3.    Penilaian/penghargaan dan penentuan sikap, mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap. Misalnya menerima suatu pendapat orang lain.
4.    Perigorganisasian, rnencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Misalnya menempatkan nilai dalam suatu skala nilai dan dijadikan pedoman bertindak secara bertanggungjawab.
5.    Pembentukan pola hidup/pengamalan, mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi. Misalnya kernampuan mempertimbangankan dan menunjukkan tindakan yang berdisiplin.
Ranah psikornotor Bloom terdirl darl tujuh perilaku, yaitu :
1.    Persepsi, mencakup kemampuan memilah-milah (mendiskriminasikan) hal-hal secara khas dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut. Misalnya memilah warna, angka dan huruf.
2.    Kesiapan, mencakup kemampuan penempatan diri dalarn keadaan di mana akan terjadi suatu gerakan atau rangkalan gerakan. Kemampuan ini mencakupi jasmani dan rohani.
3.    Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh atau gerakan peniruan.
4.    Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh.
5.    Gerakan kompleks, mencakup kemampuan mclakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancar, efisien dan tepat.
6.    Penyesualan pola gerakan, mencakup kernampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku
7.    Kreativitas, mencakup kernampan melahirkan pola gerak-gerik yang baru atas dasar prakarsa sendiri.
Siswa yang belajar berarti memperbaiki kemampuan-kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik. Dengan meningktnya kernampuan-kemampuan tersebut maka keinginan, kemauan atau perhatian pada lingkungan sekitarnya makin bertambah.









BAB IV
TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   TEORI BELAJAR DESKRIPTIF DAN TEORI PRESPEKTIF
Teori deskriptif dan teori preskriptif dikemukakan oleh Bruner. Bruner mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah presktiptif dan teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal dan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah mejeIaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar atau bagaimana seseorang belajar. Teori Pernbelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi hal belajar atau upaya mengontrol variabel-variabel yang dispesifikasi dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar (Budiningsih, 2005 : 11).
Teori pembelajaran yang deskriptif menempatkan variabel koridisi dan metode pembelajaran sebagai given dan memerikan basil pernbelajaran sebagai variabel yang diamati. Atau, kondisi dan metode pembelajaran sebagai variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel terikat. Sedangkan teori Pembelajaran yang prespektif, kondisi dan hasil pembelajaran ditempatkan sebagai given clan metode yang optimal ditempatkan sebagai variabel yang diamati.
Teori prespektif adalah goal oriented (untuk mencapai tujuan), sedangkan teori
deskriptif adalah goal free (untuk memerikan hasil). Variabel yang diamati dalam pengembangan teori-teori pembelajaran yang prespektif adalah metode yang optimal, untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori-teori pembelajaran deskriptif variabel yang diamati adalah hasil sebagai efek dari interaksi antara metode dan kondisi.

B.   TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
1.    Pengertian Belajar Menurut Pnadangan Teori Behavioristik
Teori behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus clan respon. Seseorang dianggap telah belajar jika iya telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku (Budiningsih, 2005 : 3)
Pandangan behavioristik mengatakan pentingnya masukan (input) yang berupa stimulus dan keluaran (output) yang berupa respons. Apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur, tetapi yang bisa diarnati dan diukur hanyalah stimulus clan respons.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons akan tetap menguat. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorridike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktifitas mimetik yang menuntut stswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pernbelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil dan evaluasi menuntut jawaban benar. Jawaban yang benar rnenunjukkan bahwa siswa telah menyelesalkan tugas belajanya.
2.    Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saia yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut rnaka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud konkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang tidak dapat diarnati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran Koneksionisme (Coymechonism).
3.    Teori Belajar Menurut Watson
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus clan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat
diamati (observabeo) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya
perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tidak perlu diperhitungkan. la tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diarnati.
Watson adalah seorang behavioris mumi, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat diramalkan per-ubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar. Para tokoh aliran behavioristik cenderung untuk tidak memperhatikan hal-hal yang tidak dapat diukur dan tidak dapat diamati, seperti perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal itu penting.
4.    Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh o1eh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, sernua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalarn belajar pun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul munakin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalarn kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama Skinner mempekenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
5.    Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus todak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana dijelaskan oleh Clark Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering, mungkin cliberikan stimulus
agar hubungan antara stimulus clan respon berstfat lebih tetap. la juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bukan menetap, maka diperlukan
berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) mernegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Namun setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan akan pentingnya penguatan (reinforcemont) dalam teori belajarnya, maka hukuman tidak lagi dipentingkan dalam belajar.
6.    Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. la mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih konfrehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Dikatakannya bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu. Sebab, pada dasamya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan. Demikian juga dengan respon yang dimunculkan ini pun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengar-uhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dari berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagal akibat dari respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan mengunakan perubahann-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian dan seterusnya.
Pandangan teori behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik. Namun dan semua pendukung teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul dan
program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
C.   TEORI BELAJAR KOGNITIF
Pengertian belajar menurut teori kognitif (Budiningsih, 2005 : 51) adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Para pakar toeri kognitif antara lain Piagget, Bruner dan Ausubel. Menurut Piaget, kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Sedangkan Bruner mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan atau informasi dan bukan ditentukan oleh umur. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Sementara itu Ausubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Dari kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Materi pelajaran yang disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. Perbecahan individual pada diri siswa perlu diperhankan karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.
D.   TEORI KONSTRUKTIVISTIK
Gagasan pokok konstruktivistik dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemology dari Italia. Tahun 1710, Vico telah mengungkapkan "Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaannya". Dia menjelaskan bahwa Tuhan yang tahu tentang seluk beluk alam semesta, karena Dia yang membuatnya dan dari apa la buat. Sementang itu manusia mengetahui sesuatu yang
telah dikonstruksinva. Vico menyebutkan bahwa pengetahuan selalu menunjukkan kepada struktur konsep yang dibentuk dan pengetahuan tidak lepas dari orang (subjek) yang tahu (Yamin, 2008 : 7).
Pandangan konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia melalui interaksi dengan objek, fenomena pengalaman dan lingkungan mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Poedjiadi (2005 : 70) bahwa "konstruktivistik bertitik tolak darl pembentukan pengetahuan dan rekonstruksi pengetahuan adalah mengubah pengetahuan yang dirniliki seseorang yang telah dibangun atau dikonstruk sebelumnya dan perubahan itu sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungannya".
Konstruktivisme dalarn bidang pendidikan dikembangkan oleh Jean Piaget dari Swiss dan Vygotsky dari Rusla (Trianto, 2007 : 13).
Konstruktivisme yang dikembangkan oleh Jean Piaget dalam bidang pendidikan dikenal dengan nama konstruktivisme kognitif atau personal construstivism.
Konstruktivisme personal lni dikembangkan melalui eksperimen yang, dilakukan untuk mengetahui perkembangan pengetahuan anak, dengan jalan melakukan wawancara dan mengobservasi kegiatan serta tingkah laku anak. Jean Piaget menekankan bahwa seseorang rnembangun pengetahuarmya melalui berbagai jalur, misalnya membaca, menelusuri, melakukan eksperimen terhadap lingkungannya dan lain-lain. Adanya rekonstruksi dalam pengetahuan seseorang juga iya yakin, karena di samping berinteraksi dengan lingkungan, kesiapan mental anak dan perkembangan kognitif ikut berperan dalam mengkonstruksi ataupun merekonstruksi pengetahuan. Sementara konstruktivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky adalah konstruktivisme sosial karena menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan sosialnya. Melalui interaksi antara individu dengan lingkungan misalnya melalui diskusi belajar kelompok dapat terjadi rekonstruksi pengetahuan seseorang. Perubahan konsepsi anak dari prakonsepsi, yaltu konsepsi yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari, teman atau orang tua, juga dapat direkonstruksi setelah ia menjalani proses belajar melalui guru pada pendidikan formal (Poedjiadi, 2005:71-72).
Konstruktivisme kognitif maupun konstruktivisme sosial dapat diterapkan dalam bidang pendidikan namun fokus perhatiannya berbeda. Konstruktivisme kognitif menitik beratkan pada individu yang melakukan kegiatan, sedangkan konstruktivisme sosial menitik beratkan pada interaksi antar individu.
Teori konstruktivislik memandang bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk ­mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya dengan jalan berinteraksi secara terus menerus dengan lingkungannya. Kegiatan belajar lebih dipandang darl segi prosesnya darl pada segi perolehan pengetahuan dan fakta-fakta yang terlepas-lepas. Pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu dilakukan rnelalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik. yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas. Oleh karena ituu pengelolaan pembelajaran harus diutamakan pada pengelolaan siswa dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti ijazah dan sebagainya.
Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan baru. Siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menvusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang segala sesuatu yang dihadapinya. Siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif dan mampu mempertanggun jawabkan pemikirannya secara rasional. Guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa be jalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang telah dimillikinya, melainkan mernbantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Bahan, media, peralatan, lingkungan      dan fasilitas lainnya untuk membantu pembentukan pengetahuan siswa. Evaluasi konstruktivistik menggunakan goal-free evaluation yaitu suatu konstruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik. Bentuk-bentuk evaluasi konstruktivistik dapat diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berpikir yang lebih tinggi seperti tingkat penemuan pada taksonomi Merril, atau strategi kognitif dari Gagne, serta sintesis pada taksonomi Bloom. Juga mengkonstruksi pengalaman siswa dan mengarahkan evaluasi pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif (Budiningsih, 2004 : 59).
Strategi kognitif menurut Gagne adalah suatu macam keteramplian intelektual khusus (berpikir, memecahkan masalah dan mengambil keputusan) yang mempunyai kepentingan tertentu baik belajar dan berpikir. Dalam teoni belajar modern, suatu strategi kognitif merupakan suatu proses kontrol, yaitu suatu proses internal yang cligunakan siswa (orang yang belajar) unluk mernilih dan mengubah cara-cara membenikan perhatian, belajar, mengingat, dan berpikir (Dahar, 1989 : 1338-139).
Sementara menurut Bloom, berpikir merupakan tujuan belajar setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan belajar dirumuskan dalam tiga kawasan atau ranah yang lebih dikenal dengan Taksonorni Bloom, salah satunya ranah kognitif yang terdiri dan enarn tingkatan, yaitu (1) pengetahuan; (2) pemahaman; (3) aplikasi; (4) analisis; (5) sintesis; dan (6) evaluasi (Gulo, 2002 : 571).
Menurut Yamin, (2008 : 54), ciri-ciri pembelajaran konstruktivistik adalah sebagai berikut :
1.    Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalarnan atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
2.    Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia
3.    Belajar merupakan proses yang aktif di mana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
4.    Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negoslasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerjasama dengan orang lain.
5.    Belajar harus disituasikan dalam latar (setting) yang realistik, penilaian harus terintegrasi dengan tugas bukan merupakan kegiatan yang terpisah.
Sementara menurut Siroj (http://www.depdiknas.go-id/Jurnal/43rusdy-a-siroj.htm), ciri-ciri pembelajaran pendekatan konstruktivistik adalah
1.    Menyediakan pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
2.    Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak sernua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesalkan dengan berbagai cara.
3.    Mengitegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konknit, misalnya untuk memahami suatu konsep melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
4.    Mengentegrasikan pembelajaran sehingga mernungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa.
5.    Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pernbelajaran menjadi lebih efeklif
6.    Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga menjadi menarik dan siswa mau belajar.
Prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik telah melahirkan berbagai macam model pembelajaran, dan dari berbagai macam model pembelaiaran tersebut terdapat pandangan yang sama, bahwa dalam proses belajar siswa adalah pelaku aktif kegiatan belajar dengan membangun sendiri pengetahuan berdasarkan pengalaman­-pengalaman yang dirnilikinya.
E.   TEORI BELAJAR HUMANISTIK
Menurut teori hurnanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia (Gintings, 2008 : 28). Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannva dan dirinya sendiri atau siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Teori humanistik cenderung bersifat eklektik yaitu teori yang dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai,
Beberapa tokoh penganut aliran hurnanistik diantaranya adalah:
1.    Kolb, dengan korisepnya tentang empat tahap dalarn belajar yaitu : pengalaman konkret, pcngalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi dan eksperimentasi aktif
2.    Honey dan Mumford, menggolongkan siswa menjadi 4 yaitu aktifis, reflektor, teori dan fragmatis.
3.    Hubermas, membedakan 3 macam atau tipe belajar yaitu : belajar teknis, belajar praktis, dan belajar emansipatoris.
4.    Bloorn dan Krathwohl dengan 3 kawasan tujuan belajar yaitu kognitif, afektif dan psikornotor.
5.    Ausubel, walaupun termasuk juga dalam aliran kognitifisme, terkenal dengan konsepnya belajar bermakna (meaningful learning).
Aplikasi teori humanistik dalam kegiatan pembeiajaran cenderung mendorong siswa untuk berpikir induktif. Teori ini amat memetingkan faktor pengalaman dan keterlibatan
F.    TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi (Budiningsih, 2005 :81). Teori lebih mementingkan sistem informasi dan pesan atau materi yang dipelajari.
Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi tidak ada satu jenispun cara belajar untuk segala situasi sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dan proses penyadian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage) dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkhis darl informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci sampa informasi yang diinginkan diperoleh.
Teori ini dikembangkan oleh antara lain Gage dan Berliner, Blehler dan Snowman, Hame serta Tennyson.
G.   TEORI BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL
Timbulnya keprihatinan terhadap perubahan kehidupan masyarakat dewasa ini dengan maraknya berbagai problem sosial seperti ancaman disintegrasi yang disebabkan ole fantisme dan primordialisme, dan lunturnya nilai-nilai kekeluargaan, serta merebaknya kejahatan yang disebabkan oleh lemahnya modal sosial (social capital) mendorong mereka yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk mengkaji ulang paradigma pendidikan dan pembelajaran yang menjadi acuan selama ini. Tentu saja pendidikan bukan satu-satunya lembaga yang harus bertanggung jawab untuk mengatasi semua masalah tersebut. Namun pendidikan mempunvai kontribusi besar dalam upaya mengatasi berbagai persoalan sosial.
Aliran behavioristik yang banyak di gunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selarna ini kurang dapat menjawab masalah-masalah sosial. Pendekatan ini banyak dianut dalarn praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran mulai darl pendidikan tingkat yang paling dini hingga pendidikan tinggi, namun teryata tidak mampu menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global. Hasil pendidikan tidak mampu menumbuh kembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalarn konteks sosial budaya yang beragam. Mereka kurang mampu berpikir kreatif, kritis, dan produktif, tidak mampu mengambil keputusan, mernecacah masalah, dan berkolaborasi serta pengelolaan diri.
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan irnplikasi kontraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerninkan ideologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya Barat. Pendekatan int kurang sesuai dengan tuntutan revolusi-sosiokultural yang berkembang akhir­ ini.
Pandangan yang dianggap mampu mengakomodasikan tuntutan sociocultural-revolution adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Vygotsky Dikemukakan bahwa peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang terutama berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, bukan sekedar dari individu itu sendiri (Trianto, 2007 : 27).
Konsep-konsep penting dalam teori Vygotsky ini adalah genetic low of development, zona of proximal development dan mediasi, mampu mernbuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer sedangkan dimensi individual bersifat sekunder.
Kegiatan pembelajaran menurut teori ini menginginkan anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximainva atau potensinva melalul belajar dan berkembang. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan yang dapat mernfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan dapat dalam bentuk contoh, pedoman, bimbingan orang, lain atau teman yang lebih kompeten. Bentuk--bentuk- pembelajaran kooperatif-kolaboratif serta belajar kontekstual sangat tepat digunakan. Sedangkan anak yang telah mampu belajar sendiri perlu ditingkatkan tuntutannya sehingga tidak perlu menunggu anak yang berada di bawahnya.
H.   TEORI BELAJAR KECERDASAN GANDA
Kecerdasan ganda yang dikemukakan oleh Gardner dan dikembangkan tokoh-tokoh lain, terdiri dari kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan logika/matematik, kecerdasan visual/ruang, kecerdasan tubuh gerak tubuh, kecerdasan musikal/ritmik, kecerdasan interpersonal, keeerdasan intrapersonal, kecerdasan naturals, kecerdasan spiritual dan kecerdasan eksistensial, perlu dilatihkan dalam rangka mengembangkan keterampilan hidup (Budiningsth, 2005 : 122).
Semua kecerdasan ini sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Komposisi keterpaduannya berbeda-beda pada rnasing-masing orang dan pada masing-masing budaya, namun secara keseluruhan sernua kecerdasan tersebut dapat diubah dan ditingkatkan. Kecerdasan yang paling menonjol akan mengontrol keeerdasan-kecerdasan lainnya dalam memecahkan masalah.
Strategi pembelajaran kecerdasan ganda bertujuan agar semua potensi anak dapat berkembang. Strategi dasar pembelajaranya dimulai dengan (1) membangun/memicu ke-cerdaas-an, (2) Mernperkuat kecerdasan, (3) mengajarkan
Dengan atau untuk kecerdasan dan (4) mentransfer kecerdasan. Sedangkan kegiatan-kegiatannya dapat dilakukan dengan cara menyediakan hal-hal karir, studi tour, blografi, pembelajaran terprogram, eksperimen. majalah dinding, papan display, membaca buku-buku untuk mengembangkan kecerdasan ganda (human intelligence hunt).











BAB V
MOTIVASI DALAM BELAJAR

A.      PENGERTIAN MOTIVASI
Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu movere yang dalam bahasa Inggris berarti to move adalah kata kerja yang artinya menggerakkan. Motivasi itu sendiri dalam bahasa Inggris adalah motivation yaitu sebuah kata benda yang artinya penggerakkan. Oleh sebab 1tu, ada juga yang menyatakan bahwa "motives drive at me" atau motiflah yang menggerakkan saya. Tidak jarang juga dikatakan bahwa seorang siswa gagal dalam mata pelajaran tertentu karena kurang motivasi.
Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya 'feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yaitu :
Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem "neorophysiological" yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul dan' dalam diri manusia), penampakkannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
Motivasi ditandai dengan munculnya rase/feeling", afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenamya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Secara psikologis ada yang mendefinisikan motivasi mewakili proses-proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke arah tujuan tertentu (Mitchell, dalam Gintings, 2007 : 86)

B.   MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN
Dalam pembelajaran motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan atau mendorong siswa untuk belalar atau menguasai materi pelajaran yang sedang diikutinya. Tanpa motivasi, siswa tidak akan tertarik dan serius dalarn mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, dengan adanya motivasi yang tinggi. siswa akan tertarik dan terlibat aktif bahkan berinislatif dalam proses pembelajaran. Dengan motivasi yang tinggi siswa akan berupaya sekuat-kuatnya dan dengan menempuh berbagai strategi . yang positif untak mencapai keberhasilan dalam belajar.
Upaya siswa dalarn mencapai keberhasilan belajar tersebut meliputi mendengarkan ceramah dengan serius, menjawab pertanyaan, berpartisipasi aktif dalam diskusi, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Bahkan tidak jarang siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan memberikan masukan dalam bentuk gagasan atau usulan kepada guru atau kepada kelas tentang berbagai kegiatan tarnbahan bahkan tugas tambahan untuk memperluas dan memperdalarn lingkup materi pelajaran yang harus dipelajari. Motivasi yang tinggi membuat siswa harus akan berbagai aspek yang terkait dengan topik dan mata pelajaran yang dipelajarinya.
C.   MOTIVASI DAN PRESTASI BELMAR SISWA
Prestasi belajar siswa adalah hasil dari berbagai upaya dan daya yang tercermin darl partisipasi belajar yang dilakukan siswa dalarn mempelajari materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Lemah dan kuatnya partisipasi belajar yang dilakukan siswa dalarn belajar tergantung pada seberapa kuat pula upaya dan daya yang dikerahkannya untuk berpartisipasi dalam belaar. Sebaliknya, lemahnya motivasi akan melemahkan upaya dan dayanya untuk belajar.
Berbagai pakar yang juga diperkuat oleh ternuan berbagai penelitian menyimpulkan bahwa lerdapat hubungan atau korelasi yang kuat antara kinerja dan prestasi. Hubungan ini juga berlaku dalam proses belajar dan mengajar yaitu prestasi belajar siswa berhubungan dengan kinerja belajarnya. Karena motivasi belajar berkolerasi dengan kinerja belajar sedangkan kinerja belajar berkolerasi dengan prestasi belajar, maka prestasi belajar secara tidak langsung berkorelasi pula dengan prestasi belajar siswa sebagaimana dillustrasikan dalam gambar berikut ini.
Motivasi Belaiar
Kineria atau
Partisipasi Belajar
Prestasi Belajar
Gambar 5.1. Motivasi dan Prestasi Belajar

A.      SUMBER-SUMBER MOTIVASI BELAJAR SISWA
Pandangan lain tentang motivasi adalah sebagaimana dikemukakan olch Gray dan kawan-kaxvan yaitu
”......montivasi merupakan basih sejumlah proses, yang bersifat internal atau eksternal bagi seseorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu".

Sejalan dengan pandangan Gray dan kawan-kawan, dalam pembelajaran dikenal dua jenis motivasi dilihat dart sumber datangnya motivasi tersebut yaltu
1.    Motivasi Ekstrinsik
a.    Pengertian
Motivast ekstinsik adalah motivasi untuk belajar yang berasal dari luar diri siswa itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini di antaranva ditimbulkan olch faktor-faktor yang muncul dari luar pribadi siswa itu sendiri termasuk dari guru. Faktor-faktor tersebut bisa positif bisa negatif.
Conloh dari motivasi ekstinsik yang negatif adalah rasa takut siswa akan hukuman yang akan diberikan oleh guru mendorong siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Contoh motivasi ekstrinsik yang positif adalah dorongan siswa untuk mengadakan pekerjaan rumah karena, ingin mendapat pujian dari guru.
b.    Sifat-sifat Motivasi Ekstrinsik
Dari kedua contoh tersebut maka dapat disirnpulkan beberapa sifat-sifat motivasi ekstrinsik sebagai berikut :
1)        Karena munculnya bukan alas kesadaran sendiri, maka motivasi ekstrinsik mudah hilang, atau tidak dapat bertahan lama.
2)        Motivasi ekstrinsik jika diberikan terus menerus akan menimbulkan motivasi ekstrinsik dalam diri siswa.
2.    Motivasi Instrinsik
a.    Pengertian
Motivasi instrinsik adalah motivasi untuk belajar yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Motivasi instrinsik ini di antaranya, ditimbulkan oleh faktor-faktor yang muncul dari pribadi siswa itu sendiri terutama kesadaran akan manfaat materi pelajaran bagi siswa itu sendiri. Manfaat tersebut bisa berupa
1). Keterpakaian kompetensi dalam bidang yang seclang dipelajari dalam pekerjaan
atau kehidupannya kelak.
2). Keterpakaian pengetahuan yang, diperoleh dari pembelajaran dalam memperluas wawasannya sehingga memberikan kemarnpuan dalam mempelajari materi lain.
3). Diperolehnya rasa puas karena keberhasilan mengetahui tentang sesuatu yang selama ini menjadi obsesi atau dambaannya.
4).   Diperolehnva kebanggaan karena adanya pengakuan oleh lingkungan sosial terhadap kompetensi prestasinva daiam belajar.
b.    Sifat-sifat Motivasi Intrinsik
Di antara sifat-sifat motivasi intrinsik yaitu
1)        Walaupun motivasi intrinsik sangat diharapkan, namun justru tidak selalu timbul dalam diri siswa.
2)        Karena munculnya atas kesadaran sendiri, maka motivasi intrinsik akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik.
c.    Tanda-tanda Adanya Motivasi Intrinsik
Berikut ini ada beberapa tanda-tanda adanya motivast intrinsik dalam diri siswa:
1)        Adanya bukti yang jelas tentang keterlibatan, kreativitas, dan rasa menikmati pelaj-aran dalarn diri siswa selama pembelajaran berlangsung.
2)        Adanya suasana hati (mood) yang positif seperti keseriusan dan keceriaan.
3)        Munculnya pertanyaan dan pengamatan dari siswa yang mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata.
4)        Terdapat diskusi personal lanjutan setelah selesainya jam pelajaran.
5)        Menyerahkan tugas atau kerja proyek tanpa diingatkan oleh guru.
6)        Berusaha keras dan tidak cepat menyerah dalarn mengatasi kesulitan belajar atau komunikasi serta penyelesaian tugas.
7)        Menyusulkan atau mencitapkan tugas yang relevan untuk dirinya sendiri
8)        Mengupayakan penguasaan materi secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai strategi dan sumber belajar.
E. BEBERAPA TEORI TENTANG MOTIVASI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
Berikut ini akan dikemukakan secara ringkas beberapa teori tentang motivasi. Dengan memahami teori tersebut diharapkan guru dapat menyadari betapa peliknya hakekat motivasi termasuk pemahaman tentang perbedaan antara individu tentang bagaimana yang bersangkutan termotivasi. Oieh karena itu. perlu ditekankan bahwa guru harus selalu berupaya menciptakan berbagai kreasi dalam mernotivasi siswa baik secara klasikal maupun secara individu.
1.        Teori Isi atau Content Theory
Teori menekankan perlunya memahami faktor-faktor yang internal seseorang yang dapat mendorongnya untuk bekerja lebih giat. Teori ini menggarisbawah bahwa kebutuhanlah yang rnemotivasi seseorang untuk melakukan perbuatan tertentu. Hubungan antara motivasi dengan kebutuhan dalam kerangka teori isi adalah sebagaimana terlihat dalam gambar








NEED
 


DRIVERS
 


ACTION

 
 


                                
 



Gambar 5.2. Konsep Content Theory
Teen ini mendasari teori hirarki motivasi yang dikemukakan o1eh Maslow, teori kebutuhan McClelland, dan teori dua faktor Herzberg. Berikut ini adalah rangkuman dari ketiga teori tersebut ,
a.    Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
Maslow mengemukakan adanya lima hirarki motivasi yang didasarkan o1eh perbedaan kebutuhan manusia sebagaimana dillhat dalam Tabel 5.1.
Tabel 5.1
Hirarki Kebutuhan Menurut Abraham Maslow
Dan Aplikasinya dalam Pembelajaran
Hirarld Kebutuhan

Faktor Motivasi dalarn,
Bekerja

Contoh Faktor Motivasi
dalam Belajar
1.    Self-actualization needs
(Kebutuhan untuk
merealisasi diri)


Pekerjaan yang menantang
kreativitas
Keterlibatan dalarn
pembuatan keputusan
Fleksibilitas dan otonomi
dalam pekerjaan




Tugas-tugas yang
menantang
Keterlibatan dalam OSIS
atau kegiatan lainnya
Menjadi juara kelas atau
pelajar teladan
Menjadi ketua atau
anggota delegasi sekolah
Kebebasan dalam memilih
'project work"
2. Self-esteem needs
(Kebutuhan untuk
mendapat penghargaan
diri)


Tanggung Jawab dalam
pekeriaan penting
Promosi kejabatan yang
lebih tinggi
Penghargaan dari atasan




Tanggung J awab dalam
kegiatan OSIS kegiatan
kelas
Menjadi ketua kelas atau
ketua kelompok belajar
Pujian lisan atau tanda penghargaan
Menjadi juara kelas atau pela'ar teladan
3. Social needs
(Kebutuhan-kebutuhan sosial)




Pertemanan dengan
sesama pekerja
Interaksi dengan pemangku kepentingan
Hubungan dengan atasan
yang menyenangkan






Pertemanan dengan sesama siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler maupun dalam pergaulan sehari-ha­ri
Interaksi dan hubungan yang menyenangkan dengan guru dan pengelola sekolah lainnya
Keterlibatan dalam Pramuka dan lain sebagainya
d.    Safety needs
(Kebutuhan untuk keamanan atau rasa aman)
Kondisi kerja yang aman
Pekerjaan yang aman
Kompensasi dan tunjangan







Kondisi kelas dan sekolah yang aman termasuk bebas dari ancaman semornya
Jaminan adanya pembelajaran yang aman misalnya dalam olahraga berenang dan prak-tek di sekolah kejuruan yang dilengkapi dengan alat keselamatan kerja
Adanya pemberian nilai tambahan dalam mata pelajaran untuk pekejaan tertentu atau jaminan kenaikan kelas atau kelulusan
5. Physiological needs (Kebutuhan Fisiological)

Istirahat dan penyegaran
Kenyamanan fisik dalam bekerja
Jam kerja yang layak Kompensasi dan tunjangan




Istirahat dan penyegaran
Keamanan fisik dalam kondisi ruang belajar seperti cahaya, ventilasi, AC, dan lain sebagainya
Jam belajar yang tepat
Kesempatan untuk memperoleh konsumsi/jajan atau tersedianya kantin sekolah yang baik.



Ada empat hal yang perlu diingat terkait dengan hierarki motivasi berdasarkan kebutuhan menurut teori Abraham Maslow:
1)   Peningkatan jenjang motivasi terjadi secara berturut dan bertahap. Artinya, seseorang tidak bisa mencapai motivasi kebutuhan sosial tanpa terlebih dahulu melalui tahapan motivasi kebutuhan keamanan dan motivasi kebutuhan fisik.
2)   Tidak dimungkinkan beberapa jenjang motivasi dapat dialami secara bersamaan dalam diri seseorang.
3)   Ketika seseorang telah sampai pada jenjang motivasi tertentu, maka ia tidak lagi termotivasi dengan faktor-faktor motivasi di jejang yang sebelumnya. Sebagai contoh, seseorang yang telah mencapai tingkat motivasi untuk memperoleh penghargaan diri (self esteem) tidak akan lagi termotivasi o1eh kebutuhan sosial, kebutuhan akan keamanan dan kebutuhan fisik.
4)   Jika kondisi tertentu tidak terpenuhi, maka jenjang motivasi dapat menurun ke Jenjang lebih rendah.
b.    Teori Kebutuhan McClelland
McClelland membedakan motivasi berdasarkan tiga jents kebutuhan yang berbeda pula yaitu :
1). Motif untuk berprestasi (Need for Achievment)
2). Motif utuk berfiliasi atau berhubungan (Need for Aid/Litton)
3). Motif untuk berkuasa (Need for Power)
Karakteristik dan aplikasi ketiga jenis kebutuhan yang mendorong timbulnya motivasi dari Teori McClelland dalam konteks pembelajaran adalah termuat dalam Tabel 5.2.
                                                         Tabel 5.2.
Motivasl Kebutuhan Mlenurut !McClelland
dan Aplikasinya dalam Pernbelajaran
jenis Motivasi
Faktor Motivasi dalam
Bekerja
Contoh Faktor Motivasi
dalarn Belajar
1. Motif untuk
berprestasi (Need for
Achievement)
Pencapaian tujuan dengan
sebaik--baiknya
Menyukai tantangan
pekerjaan yang menuntut
keahlian dan kemampuan
memecahkan persoalan
yang tinggi
•   Prestasi dalam kenaikan
kelas atau kelulusan,
pelajar teladan, atau
olimplade sains dan lain
sebagainya.
•   Menjadi anggota tim
cerdas cermat, penulisan
karya i1miah remaja, dan
lain sebagainya.
  1. Motif untuk berafiliasi
(Need for Afiliation)

Suasana belajar dan hubungan  erat dan akrab dengan sesama siswa, guru dan pengelola sekolah lainnya.
·      Kerja kelompok
·      Menjadi anggota OSIS atau ekstra kurikulerekstra lainnya.
·      Acara-acara atau kegiatan sosial disekolah seperti camping, pramuka, kegiatan agama, dan lain sebagainya.
  1. Motif untuk berkuasa
(Need for Power)

Memperoleh kesempatan mempengaruhi atau memimpin orang lain
Menjadi ketua kelas, menjadi ketua OSIS dan lain sebagainya.

Satu hal yang perlu juga dipahami berkenaan dengan teori motivasi kebutuhan McClelland, adalah bahwa beberapa motivasi dapat terjadi secara bersamaan dalam diri seseortang. Oleh sebab itu, semakin banyak- faktor motivasi yang terpenuhi, semakin banyak jenis motivasi yang muncul dalam diri seseorang. Hasilnya, semakin tinggi pula upaya belajar Siswa.
2.    Teori Proses atau Process Theory
Teori proses menekankan pada bagaimana dan dengan tujuan apa seseorang dapat dimotivasi. Pada dasarnya ada dua kunci dari motivasi dalam diri seseorang menurut teori proses, yaitu :
  1. Harapan (expectancy) untuk memperoleh sesuatu dari kekuatan (valence) jika mereka melakukan pekerjaan dengan lebih baik,
  2. Kekuatan untuk melakukan pekerjaan guna mencapai hasil yang diharapkan.
Contoh yang sederhana dalam pendidikan adalah seseorang yang rnerniliki harapan dengan mengikuti studi di lembaga pendidikan berprestasi ia akan mencapai cita-citanya yang tingai. Akan tetapi, ia tidak mendaftar ke perguruan tinggi berprestasi tersebut karena memilliki kemampuan untk- mengikuti pelajaran. di lembaga tersebut dinilainya terlalu sulit bagi dirinya.
Teorj proses ini sejalan dengan harapan atau Expectancy Theory atau Atribution Theory yang dikembangkan oleh Heider yang menyimpulkan bahwa prestasi seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu motivasi dan kemampuan dasar seseorang (Ranupandojo, 1996 : 120) yang dapat ditulis dalam bentuk runus sebagai berikut:

P = M x A
 
Ket.
P = Prestasi
M = Motivasi
A = Ability

Merujuk pada rumus Heider tersebut ada tiga kemungkinan prestasi seseorang terkait dengan motivasi dan kernampuan dasar seseorang yaitu :
  1. Bahwa seseorang yang tidak memiliki kernampuan dasar yang cukup tidak akan mencapai prestasi yang tinggi jika tidak diberi motivasi yang kuat dan tepat.
  2. Bahwa seseorang yang memiliki kemampuan dasar yang tidak cukup tidak akan
mencapaj prestasi yang tinggi sekalipun diberi motivasi yang kuat dan tepat.
  1. Bahwa seseorang hanya akan mencapai prestasi yang tinggi jika memiliki kernampuan dasar yang kuat dan diberi motivasi yang kuat dan tepat,
3.    Teori Perilaku atau Reinforcement Theory
Teori ini menekankan bahwa keberhasilan seseorang di masa lalu akan menjadi motivasi baginya untuk melakukan hal yang sama di masa datang. Teor ini dalam konteks pendidikan dalam taraf tertentu mengandung kebenaran. Siswa Yang mengalami keberhasilan di satu jenjang pendidikan karena menerapkan strategi pembelajaran yang tertentu akan termotivasi melakukan strategi yang sarna ketika mengikuti pendidikan pada jenjang selanjutnya. Siswa yang patuh ketika duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, akan termotivasi untuk berperilaku yang sama dengan tujuan meraih prestasi yang sama ketika telah duduk di kelas 4 Sekolah Dasar dan seterusnya. Oleh sebab itu, guru perlu mempelajari riwayat prestasi dan kebiasaan belajar siswanya untuk memahami jenis motivasi yang perlu diberlikan kepada siswanya.
F.    TEORI X DAN TEORI Y McGregor
Douglas McGregor pada tahun 1957 mengajukan teorinya yang dikenal yaitu teori X dan teori Y tentang perilaku pekerja. Sekalipun demikian, teori tersebut bisa diadopsi ke dalam pembelajaran sebagaimana teori-teori motivasi yang dikernukakan sebelumnya mengingat adanya kesamaan sejurnlah karakteristik antardunia kerja dengan dunia belajar.
Dalam teori tersebut, McGregor membedakan manusia ke dalam dua kelompok yang saling bertentangan stfat-sifatnya dalam melakukan pekerjaan yang berdampak kepada kinerja yang bersangkutan. Teori X menyatakan bahwa pada dasamya setiap manusia memiliki sifat malas, tidak jujur, dan tidak dapat dipercaya dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Seorang guru yang menganut teori X akan memimpin kelasnya secara otoriter, melakukan pengawasan yang ketat dan selalu berprasangla negatif dan menerapkan hukuman terhadap siswa untuk menjamin ketercapaian tujuan pembelajaran. Pendekatan seperti ini dengan mudah dapat diprediksi akan kurang berhasil dalarn memberikan motivasi terutama kepada siswa yang telah mencapai tingkat motivasi pengakuan tinggi dalam hirarki motivasi Maslow seperti kebutuhan sosial, kebutuhan keamanan, kebutuhan akan penghargaan diri, kebutuhan fisiologikal dan kebutuhan akan merealisasi diri dan motivasi berprestasi menurut McClelland. Ini disebabkan siswa dengan tingkat motivasi tersebut merasa kurang dihargai dan dipenuhi kebutuhannya oleh guru dengan pendekatan otoriter.
Meski demikian, guru yang menerapkan tepri X mungkin saja akan berhasil membawa siswa mencapai prestasi jika siswa yang bersangkutan memiliki karakteristik yang sesuai dengan teori tersebut yaitu malas, tidak jujur, dan tidak merniliki tanggung jawab. Alasan dan prediksi ini adalah bahwa tanpa pengawasan yang ketat siswa dengan karakristik seperti itu kemungkinan besar justru tidak akan belajar dengan sungguh­sungguh.
Sebaliknya teori Y berpandangan positif yaitu melihat bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki pengarahan dan pengendalian diri sendiri, dapat dipercaya dan memiliki rasa tanggung jawab serta rasa keterkaitan pada lembaganya. Seorang guru yang menganut teori Y akan mendorong partisipasi dan kemandirian siswanya dalarn berbagai kegiatan pembelajaran serta memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada siswanya untuk mencapai prestasi yang tinggi atas inisiatif sendiri. Pendekatan seperti ini dengan mudah dapat diprediksi akan berhasil dalam memberikan motivasi terutama kepada siswa yang, telah mencapai tingkat motivasi pengakuan tinggi dalam hirarki motivasi Maslow seperti kebutuhan sosial, kebutuhan keamanan, kebutuhan akan penghargaan diri, kebutuhan fisiologikal dan kebutuhan akan merealisasi diri dan motivasi berprestasi menurut McClelland. Ini disebabkan siswa dengan tingkat motivasi tersebut merasa dihargai dan dipenuhi kebutuhannya oleh guru dengan pendekatan Egaliter atau bersahabat (friendly) dan mempercayai (trust) tersebut.
Akan tetapi, guru yang menerapkan teori Y tersebut justru kemungkinan besar akan kurang berhasil membawa siswanya berprestasi jika siswanya memiliki karakteristik berlawanan atau memiliki karakteristik teori X. Siswa yang memiliki karakteristik sebagaimana digambarkan oleh teori X yaitu malas, tidaklujur, dan tidak bertanggungjawab justru akan lebih tidak terkendali jika diberi kebebasan dan kepercayaan penuh.
G.   PERUBAIIAN MOTIVASI BELAJAR
Sebagaimana dikemukakan Maslow, motif seseorang dalam melakukan sesuatu
akan dapat berubah jika kondisi terkait juga berubah. Dalam konteks pembelajaran, pendapat Maslow dapat kita terima jika kita memperhatikan bagaimana seorang siswa yang ketika dalarn periode atau jenjang pendidikan tertentu sangat bersemangat berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, tetapi kemudian berubah menurun semangat belajarnya di periode yang lain atau sebaliknya. Ini sejalan dengan Conditioning Pavlov yang menyatakan bahwa Stimulus (S) tertentu akan meng-hasilkan Respon (R) tertentu jika didukung oleh kondisi tertentu pula. Sebaliknya, stimulus tertentu tidak akan menghasilkan respon yang sama jika tidak didukung oleh kondisi yang sesuai.
Setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi perubahan-perubahan pada kekuatan motif (Winardi, 2002 : 35 - 40). Keempat faktor tersebut, adalah
1.        Pemenuhan Kebutuhan
Menurut Abraham Maslow, terpenuhinya kebutuhan akan menghilangkan peran kebutuhan tersebut sebagai motivator. Siswa yang akan termotivasi untuk memperoleh nilai 7, tidak akan termotivasi lagi dengan nilai yang sama. Begitu juga siswa yang telah menjadi juara kelas tidak akan termotivasi lagi dengan kedudukan tersebut tetapi memerlukan motivasi yang lebih tinggi seperti didorong untuk menjadi juara antar sekolah.
2.        Pemenuhan Kebutuhan yang Terhalangi
Terhalangnya pemenuhan kebutuhan akan membuat menurunnya motivasi siswa untuk mencapai prestasi tertentu. Sebagai contoh, siswi yang kurang mendapat perhatian dari gurunya akan menurun motivasi belajarnya. Tetapi tidak jarang ada siswa yang berusaha mencari solusi untuk memecahkan hambatan pemenuhan kebutuhan seperti dengan mengerjakan pekerjaan rumah dengan lebih baik alau berprestasi dalam ekstra kurikuler guna memperoleh kernbali perhatian dari gurunya. Hasilnya, motivasinva yang semula menurun justru akan kembali muncul setelah kebutuhannya yang terhalangi kembali terpenuhi.
3.    Disonansi Kognitif
Disonansi kognitif terjadi jika dua persepsi dalam diri seseorang berbenturan sehingga menimbulkan ketegangan. Yang bersangkutan akan berusaha mencapai konsonansi atau keseimbangan kognitif dengan memodifikasi salah satu persepsi agar sesuai. Sebagai contoh, seorang siswa yang tidak mempercayai adanya pengaruh kehadiran dengan prestasi belajar akan mengalarni konflik di dalam dirinya ketika diharuskan untuk datang tepat waktu. Konflik tersebut akan mempengaruhi motivasinya untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Untuk menghilangkan konflik psikologis di dalam dirinya stswa tersebut harus menciptakan kondisi konsonansi atau keseimbangan kognitif dengan rnerubah persepsinya tentang pengaruh kehadiran terhadap prestasi belajar.
4.    Frustasi
Frustasi dalarn diri seorang siswa bisa tcrjadi akibat terhalangnya pencapaian tujuan individu siswa yang dilihatnya dari persepsinya sendiri bukan dan persepsi lingkungan di luar dirinya. Sebagai contoh seorang siswa yang tidak memperoleh prestasi yang diinginkannya dan menghukurn dirinya sendiri akan mengalarni frustasi. Padahal, lingkungan termasuk gurunya tidak menganggap dia gagal. Dalam kondisi seperti im, guru harus mampu mengembalikan kepercayaan diri siswa tersebut dengan mendorong siswa tersebut untuk membuka hati terhadap kenyataan menurut pandangan guru dan teman sekelasnya.




H. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMBERIAN MOTIVASI
            Ranupandijo (1996 : 123 - 125) memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan motivasi sebagaimana dirangkurn berikut ini:
a.    Memahami adanya perbedaan individu baik secara fisik maupun secara emosional.
b.    Setiap individu memiliki kepribadian yang unik sehingga merniliki cara yang berbeda dalam menghadapi situasi tertentu.
c.    Semua perilaku terjadi akibat adanya perubahan baik dalarn diri individu maupun dalarn situasi yang dihadapinya.
d.   Setiap individu memillki rasa ego yang cenderung mengabaikan kepentingan orang lain, akan tetapi secara rasional ia dapat menyesualkan dengan kepentingan orang lain.
e.    Emosi seseorang biasanya dapat dengan mudah dikenali dan sangat dominan untuk membentuk perilaku seseorang. Dengan melihat emosinya, kita dapat memperkirakan bagaimana perilakunya.
f.     Pada umumnya kita jarang mengelahui kondisii individu secara mendalam sehingga sukar memperkirakan reaksinya terhadap situasi tertentu.
Hal-Hal di atas menunjukkan betapa sulit memberikan motivasi kepada seseorang secara tepat, kecuali diperoleh gambaran yang akurat dan mendalarn tentang kepribadian individu tersebut serta pola-pola tanggapannya terhadap berbagai situasi.
I.     PEMBERIAN MOTIVASI DENGAN MODEL ARCS
Sebagai upaya meningkatkan pembelajaran di tingkat pendidikan tinggi di Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional mengembanakan program PEKERTI (Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional). Dalarn buku Pedoman Penatar PEKERTI-AA (Ditjen Dikti, 2004 : 12) diberikan sebuah model pengelolaan motivasi belajar yang dikenal dengan istilah ARCS yang merupakan akronim dari : Attention (Perhatian), Relevance (Relevansi atau Kesesuaian), Confidence (Kepercayaan Diri), Satisfaction (Kepuasan).
Keempat faktor tersebut dapat dielaborasi atau diuraikan lebih lanjut sebagairnana berikut ini :
1.    Attention (Perhatian)
Perhatian peserta didik dapat dibangkitkan dengan mengupayakan hal-hal berikut ini dalam materi sajian yaitu :
-       Baru
-       Aneh
-       Kontradiktif
-       Kompleks
Keernpat karakteristik materi sajian di atas baik secara sendiri-sendiri maupun k-ornbinasinya akan membangkitkan rasa ingin tahu yang merupakan motivasi belajar dalam diri siswa.
2. Relevance (Relevansi atau Kesesuaian)
Relevansi materi yang dimaksudkan di siswa adalah relevansinya dengan pemenuhan kebutuhan siswa di antaranya dengan merujuk kepada teori kebutuhan McClelland yakni
-    Relevansi dengan kebutuhan berprestasi
-    Relevansi dengan kebutuhan merniliki kekuasaan
-    Relevansi dengan kebutuhan afiliasi
Relevansi juga dapat dikalitkan dengan kebermaknaan atau manfaat materi bagi peserta didik.
3.    Confidence (Kepercayaan Diri)
Guru harus membangkitkan rasa percaya diri siswa di antaranya dengan mernbangkitkan kesadaran bahwa mereka marnpu menguasai rnateri yang disajikan. Penyajian yang sistematis disertai dengan contoh-contoh yang mudah dan relevan akan  membantu siswa mernbangkitkan rasa percaya dirinya.
4.    Satisfaction (Kepuasan)
Kepuasan belajar dapat dicapai dengan tercapainya ketuntasan belaiar. Dengan demikian siswa akan merasakan bahwa dirinya telah mencapai sebuah target yang didambakannya. Oleh sebab itu, dalam prinsip Quantum Teaching, keberhasilan mencapai prestasi belajar harus dirayakan. Ini dilakukan dengan rnernberikan pijian bagi siswa secara individu atau secara klasikal ketika tujuan pernbelajaran tercapai.
J. GURU DAN MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN        
Dalam bahasa yang sederhana, dalam kaitannya dengan tugas guru dalam pembelajaran dapat dikatakan sebagai perangkat yang digunakan guru untuk mendorong siswa agar mau belajar sendiri. Gambar 5.3. mengilustrasikan keterkaitan guru, motivasi, dan siswa dalam pembelajaran.






Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran
 


Siswa
 


Motivasi
 


Guru
 
                       










Partisipasi belajar Siswa
 
 





Gambar 5.3. Guru clan Motivasi Belajar Stswa
Sebagaimana terlihat dalam Gambar 5.3, guru memegang peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan motivasi di dalam diri siswa. Pernotivasian siswa ini Justru merupakan salah satu tugas utama dan seni yang harus dikuasai guru dalam mengajar. Tidak jarang seorang guru dianggap sebagai guru favorit oleh siswa karena kemampuannya dalam memotivasi siswa. Karenanya, kemampuan guru memotivasi siswa merupakan salah satu kunci suksesnya dalam mengajar.
Mengingat pentingnya peran motivasi dalam pembelajaran, seorang guru harus mernahami pengertian, manfaat, jems serta cara-cara pemberian motivasi. Dengan menguasai berbagai aspek tentang motivasi seorang guru akan Mampu memciptakan suasana pembelajaran yang kondusif agar siswa aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Disamping itu, seorang guru juga harus menguasai teknik mengidentifikasi motivasi belajar yang ada di dalam diri siswa. Identifikasi ini meliputi ada tidaknya motivasi, jenis motivasi yang ada, serta cara yang tepat dalam memberikan motivasi kepada siswa baik secara klasikal maupun individual.










BABVI
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

A.   PROBLEM-BASED LEARNING
1.    Gambaran Umum
Dalarn model pembelajaran Problem-based Learning, sering digunakan akronim PBL, belajar dan pembelajaran diorientasikan kepada pemecahan berbagai masalah terutama yang terkait dengan aplikasi materi pelajaran di dalam kehidupan nyata. Selama siswa melakukan kegiatan memecahkan masalah, guru berperan sebagai tutor yang akan membantu mereka rnendefinisikan apa yang mereka tidak tahu dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memahami dan memecahkan masalah ( Newble and Cannon dalam Gintings, 2007: 210).
Pengembangan model ini di antaranya didasari oleh:
a.    Prinsip Inquiry Learning yang memandang belajar adalah upaya untuk menemukan sendiri pengetahuan.
b.    Teori psikologi belajar modern dan pembelajaran modern yang menjelaskan bahwa pengetahuan akan lebih diingat dan dikemukakan kembali secara lebih efektif jika belajar dan pembelajaran didasarkan dalam konteks manfaatnya di masa depan. Sebagaimana dicontohkan oleh Newble dan Cannon, jika kegiatan belajar dan pembelajaran ilmu pengetahuan alam dasar bagi, mahasiswa kedokteran disusun dalam konteks berbagai kasus yang diperkirakan akan dihadapi dalam praktik kedokteran mereka kelak maka materi yang diajarkan akan lebih mudah dingat oleh mahasiswa.
2.    Tahapan-tahapan Pemecahan Masalah
Tahapan pemecahan masalah sangat bergantung pada kompleksitas masalahnya. Untuk masalah yang kompleks karena cakupan dan dimensinya sangat luas, maka langkah­-langkah pemecahan masalah dengan pendekatan akademik dapat dilakukan. Permasalahan yang sederhana dengan cakupan dan dimensi yang relatif sempit dan praktis dapat dipecahkan dengan tahapan-tahapan yang sederhana dan praktis pula. Kedua jenis tahapan tersebut adalah sebagai berikut ini :
a.    Tahapan pemecahan masalah secara akademik
Secara akademik tahapan pemecahan masalah yang kompleks adalah sebagai berikut :

1). Kesadaran akan adanya masalah.
2). Merumuskan masalah.
3). Membuat jawaban sementara atau masalah atau hipotesis.
4). Mengumpulkan data atau fakta-fak-ta.
5). Menganalisis data atau fakta-fakta sebagai pengujian hipotesis.
6). Membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengujlan hipotesis.
7). Membuat altematif pemecahan masalah.
8). Menetapkan pilihan di antara altematif pemecahan masalah.
9). Menyusun rencana upaya pemecahan masalah.
10). Menatalaksanakan upaya pemecahan masalah,
11). Mengevaluasl hasil pemecahan masalah.
b.    Tahapan pemecahan masalah secara praktis
Tahapan pemecahan masalah yang lebih praktis adalah sebagal berikut:
1). Kesadaran adanya masalah.
2). Merumuskan masalah.
3). Mencari altematif pemecahan masalah.
4). Menetapkan pilihan di antara altematif pemecahan masalah.
5). Melaksanakan pemecahan masalah
6). Evaluasi hasil pemecahan masalah
3.    Pemecahan Masalah sebagai Pengambilan Keputusan
Mencermati tahapan-tahapan pemecahan masalah baik yang bersifat akademik maupun yang bersifat lebih praktis, ada dua langkah atau tahapan yang ada dalam kedua pendekatan tersebut yaitu perumusan masalah dan pemilihan aftenalif pemecahan masalah. Ada dua hal yang perlu dikemukakan di sini terkait dengan keterkaitan antara rumusan masalah dan penetapan pillhan pemecahan masalah pendekatan pengambilan keputusan sebagaimana diuraikan berikut ini.
a.    Keterkaitan rumusan masalah dan pemecahan masalah
Ada empat kemungkinan hubungan antara rumusan masalah dan keputusan atau solusinya yakni :
1). Kemungkinan 1 rumusan masalah benar dan pemecahannya yang benar.
2). Kemungkinan 2 rumusan masalah benar tetapi pemecahannya salah.
3). Kemungkinan 3 rumusan masalah salah tetapi pemecahannya benar.
4). Kemungkinan 4 rumusan masalah salah dan pemecahannya salah
Mencermati keempat kemungkinan hubungan antara rumusan masalah berikut solusinya, maka dapat dipahami mengapa perumusan masalah sangat penting dalam proses pembuatan keputusan dalam proses peemecahan atau solusi pemecahan dan sebuah masalah.
b.    Jenis-jenis pendekatan pengambilan keputusan
Pendekatan yang digunakan dalam pengambilan keputusan akan mempengaruhi langkah-langkah dan informasi yang diperlukan. Ada empat kemungkinan pendekatan yang digunakan dalam pengambilan keputusan (DiaJeng, 2002 : 81 - 83), yaitu
1). Keputusan yang didasarkan pada intuisi
2). Keputusan yang didasarkan pada pengalaman
3). Keputusan yang didasarkan pada kekuasaan
4). Keputusan yang didasarkan pada fakta.
Dari keempat pendekatan tersebut, hanya keputusan yang berdasarkan fakta yang merupakan keputusan bersifat akademik karena menggunakan fakta sehingga objektif dan dapat dipertanggungjawabkan alasannya secara objektif Ketiga pendekatan lainnya lebih bersifat subjektif sekalipun dalam prosesnya dimungkinkan menggunakan fakta tadi dalam skala yang terbatas sekali.
4.    Tahapan dalam Penerapan Problem-based Learning,
Berikut ini diberikan contoh tahapan yang dapat diterapkan dalam menyelenggarakan belajar dan pembelajaran dengan model PBL. Para guru dapat mengembangkan tahapan yang berbeda sesual dengan permasalahan yang akan didiskusikan serta kondisi kelas.
  1. Mempelajari standar isi dan standar kompetensi siswa dan kurikulum untuk menentukan karakteristik masalah yang sesuai untuk digunakan sebagai bahan belajar dan pembelajaran.
  2. Pelajari tingkat pengetahuan siswa untuk mempertimbangkan kompleksitas persoalan yang akan dijadikan bahan belajar dan pembelajaran.
  3. Buatlah soal atau tugas yang berisi masalah yang harus dicarikan solusinya oleh siswa atau kelompok siswa dengan merujuk kepada hasil analisis kurikulum dan tingkat kemampuan siswa.
  4. Beri pengkondisian awal kepada siswa sebelum diberi tugas masalah untuk dicarikan solusinya. Pengkondisian ini meliputi :
1). Penjelasan tentang langkah-langkah dan pendekatan dalam pemecahan
masalah,
     2).   Kegiatan dan hasil yang harus mereka kerjakan berikut kriteria keberhasilannya seperti waktu, prosedur yang harus ditempuh, ketersediaan data dan fakta, dan ruang lingkup solusi.
e.    Kegiatan diskusi atau pelaksanaan prosedur pemecahan masalah oleh siswa atau kelompok-kelompok siswa. Selama kegiatan ini berlangsung, guru berperan sebagai fasilitator dan tutor di antaranva denaan memberikan bimbingan dan motivasi kepada siswa, mengingatkan kepada siswa tentang apa yang mereka ketahui dan apa yang belum mereka ketahui mengingatkan apakah tahapan sudah benar dan mendorong partisipasi siswa.
f.     Menutup kegiatan dengan menyelenggarakan diskusi tentang hasil pernecahan masalah. jika kegiatan dilakukan berdasarkan kelompok, selenggarakan diskusi pleno dan minta setiap kelompok menyajikan hasil kegiatannya. Minta kelompok lain untuk menanggapi dan mengajukan pertanyaan unyuk mengajukan hasil kegiatannya. Dalarn kegiatan ini guru berperan sebagai moderator dan sekaligus sebagai penilai.
g. Guru melakukan penilaian terhadap hasil kegiatan siswa dan memberikan komentar serta pengarahan untuk ditindak lanjuti sebagai kegiatan pengayaan bagi siswa.
B.   COOPERATIVE LEARNING
Gagasan lengkap tentang pendekatan praktis cooperative learning dalarn konteks budaya Indonesia dikemukakan secara ringkas tetapi padat, lengkap dan enak dibaca dalam sebuah buku kecil yang ditulis o1eh Anita Lie, seorang praktisi pendidikan Indonesia yang berjudul "Cooperative Learning : mempraktikkan cooperative learning di ruang kelas". Sebagian besar dan isi bagian ini dirangkum dari buku tersebut.
I.     Kesalahan Paradigma Mengajar
Alfran lama di banding belajar dan pembelajaran lebih didasarkan pada teori tabularasa yang dikemukakan oleh John Locke yang memandang siswa sebagai kertas kosong yang siap dicoret-Coret oleh gurunya atau botol kosong yang siap di isi ilmu pengetahuan oleh gurunya. Oleh karena itu banyak pengajar yang mempraktikkan kegiatan belajar dan pembelajaran yang lebih berpusat kepada guru "leacher centered'. Akibatnya terjadi praktik-prtik belajar dan pembelajaran yang kalaupun tidak dapat disebut salah kaprah atau kesalahan paradigma. Tetapi kurang optimal karena guru mernbuat siswa pasif dalam kegiatan belajar dan tetap pernbelajaran. Praktik belajar dan pernbelajaran yang kurang kondusif bagi siswa dalarn mengembangkan potensinya karena pendekatan yang salah kaprah tersebut sebagaimana digaris bawah oleh Anita Lie adalah:
a.         Memindahkan pengetahuan dan guru ke siswa. Guru memberikan pelajaran yang telah dikernasnya atas pertimbangan pribadinya dan siswa rnenerima materi dan melaksanakan tugas-tugasnya. Materi yang diberikn banyak yang bersifat hafalan yang harus diingat oleh siswa.
b.        Mengisi botol kosong dengan pengetahuan. Perilaku mengajar seperti ini dikenal dengan istilah 'jug- syndrome" atau sindrom ceret air karena guru menganggap bahwa siswa adalah penerima pengetahuan yang pasif dan siap menerima apa saja yang diberikan oleh guru dan bagaimanapun cara memberikannya.
c.         Mengkotak-kotakan siswa. Guru menggelompokkan siswa berdasarkan capaian prestasinya seperti siswa bodoh dan siswa pintar, siswa yang berhak naik kelas atau lulus atau yang harus tinggal kelas dan gagal, siswa yang berhak memperoleh pekerjaan yang layak dan siswa yang tidak berhak. Dengan pandangan seperti itu kemampuan siswa direduksi ke dalam angka-angka.
d.        Memacu siswa ke dalam kompetisi bagaikan ayam aduan. Siswa dipacu untuk bekerja keras untuk saling mengalahkan dengan teman sekelasnya.
Akilbat negatif dan pendekatan ini menular kepada penilaku orang tua siswa di antaranya saling menyombongkan prestasi anaknya. Padahal dalam kehidupan masyarakat Indonesia budaya gotong royong atau kesetiakawanan sudah mengakar dan menjadi Andalan dan dalam membangun kehidupan bangsa yang sejahtera dan dalam pluralis.
2.    Paradigma Baru Belajar dan Pembelajaran
Para guru dan dosen 1upa bahwa teori-teori modern beIajar dan pernbelajaran terutama teori medan, teori konstruktivisme, dan teori hurnanisme mengingatkan bahwa siswa adalah sesuatu yang aktif dan unik, Serta mampu memberdayakan dirinya sendiri jika difasilitasi secara tepat. Paham modern ini justru menyarankan penerapan belajar dan pernbelajaran yang berpusat pada siswa atau "student centered' dan salah satu kemasan model belajar dan pembelajarannya adalah cooperative learning yang menurut Lie mengandung gagasan sebagai berikut :
a.        Pengetahuan ditemukan, dibentuk dan dikembangkan oleh siswa.
Mengikuti teori konstruktivistik yang dikembangkan oleh Jean Piaget, peran guru utama dalam belajar dan pembelajaran adalah menciptakan kondisi dan situasi yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membentuk makna dan materi yang dipelajarinya kemudian merekamnya dalam ingatan dan saswa saat kelak digunakan kembali atau dikembangkan lebih lanjut.
b.    Siswa membangun pengetahuan secara aktif.
Belaar adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa, bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Sebagaimana pandaman teori konstruktivistik, dalam menerima materi, yang diajarkan sisa tidak bersifat pasif. Akan tetapi, siswa secara aktif mernbangun struktur-struktur baru guna mengakornodasikan pengalaman-pengalarnan baru untuk mencapa kembali keseimbangan antara kognitif. Sebelum proses pembelajaran teeclah terjadi ketidakseimbangan antara kognisi yang telah terstruktur dalam diri siswa dengan kognist yang terkandung, di dalam materi pelajaran yang, merupakan pengalaman barunya.
b.        Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa.
Kegiatan belajar dan pembelajaran harus lebih ditekankan pada proses daripada hasil. Sebagaimana telah disinggung di depan, pertanyaan pedagogis yang tepat adalah bukan tanyakan apa yang harus dicapai siswa dan belajar dan pernbelajan tetapi lebih penting adalah menanyakan bagaimana siswa sebaiknya mencapai hasil tersebut. Untuk itu, guru harus mengembangkan proses belajar dan pembelajaran yang memfasilitasi terjadinya peningkatan kemampuan siswa sampai setinggi yang dia bisa.
d.    Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antar guru dan siswa.
Belajar adalah proses pribadi tetapi juga proses sosial yang terjadi hubungan antar individu dalam membangun pengertian dan pengetahuan bersama.
 3.   Falsafah Cooperative Learning
Berbeda dengan model pembelajaran kompetisi dan model individual learning yang menitik beratkan proses dan pencapaian belajar dan pembelajaran pada prestasi setinggi-tingginya yang siswa secara individual, model Cooperative learning di dasari olch filsafah bahwa manusia adalah mahluk sosial. Oleh karena itu, model pembelajaran ini tidak mengenal kompetisi antar individu. Model ini tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan kecepatan dan irarnanya sendiri. Sebaliknya, model ini menekankan kerjasama atapun gotong royong sesama siswa dalam mempelajari materi pelajaran (Lie, 2002 : 17 - 29).

Ada dua kemungkinan kerjasarna antar siswa dalam kelompok belajarnya, yaitu kooperatif-dan kolaboratif.
a.    Kooperatif adalah kerjasama antara siswa yang berbeda tingkatan kemampuannya. Siswa dengan kemampun yang lebih tinggi akan menularkan dan mendorong siswa yang lebih rendah kernampuannya. Dalam proses ini diyakini bahwa, tidak hanva siswa yang akan menerima manfaat dan siswa dengan kemarnpuan yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Akan tetapi, di lain pihak siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi dalam proses kerjasama tersebut akan memperoleh tantangan baru untuk meningkatkan kemampuannya ke tingkat yang lebih tinggi.
b.    Kolaboratif adalah kerjasama antara siswa dengan kemampuan yang setingkat. Kedua phak berbagi (share) pengalaman dan pengetahuan sehingga kedua pihak belah yang bekerja sama akan saling mengisi kekurangan sehingga saling melengkapi. Hasilnya, kedua pihak akan mcningkatkan pengetahuannya masing-masing.
4.        Unsur-unsur Cooperatif Learning
Ada lima unsur yang menjadi ciri dari cooperatif learning yang membedakamnya dengan model belajar dan pembelajaran kelompok yang lain (Lie, 2002 : 31), yaltu
a. Saling ketergantungan positif
b. Tanggungjawab perseorangan
c. Tatap muka
d. Komunikasi antar anggota
e. Evaluasi proses kelompok
5.    Langkah-langkah Cooperative Learning
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif (Trianto, 2006 : 48 - 49). Langkah-langkah tersebut ditunjukkan pada tabel 5.3. berikut ini :

Tabel 5.3.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah Laku Guru
Fase I
menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menvampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2
menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelornpok belajar dan membantu setiap kelompok agar rnelakukan transisi secara efisien
Fase 4
membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membirnbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau rnasing‑masing kelornpok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
C.      QUANTUM TEACHING
1.        Pengertian
Dalarn ilmu fisika kata quantum didefinisikan sebagal "Interaksi yang mengubah Energi menjadi cahaya (DePorter, Reardon, den Singer-Nounie, 1999 : 115). Dalarn teknik belajar dan pembelajaran pengertian quantum dapat diartikan sebagai berikut:
"Mendorong terjadinya interaksi antaRa siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan fasilitas belajar lainnya secara terarah sesuai dengan karakteristik diri, potensi, dan kebutuhan individual siswa guna rnengerahkan energinya untuk mencapai kegemilangan dalarn belajar.
Teaching adalah pengajaran. Jadi quantum teaching dapat diartikan sebagai orkestrasi bermacarn-macarn interaksi yang ada di dalarn dan sekitar moment belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan belajar siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah peserta didik menjadi cahaya yang bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain.
Quantum teaching memberikan petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan
belajar efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi dan mernudahkan proses belajar.
2.    Kerangka Perancanan Kegiatan
Ada enarn unsur yang menjadi kerangka dasar pernbelajaran dengan model Quantum Teaching agar mudah diingat disingkat menjadi TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan). Berikut adalah penjelasan dari keenarn kerangka tersebut secara ringkas (DePorter, Reardon, dan Singer-Nourte, 1999 -. 89), yaitu :
Turnbuhkan            : Sertakan diri mereka (siswa), pikat mereka, puaskan AMBAK
(Apa Manfaatnya BAgiKu).
Alami                     : Berikan mereka pengalaman belajar tumbuhkan "kebutuhan
 untuk rnengetahui".
Namai                     : Berikan "data", tepat saat minat siawa memuncak.
Demonstrasikan     : Berikan kesempatan bagi siswa untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru, sehingga rnereka menghayati dan menambatnya sebagai pengalaman pribadi.
Ulangi                     : Rekatkan gambaran keseluruhannya melalui pengulangan.
Rayakan             : Sesuatu yang pantas dipelajari tentu pantas untuk dirayakan jika berhasil dipelajari. Berikan penghargaan kepada kelas atas keberhasilan sernua.
3.        Prinsip Kecerdasan Jamak (Multiple Inteligence) dan Pembelajarannya
Salah satu prinsip yang dijadikan rujukan utama dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan quantum learning adalah prinsip kecerdasan jamak atau multiple intelligence. Prinsip yang dikembangkan oleh Gardner ini memandang bahwa :
a.    Semua manusia berbakat untuk menjadi jenius jika belajar dan pembelajarannya sesuai dengan minat, karakteristik belajar dan bakatnya. Oleh sebab itu pembelajaran yang menyeragarnkan siswa dan menyeragamkan metode akan mematikan potensi kejeniusan siswa tertentu karena tidak mengakomodir kekhasan minat, karakteristik belajar dan bakatnya.
b.    Kejeniusan manusia tidak dapat diukur dalam bidang yang sama, karena mereka lahir membawa minat, karakteristik belajar dan bakatnya sendiri-sendiri. Kita tidak dapat membandingkan siapa yang lebih jenius antara Muhammad Ali, Socrates, Soekarno, dan Mozart. Mereka jenius dalam bidannya masing-masing.

4.    Pertanyaan yang Harus Dijawab dalam Penerapan Quantum Teaching
Ada enam unsur yang terkait dengan TANDUR yang harus dijawab sebelurn menerapkan model belajar dan pembelajaran quantum teaching yaitu :
Tumbuhkan        : Bagaimana saya dapat menarik minat mereka? Apa yang dapat    menjawab AMBAK ? Respons siswa : Saya tertarik!
Alami                     : Apa yang harus mereka LAKUKAN agar mengerti ? Respons
siswa : "Sava ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya?"
Namal                     : Apakah "Aha" (suprise), "perbedaan", bagaimana caranya
Respons siswa : Oh saya mengerti.
Dernonstrasikan  : Bagairnana agar mereka bisa MENUNJUKKAN apa yang
mereka ketahui Respons siswa : "Lihat ini !
Ulangi                    : Bagaimana cara siswa MEMATRIKANNYA dalam ingatan mereka " Respons siswa "Saya tahu, saya tahu!"
Rayakan                 : Bagimana agar setiap ORANG dan setiap USAHA diakui ? Respons siswa : "Saya berhasil".


BAB VII
METODE-METODE PEMBELAJARAN

A.      PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN
Secara urnum metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu. Dalam pendidikan kata metode digunakan untuk menunjukkan serangkaian kegiatan guru yang terarah yang menyebabkan siswa belajar. Metode dapat pula dianggap sebagai cara atau prosedur yang keberhasilanya adalah di dalam belajar atau sebagai alat yang menjadikan mengajar menjadi efektif. Mengajar yang berhasil menuntut penggunaan metode yang tepat. Scorang guru yang balk akan memahami dengan baik metode yang digunakannya sebab melalui metode mengajar ia harus marnpu memberi kemudahan belajar kepada siswa dalam proses pembelajaran.
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran pada diri si pembelajar.
Prinsip dasar pendidikan yang dirnaksudkan di antaranya prinsip psikologis pendidikan dan Prinsip pedagogis. Sedankan teknik-teknik yang terkait dengan pembelajaran di antaranya teknik komunikasi dan teknik pengelolaan atau manajernen pembelajaran.
B.   PRINSIP, TEKNIK DAN MANAJEMEN PEMBELAJARAN
1.    Prinsip Psikologis Pendidikan
Prinsip psikologis dalam pembelajaran digunakan untuk memahami berbagai aspek psikologis pembelajaran yang meliputi : perkembangan intelektual, belajar dilihat perubahan perilaku, tingkatan kecerdasan, tingkatan intelektual dan motivasi dalam bejalar.
2.    Prinsip Pedagogis dalam Pembelajaran
Prinsip pedagogis atau prinsip pembelajaran yang, dimaksud meliputi berbagai teori dan pendekatan pcmbelajaran.
3.    Teknik Komunikasi dalam Pembelajaran
Teknik komunikasi dalam pembelajaran adalah bagaimana menyampaikan pesan atau materi pembelajaran serta bagaimana mengembangkan dialog di antara guru dan murid atau sesama murid secara efektif. Ini terkait dengan pengemasan, pengiriman media, gangguan, penerimaan, interpretasi, dampak dan umpan balik.
4.        Manajemen Pembelajaran
Teknik pengelolaan atau manajernen pembelajaran terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan clan penilaian dalam pembelajaran.
C.   BERBAGAI METODE PEMBELAJARAN
Banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan, tetapi ada sejumlah metode pembelajaran yang mendasar, sedangkan selebihniya adalah kombinasi atau midifikasi dari metode dasar tersebut. Berikut int akan dijelaskan secara ringkas berbagai metode pembelajaran dasar.
1.    Metode Ceramah
a.    Cirinya :
Dalam metode ceramah guru menyampaikan materi secara oral atau lisan dan siswa atau pembelajar mendengarkan, mencatat, mengajukan pertanyaan, dan evaluasi. b.             Keunggulan Metode Ceramah
1)      Dapat digunakan untuk mengajar siswa daiam Jumlah yang banyak secara bersamaan.
2)      Tujuan pembelajaran dapat didefinisikan dengan mudah.
3)      Pengajar dapat mengendalikan isi, arah, dan kecepatan pembelajaran karena inisiatif terutama terletak padanya.
4)      Ceramah yang inspiratif dapat menstimulasi siswa untuk belajar secara mandiri.
c.    Kelemahan Metode Ceramah
1)      Rumusan tujuan Instruksional yang sesuai hanya sampai dengan tingkat comprehension.
2)      Hanya cocok untuk kemampuan kognitif.
3)      Komunikasl cenderung satu arah (one way).
4)      Sangat bergantung pada kernampuan komunikasi verbal penyaji.
5)      Cerarnah yang kurang inspiratif akan menurunkan antusias belajar peserta.
d.    Langkah-langkah Menggunakan Metode Ceramah
Untuk menyelenggarakan pembelajaran dengan metode ceramah secara efektif, Christie sebagaimana dikutip oleh Gintings (2007 : 44 - 45) menyarankan agar melakukan 3 P yaitu Plan, Prepare, dan Present.
2.        Metode Tanya Jawab
a.        Cirinya
Materi ajar disampaikan melalui proses tanya jawab antara guru dengan siswa, dan sesama siswa. Metode tanya jawab diadopsi dari metode yang digunakan oleh Socrates seorang filsuf Yunani terkenal yang hidup pada masa sebelum Masehi. Socrates meyakini bahwa kebenaran hakiki atau pengetahuan dapat ditemukan dengan mengajukan dan menjawab pertanyaan mendasar atau pertanyaan filosofis dengan benar. Oleh karena itu, bertanya secara terprogram disebut "Soctartic Model of Teching" atau Model Mengajar Socrates. Model Mengajar Socrates. Model ini juga dikenal dengan istilah lain yaitu "interactive leaching model.
b.    Contoh Pertanyaaa -Mendasar dalam Pembelajaran
1). Apa yang dimaksud dengan informasi ?
2).  Mengapa panjang besi bertambah ketika suhunya dinaikkan ?
3). Kapan bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan
4). Di mana latak kerajaan Majapahit ?
5). Siapa yang merancang proses pembelajaran siswa ?
6). Bagaimana proses metabolisme dalam tubuh manusia ?
c.    Keunggulan Metode Tanya Jawab
1)      Memotivasi siswa untuk mempersiapkan diri dan mengikuti Pembelajaran secara
aktif
2)      Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan memperkaya pernahaman terhadap materi yang diajarkan.
3)      Dapat digunakan untuk menguji pengetahuan factual siswa untuk- berbagai tingkat kemampuan atau taxonomi untuk semua ranah terutama ranah kognitif
4)      Dapat digunakan sebagai alat motivasi ekstrinsik yang akan meningkatkan semangat belajar siswa serta ketertarikannya terhadap materi yang diajarkan.
5)      Dapat dgunakan untuk mengarahkan hasil belajar yang akan diharapkan akan dicapai oleh siswa karena tanya jawab akan mernfokuskan perhatian siswa pada, aspek tertentu materi pembelajaran.
6)      Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
d.    Pertanyaan yang Baik
Bagaimana tujuan mengajukan pertanvaan kepada siswa agar pertanyaan tersebut dapat dijawab olehnva sehingga proses pembelajaran mengalir dengan lancar sesuai rancangannya. Oleh sebab itu. petanyaan yang diajukan kepada siswa bukan harus pertanyaan dan sebaliknya, akan menjadi monoton atau bahkan membuat kegiatan yang mengganggu pembelajaran.

7)      Berikan bimbingan kepada siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan lain yang terkait tetapi dengan tingkat kognitif yang lebih rendah. jika siswa bisa menjawab pertanyaan yang diturunkan tingkat kognitifrnya tersebut, ajukan pertanyaan sebelumnva tetapi dengan menambahkan kaitannva dengan jawaban dari pertanyaan yang telah dijawab tadi.
8)      Untuk memotivasi siswa dan kelas, berikan penghargaan sepantasnya kepada jawaban yang benar, atau berikan dorongan semangat kepada jawaban yang belurn sepenuhnya benar dan tidak justru melecehkannya.
9)      Agar jawaban pertanyaan menjadi milik kelas, gunakan teknik jawaban silang yaitu dengan meminta komentar atau jawaban melengkapi atas jawaban seorang siswa dengan siswa yang lain.
f.     Menggali Pertanyaan dari Siswa
Banyak manfaat yang diperoleh dari penggalian pertanyaan siswa.
1)        Dari pertanyaan yang diajukan bsa diperoleh garnbaran tentang pemahaman siswa terhadap materi
2)                                Pengjar dapat melakukan koreksl segera terhadap kekurangan pembelajaran dan
pernahaman siswa yang tercermin dari pertanyaan siswa
3)        Mendorong percaya diri dan meningkatkan motivast belajar siswa.
4)        Mendorong siswa untuk memperkaya dan mernperdalam pernahamannva terhadap materi yang dipelajari.
5)        Mendorong partisipasi siswa dalarn proses pernbelajaran yang dapat meningkatkan ingatan siswa terhadap Jawaban pertanyaan.
6)        munculnya berbagai gagasan baru yang mempeluas dan memperdalam cakupan materi pembelajaran akibat dipicu oleh pertanyaan yang diajukan siswa.
7)        Menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif di kelas jika digunakan teknik jawaban silang dengan mana pertanyaan siswaa dilontarkan kepada kelas, bukan dijawab langsung oleh pengajar.
g.        Langkah-langkah Menggunakan Metode Tanya Jawab
1)      Pelajari topik atau subtopik vang, akan dipelajari oleh siswa dan buat catatan tentang aspek atau isu-isu utamanya.
2)      Buat pertanyaan yang terkait dengan isu-isu utarna dan catat dalam RPP.
3)      Sampaikan tujuan pembelajaran yang diikuti dengan ihktisar materi dan Selingi
dengan mengajukan pertanvaan yang telah disiapkan sesuai dengan isu atau aspek yang sedang disajikan.
4)     Tanggapi jawaban siswa atau lakukan teknik jawaban silang dengan meminta siswa lain untuk membenkan komentar atau melengkapi jawaban siswa tersebut.
5)     Buatlah rangkuman papan tulis yang berisi jawaban dari semua pertanyaan yang telah dijawab oleh siswa.
6)     Berlikan tugas lanjutan yang harus clikerjakan siswa untuk memperkaya pemahamannya tentang topik yang sedang dibahas.
3.    Metode Diskusi
a.    Cirinva :
Dalam metode diskusi proses pembelajaran berlangsung, melalui kegiatan berbagi atau "sharing" informasi atau pengetahuar, di antara sesama siswa. Dalam metode ini guru berperan sebagai fasilitalor dengan memberikan masalah alau topik yang akan dibahas dan beberapa aturan dasar dalam diskusi. Keberhasilan diskusi di antaranya dapat dilihat dari partistpasi dan kontnibusi peserta, ketertiban serta kelancaaran jalannya diskusi, dan tercapainya tujuan diskusi yang tercermin dari produktivitas diskusi.
b.    Keunggulan Metode Diskusi
1)   Menumbuhkan sikap ilmiah dan jiwa demokratis karena :
i)     Mendorong siswa untuk berpartisipasi serta memiliki rasa percaya diri untuk­mengernukakan pendapat.
ii)   Membiasakan siswa untuk mendapatkan dukungan dan sanggahan atas pendapatnya serta menerima pendapat prang lain.
2)   Tergalinya gagasan-gagasan baru yang memperkaya dan memperluas pemaharnan siswaa terhadap materi yang dibahas.
3)   Menciptakan suasana belajar yang partisipatif dan Interaktif
c.    Kelemahan Metode Diskusi
1)      Pembicaraan dalarn diskusi bisa keluar dari jalur atau batasan topik yang sedang dibahas
2)      Pengajuan pendapat didominasi o1eh siswa yang lebih siap, lebih menguasai materi dan atau oleh siswa yang memiliki kebiasaan mendominasi pembicaraan.
3)      Peserta yang tidak siap dan tidak percaya diri akan pasif dan tidak berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembicaraan,
4)      Diskusi melebihi waktu yang ditentukan atau diskusi tidak mencapai hasil yang diharapkan ketika batas waktu telah tiba.
5)      Ketika semua peserta diskusi tidak siap atau ada dua pihak yang saling mempertahankan pendapatnya, diskusi akan mengalami kebuntuan atau "dead-lock" dan tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
d.        Strategi Diskusi :
Dilihat dari sasaran akhir dan pengaturan skenario perserta, strategi diskusi dapat dibedakan atas :
1). Diskusi Tertutup
Ciri-ciri dari diskusi tertutup adalah
                                i.       Diskusi tertutup ditujukan untuk menghasilkan atau berakhir dengan sebuah kesimpulan atau kesepakatan.
                              ii.       Dalam diskusi tertutup pemimpin diskusi harus menguasai materi yang didiskusikan.
                            iii.       Pimpinan diskusi berperan dalam mengarahkan, penetapan judul, waktu diskusi, pernbicaraan dan lalu lintas pembicaraan.
2). Diskusi Terbuka
Diskusi terbuka memillki ciri-ciri sebagai berikut
                                i.       Diskusi terbuka tidak harus berakhir dengan kesepakatan karena lebih bersifat memperluas dan menggali pengetahuan peserta tentang topik yang dibahas.
                              ii.       Topik dipilih secara demokratis oleh peserta.
                            iii.       Pimpinan diskusi lebih berperan dalam mengatur lalu lintas dan aturan pembicaraan dan waktu serta menjamin bahwa sernua peserta berpartisipasi aktif.
e.         Diskusi Dilihat dari Pengorganisasian Peserta
Dilihat dari pengorganisasian peserta diskusi dapat dibagi atas
1). Diskusi Umum
2). Diskusi Kelompok Kecil
3). Diskusi Pleno
f.         Langkah-langkah Penyelenggaraan Diskusi
1)      Pelajari topik atau sub topik yang akan diajarkan dan buatlah sejumlah pertanyaan yang relevan dan diperhitungkan dapat merangsang terjadinya diskusi yang intensif dan interaktif.
2)      Siapkan ruangan diskusi termasuk ruangan, meubelair, serta pengaturan posisi duduk peserta.
3)      Siakan peralatan pendukung seperti papan tulis, alat tulisnya, penguat suara, dan peralatan media jika diperlukan atau jika tersedia.
4)      jika akan menyelenggarakan diskusi kelompok kecil, bagilah peserta ke dalam sejumlah kelompok kecil. Siapkan juga ruangan atau pengaturan pembagian ruangan sesuai dengan jumiah kelompok kecil.
5)      Berikan pertanyaan untuk didikusikan oleh peserta diskusi seluruhnya pada diskusi umum atau tugas untuk masing-masing kelompok dalam diskusi kelompok kecil. Pula penjelasan tentang apa yang diharapkan dari diskusi tersebut dan bagaimana siswa harus mendiskusikannya termasuk berbagai aturan dan tata tertib diskusi.
6)      Selama diskusi berlangsung, amati apakah diskusi berjalan sebagaimana diharapkan dilihat dan partisipasi siswa, fokus pembicaraan, ketertiban diskusi, pemanfaatan waktu, dan hasil yang dicapali.
7)      Buatlah rangkuman hasil diskusi. Dalam diskusi umum atau kelompok besar rangkuman dapat dilakukan dengan tanya jawab. Dalam diskusi kelompok kecil rangkuman diskusi dapat dihimpun dalam sebuah diskusi pleno.
8)      Berikan komentar dan tugas tambahan kepada siswa untuk rnemperkaya pemahamannya tentang topik yang dibahas.
9)      Tutuplah diskusi dengan menyampaikan terima kasih atas partisipasi dan keseriusan siswaa dalarn diskusi.
4.    Metode Peragaan atau Demontrasi
a.    Cirinya :
Mitode peragaan dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran teori maupun praktik. Padan kata peragaan dalam bahasa Inggris adalah demonstrasi. Sekalipun kedua kata tersebut secara umum dapat diartikan sebagai memperilihatkan, tetapi dalam konteks pembelajaran peragaan atau demontrasi tidak berarti sekadar rnern perhatikan tetapi lebih dari itu peragaan diartikan sebagai pembimbing dengan cara  memperlihatkan langkah-langkah atau menguraikan        rincian suatu proses. Lebih sederhana dari peragaan adalah showing atau memperlihatkan bentuk dan penampilan secara sepintas.
b.    Keunggulan Metode Peragaan
1)      Dalarn pembelajaran teori, peragaan akan memberikan peamahaman yang lebih konkrit tentang bagian suatu objek atau langkah-langkah suatu proses.
2)      Dalam, pembelajaran praktik, peragaan atau demontrasi akan menuntun siswa menguasai keterampilan tertentu secara lebih mudah dan sistematis termasuk mengingat Key Process Area (Area Proses Kunci) atau langkah-langkah kunci yang harus dikuasai oleh siswa.
c.    Kelemahan Metode Peragaan
1)      Memerlukan waktu persiapan dan peiaksanaan yang lebih banyak.
2)      Membutuhkan peralatan yang kadangkala mahal dan atau tidak dimiliki oleh sekolah.
3)      Agar efektif, peragaan harus dilakukan secara berulang dan dalarn kelompok yang kecil agar semua siswa mendapat kesempatan untuk memperhatikan  atau memainkan peran.
d.    Langkah-langkah Peragavin
1)      Langkah Perencanaan
2)      Langkah Persiapan
3)      Langkah Pelaksanaan
4)      Langkah Evaluasi dan Penutup
5.        Metode Bermain Peran a. Gambaran Umum
a.        Gambaran Umum
Metode bermain peran atau role playing adalah metode yang sangat efektif digunakan untuk mensimulasikan kehidupan nyata. Dalam metode im disusun sebuah skenario pembelajaran berdasarkan prosedur operasional atau kegiatan tertentu yang dapat diajarkan. Berikut adalah contoh-contoh dari kegiatan yang dapat diajarkan dengan menggunakan metode bermain peran.
1)   Ibadah keagamaan : manasik haji, sholat berjamaah, memohon maaf kepada lbu dan Bapak ketika lebaran, acara ritual agama selain Islam.
2)   Prosedur penyurusan surat menyurat, menabung di bank, mengirim surat di kantor pos dan pengurusan ijin usaha.
3)   Kegiatan sosial dan kegnatan sehari-hari lainnya : memasukkan surat suara dalam Pemilu, adat bertarnu, prosedur keberangkatan dengan transportasi tertentu, tata cara makan dalam acara formal (table manner).
4)   Kegiatan upacara resmi : upacara bendera, acara pelantikan pejabat, seminar, acara perkawinan.
5)   Kegiatan dalam pekerjaan tertentu : penanganan pasien gawat darurat dirumah sakit, penanganan keadaan darurat di sebuah gedung, melayani orang tua yang bermasalah, penerimaan siswa baru.
b.    Keunggulan Metode Bermain Peran
1)      Mampu melatih kompetensi siswa dalam melakukan kegiatan praktis yang mendekati keadaan yang sebenamya (real situation), sehingga sangat cocok untuk digunakan dalam pelatihan pembekalan petugas atau pekerja.
2)      Metode bermain peran yang dirancang secara cermat dan mendekati kegiatan yang sebenarnya serta dilaksanakan dengan serius akan menciptakan suasana belajar PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).
3)      Jika suasana pembelajaran dilaksanakan secara serius dan mampu menghadirkan suasana (atmosphere) yang mendekati keadaan sebenarnya, maka penggunaan metode permainan peran sangat efektif dalam mengerjarkan ranah efektif atau sikap.
c.         Kelemahan Metode Bermain Peran
Berikut ini adalah beberapa kelemahan utama dari penggunaan metode bermain peran :
1)      Tidak semua guru menguasai kompetensi yang akan disimulasikan sehingga jika dipaksakan menerapkan metode bermain peran, maka simulasi tidak mewakili kondisi nyata.
2)      Tidak semua guru memiliki kompetensi merancang kegiatan simulasi.
3)      Memerlukan persiapan dan penyiapan yang matang serta membutuhkan banyak waktu dan sumber daya lainnya.
4)      jika skenanio pembelajaran tidak dirancang dengan cermat dan tidak dilaksanakan dengan serius justru akan menjadi kegiatan yang sia-sia dan perubahan dalam ketiga ranah perilaku tidak akan tercapai.
5)      Bisa terjadi demotivasi dalam diri siswa yang kurang berperan dalam kegiatan tersebut atau memainkan peran yang kurang disukai.
6)      Jika waktu terbatas, tidak seluruh skenario pembelajaran dapat dituntaskan sehingga tidak semua kompetensi yang, diharapkan dapat dikuasai siswa dapat tercapai.
7)      Terdapat kemungkinan siswa hanva menguasai kompetensi dan peran yang dimainkannya saja sehingga tidak utuh
8)      Terdapat kemungkinan siswa tidak serius dalam memainkan perannya sehingga kegiatan pembelajaran menjadi ajang, mencemooh di antara mereka.
d.        Kemampuan yang hams Dikuasai dalam Merancang Role Playing
Untuk dapat merancang dan menyelenggarakan metode bermain peran dengan baik dan berhasil diperlukan sejumlah keahlian tertentu dari seorang guru, terutama
1)      Keahlian guru yang memadai dalam bidang kegiatan yang akan diperankan sehingga semua aspek atau komponen utama dari kegiatan tersebut dapat dijadikan kegiatan kunci dalam bermain peran.
2)      Keahlian yang spesifik dari guru untuk membuat skenario pembelajaran yang dapat mernadukan dengan tepat dan serasi antara tujuan pembelajaran, sarana yang tersedia, dan kegiatan nyata yang akan diperankan.
3)      Kesabaran dalarn mernbimbing siswa terutama ketika ada di antara mereka yang tidak memahami atau tidak siap untuk memainkan perannya.
4)      Kecermatan dalam mengawasi dan mencatat hal-hal yang spesifik termasuk kelebihan dan kekurangan siswa dalam memainkan perannya untuk dijadikan bahan diskusi sebagai penutup kegiatan bermain peran.
e.    Langkah-langkah Menyelengarakan Metode Bermain Peran
1)                            Langkah Perencanaan
2)                            Langkah Persiapan
3)                            Langkah Pelaksanaan
4)                            Langkah Evaluasi dan Penutup
6.    Metode Pembelajaran Praktik
a.    Gambaran Umum
Terutarna dalam pendidikan kehuruan, pendidikan profesi dan diktat (pendidikan dan pelatihan) keterampilan perlu dilakukan pengajaran praktik. Pengajaran praktik ditinjau dari lokasi pembelajarannya dapat dibedakan atas :
- Pengajaran praktik di bengkel atau laboratorium
- Pengajaran praktik di lapangan atau lokasi pekerjaan
1.      Pengaran praktik di bengkel atau laboratorium
Umunnya diselenggarakan untuk menguji konsep, teori, atau prinsip-prinsip dasar keilmuan tertentu. Kegiatan berisi percobaan atau eksperimen atau simulasi teknis untuk mernbuktikan kebenaran konsep, teori, dan prinsip dasar. Pratik di bengkel atau laboratorium juga diselenggarakan untuk melatih kompetensi tertentu terutama kompetensi dasar dalam situasi yang disimulasikan.
2.      Pengajaran Praktik di Lapangan atau Praktik Kerja
Tujuan utama yang diharapkan dicapai oleh pembelajar melalui pembelajaran di lapangan antara lain :
                             i.     Siswa memperoleh gambaran dan sunsana, nyata dari pekejaan profesinya dan menyadari kekurangannya sehingga menumbuhkan motivasi setidaknya motivasi ekstrinsik dan peningkatan gairah belajar dalam ciri siswa sehingga ia akan lebih giat dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikannya.
                           ii.     Terjadinya perubahan perilaku atau behaviour pada ranah pengetahuan, keterampilan terutama sikap atau afektif terkait dengan profesi yang sulit diperoleh ketika belajar praktik dalarn lingkungan simulasi di bengkel atau laboratorium.
                         iii.     Terjadi penularan profesionalisme atau "transfer of professionalism" dan' para pelaksana tugas di lapangan kepada pembelajar.
b.    Keunggulan Metode Pembelajaran Praktik
1)   Diperolehnya perubahan perilaku ranah psikomotor dalam bentuk keterampilan melakukan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesinya kelak.
2)   Mernpermudah dan memperdalam pemahaman tentang berbagai teori yang terkait dengan praktik yang sedang dikerjakannya.
3)   Meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa karena pekerjaan yang dilakukan memberikan tantangan baru baginya.
4)   Meningkatkan kepercayaan diri siswa tentang profesionalisme yang dimilikinya.
5)   Khusus untuk pembelajaran praktik yang dilaksanakan di lapangan atau praktik kerja, terdapat empat keunggulan utama lainnya yakni :
                                i.       Meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa karena memperoleh gambaran nyata tentang pekerjaan tempat mereka akan berkecimpung sebagai profesional kelak setelah menamatkan pendidikannya.
                              ii.       Memberikan masukan praktis dan baru bagi guru serta sekolah guna meningkatkan program pernbelajaran yang akan diterapkan di sekolah.
                            iii.       Menjadi sarana hubungan kerjasama yang lebih luas dan saling menguntungkan antara sekolah dan lembaga atau perusahaan yang bersangkutan.
                            iv.       Menjadi sarana promosi sekolah dan tamatan kepada lembaga atau perusahaan yang bersangkutan.
c.    Kelemahan Metode Pembelajaran Praktik
1)      Memerlukan persiapan yang matang meliputi kegiatan clan peralatan yang diperlukan.
2)      Siswa membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencapai kompetensi standar yang diperlukan di lapangan kerja sebenarnya.
3)      Memerlukan biaya yang tinggi untuk pengadaan bahan dan peralatan praktik.
4)      Membutuhkan biaya yang tinggi untuk pengoperasian serta pemeliharaan peralatan praktik.
5)      Memerlukan guru yang benar-benar yang terampit dalam melakukan pekerjaan yang akan dipraktikkan oleh siswa.
6)      Tingginya kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja mengingat siswa belum berpen-alaman clan belum terampil dalam menggunaKan peralatan.
d.    Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Praktik di Bengkel atau Laboratorium
1.                            Langkah Perencanaan
2.                            Langkah Persiapan
3.                            Langkah Pelaksanaan
4.                            Langkah Evaluasi dan Penutup
e.    Langkah-langkah Pelaksanaan Praktik di Lapangan atau Praktik Kerja
1.    Langkah Perencanaan
2.                            Langkah Persiapan
3.                            Langkah Pelaksanaan
4.                            Langkah Evaluasi dan Penutup
7.    Metode Kunjungan Lapangan
a.    Gambaran Umum
Kegiatan kunjungan lapangan diselenggarakan terutama untuk mernberikan kesempatan kepada siswa atau rnahasiswa atau peserta diklat melakukan pengamatan
kegiatan yang berkaitan dengan dunia profesinva dalam situasi nyata di lapangan. Tujuan utama yang diharapkan dicapai oleh pembelajar melalui pembelajaran kunjungann lapangan antara lain :
1)        Siswa memperoleh gambaran dan suasana nyata dari pekerjaan profesinya dan menyadari kekurangannya sehingga menumbuhkan motivasi setidaknya ekstrinsik dan peningkatan gairah belajaar dalam diri siswa sehingga la akan lebih giat dalanm proses pembelajaran di lembaga pendidikannya.
2)        Meluasnya wawasan atau terjadi perubahan perilaku. (behaviour) pada ranah pengetahuan atau kognitif terkait dengan profesinya kelak yang sulit diperoleh melalui pembelajaran di sekolah.
h.    Keunggulan Metode Kunjungan Lapangan
1)   Sangat efektif dalam memperluas wawasan siswa sebagai perubahan perilaku ranah kognitif tentang bidang pekerjaan sesuai dengan profesinya kelak.
2)   Memperkuat memperdalam pemahaman tentang aplikasi berbagai teori dan praktik yang dipelajari siswa di sekolah.
3)   Meningkatkan motivasi dan gairah belajar siswa karena memperoleh gambaran nyata tentang lapangan pekerjaan tempat mereka akan berkecimpung sebagai profesional kelak setelah menamatkan pendidikannya.
4)   Memberikan masukan praktis dan baru bagi guru serta sekolah guna meningkatkan program pembelajaran yang akan diterapkan di sekolah.
5)   Menjadi sarana hubungan kerjasarna yang lebih luas dan saling menguntungkan antara sekolah dan lembaga atau perusahaan yang bersangkutan.
6)   Menjadi sarana promosi sekolah dan tarnatan kepada lembaga atau perusahaan yang bersangkutan.
c.    Kelemahan Metode Kunjungan Lapangan
1)      Mernerlukan biaya yang relatif tinggi untuk transportasi, akomodasi, dan konsumsi peserta kunjungan lapangan.
2)      Kegiatan di lembaga atau perusahaan sasaran kunjungan tidak selalu sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai oleh siswa sebagaimana yang termuat di dalam kurtikulurn.
3)      Lokasi lembaga atau perusahaan sasaran junjungan lapangan tidak selalu berada dalam yang jarak mudah murah danau dan lokasi sekolah.
4)      Perencanaan dan persiapan kunjungan lapangan yang kurang matang justru akan mengalihkan tujuan kunjungan lapangan menjadi sekadaar wisata tanpa manfaat yang memadai dari sudut pandang pendidikan.
d.    Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Kunjungan Lapangan
1). Langkaah Perencanaan
2). Langkah Persiapan
3). Langkah Pelaksanaan
8.    Metode Proyek
a.    Gambaran Umum
Dengan metode proyek, siswa secara individual atau secara kelompok ditugaskan mengerjakan sebuah proyek dengan menerapkan berbagai kompetensi yang terkait secara terpadu untuk menghasilkan sebuah produk atau hasil karya yang nyata dan tuntas. Contoh dari penerapan metode proyek adalah membuat program aplikasi transaksi bisnis sederhana dalam pembelajaran komputer bagi siswa SMK, Kelompok Bisnis. Bagi siswa SMP, proyek yang dapat ditugaskan adalah melakukan survey tentang perkembangan harga bahan pokok di berbagai lokasi pasar lokal di sekitar sekolah sebagat bagian dari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Bagaimanapun, dibutuhkan kreativitas guru dalam memilih dan menetapkan proyek yang akan ditugaskan kepada siswa untuk diselesaikan.
b.    Keunggulan Metode Proyek
1)   Sangat efektif dalam memfasilitasi aplikasi berbagai kompetensi secara terpadu dalam kegiatan nyata dan produktif.
2)   Sangat efektif dalam mernbangkitkan motivasi belajar dan rasa tanggung jawab dalam diri siswa.
3)   jika dikerjakan secara kelornpok maka siswa akan belajar dan berlatih bekerja dalam sebuah tim dengan mana mereka berlatih dalam mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dalarn pembentukan ”teamwork­ yang kompak meliputi :
                                i.       Solidaritas dan rasa persahabalan di antara sesama anggota tim.
                              ii.       Mernbahas dan mendiskusikan bersarna masalah bersama dan pemecahannya.
                            iii.       Membahas dan mendiskusikan bersama prosedur pengerjaan proyek
                            iv.       Pembagian tugas clan tanggungjawab.
                              v.       Kerjasama dan koordinasi pelaksanaan tugas.
                            vi.       Menumbuh kembangkan sikap keterbukaan terhadap kesalahan dan kelemahan diri.
                          vii.       Berbagi kompetensi dan pengalaman.
c.    Kelemahan Metode Proyek
1)      Membutuhkan persiapan dan rancangan yang matang
2)      Membutuhkan keahlian memadai dari guru untuk memi1ih proyek yang sesuai dengan isi kurikulum.
3)      Dalarn beberapa, hal metode proyek menuntut konsekuensi biaya, yang cukup besar. jika blaya ini dibebankan kepada siswa, akan terasa memberatkan bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah.
4)      Untuk proyek yang menjangkau semua ranah perilaku dan jenjang kompmtensi yang tinggi memerlukan waktu tambahan di luar jadwal pelajaran.
d.    Langkab-langkah Pelaksanaan Metode Proyek
1). Langkah Perencanaan
2). Langkah Persiapan
3). Langkah Pelaksanaan
4). Langkah Evaluasi dan Penutup
9.    Metode Tutorial
a.    Gambaran Umum
Sejatinya metode tutorial adalah metode pembelajaran dengan mana guru memberikan bimbingan belajar kepada siswa secara individual. Oleh sebab itu metode ini sangat cocok diterapkan dalam model pembelajaran mandiri seperti pada pembelajaran jarak jauh dengan mana siswa. terlebih dahulu diberi modul untuk dipelajari. Kernudian siswa dapat mengkonsultasikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya dalam mempelajari modul tersebut kepada seorang tutor.
b.    Keunggulan Metode Tutorial
1)      Siswa memperoleh pelayanan pembelajaran secara individual sehingga permasalahan spesifik vang dihadapinva dapat dilayani secara spesifik pula.
2)      Seorang siswa dapat belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan k-emarnpuannya tanpa harus dipengaruh oleh kecepatan belajar siswa yang lain atau lebih dikenal deng istilah"Self Paced Learning".
c.    Kelemahan Metode Tutorial
1)      Sulit dilaksanakan dalam pernbelajaran klasikal karena guru harus melayani siswa dalam jumlah yana banyak sehingga memerlukan wktu dan pengaturan tahapan mengajar yang khusus.
2)      Jika tetap ak-an dilaksanakan, diperlukan teknik rnengajar dalam tim atau ”team leaching:" dengan pembagian tugas di antara anggota tim, seorang guru mengajar secara klasikal, dan seorang guru lainnya atau sistem melaksanakan tutorial bagi siswa yang memerlukan. Namun. penetrapan team leaching ini berakibat peninakatan biaya untuk membayar honorarium guru karena. bertambahnya jumlah guru yang melayani kelas tersebut.
d.    Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Tutorial
1)   Langkah Perencanaan
                         i.     Pelajari modul dengan seksama dan identifikasi bagian-bagian yang sulit dari isi modul tersebut.
                       ii.     Susun strategi bimbingan yang paling efektif untuk membantu agar siswa yang menghadapi kesulitan bisa mempelajari bagian yang sulit dengan lebih mudah.
2)  Langkah Persiapan
                         i.     Siapkan bahan ajar tambahan atau "suplemen" seperti variasi contoh-contoh penyelesaian soal dan atau tahapan-tahapan penyelesaian soal yang sistematis.
                       ii.     Gunakan contoh penyelesaian soal-soal sederhana dan mudah sebagat jernbatan menuju latihan penyelesalan soal-soal yang lebih sulit.
3)  Langkah Pelaksanaan
                         i.     Identifikasi siswa yang menghadapi kesulitan dalarn memahami modul yang telah diberikan berikut bagian yang dirasakan sulit dipahami. Hndarkan langkah ini dari kesan mempermalukan siswa di depan teman sekelasnya.
                       ii.     Laksanakan tutorial dengan menggunakan bahan dan langkah-langkah yang telah disiapkan. Untuk pernbelajaran praktik di laboratorium, peragaan ulang dari langkah-langkah praktik yang sedang dikerjakan akan sangat membantu siswa lebih memahami pelajaran yang sedang dilatih.
4).   Langkah Evaluasi dan Penutup
               i.     Lakukan tanya jawab untuk meyakinkan bahwa siswa yangbersangkutan telah mengatasi kesulitan belajarnva dari mernahami materi yang sedang dipelajari
             ii.     Beri tugas mandiri, termasuk mempelajari rujukan tarnbahan jika ada, dengan  tujuan memantapkan dan mernperluas pernahamannva tentang materi yang dipelajari.
10. Metode Andragogi
a.    Prinsip Metode Pembelajaran Andragogi
Secara etimologis kata adragogi berasal dari bahasa Yunani yaitu andr yang berarti dewasa dan agogos yang berarti membimbing (Sudjana, 2000 : 61). Pengertian lebih luas dari istilah andragogi di antaranya didefinisikan oleh Konwles sebagaimana dikutip oleh Sudjana (2000 : 62) yaltu " ... seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar". Jadi andragogi berbeda dengan paedagogi yang merupakan seni mengajarkan pengetahuan kepada anak-anak.
Sudjana (2000 : 63) mengemukakan bahwa menurut pandangan andragogi, settap pendidikan harus mampu membantu peserta didik dalam : (a) menciptakan suasana belajar yang kondusif melalui kerjasama dalam merencanakan program pernbelajaran, (b) menemukan kebutuhan belajar, (c) merumuskan tujuan dan materi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan belajar, (d) merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk peserta didik, (e) melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik dan sarana belajar yang tepat dan (f) menilai kegiatan belajar serta mendiagnosis kembali kebutuhan belajar untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya.
b.        Asumsi-asumsi dalam Metode Andragogi
Diasumsikan menurut Gintings (2007 : 81) bahwa orang dewasa berbeda dengan anak-anak dalam cara mereka belajar dan cara mereka bersikap karena :
1)   Orang dewasa ke dalam kelas mernbawa gaya kognitif mereka sendiri yang telah terbentuk sebelumnya.
2)   Orang dewasa telah memiliki kebiasaan belajar sendiri yang telah terbetut melalui pengalaman belajar sebelumnya.
3)   Orang dewasa telah memilliki sikap dan perasaan yang telah terbentuk dan tidak mudah diubah.
4)   Orang dewasa secara fisik memiliki keterbatasan dalam daya tahan, mobilitas, dan konsentrasi.
Di samping itu, Suqdana (2000 : 63 - 66) mengajukan pula sejurnlah asumsi-asums yang digunakan dalam menerapkan metode anrdagogi yaitu bahwa orang dewasa
1). Mernpunyai konsep diri
2). Mernpunyai akumulasi pengalaman
3). Mempunyai kesiapan untuk belajar
4). Berharap dapat segera menerapkan perolehan belajarnya
5). Memiliki kemarnpuan untuk belajar
11. Pembelajaran Kontektual / Contextual Teaching and Learning (CTL)
Keluarga maupun anggota masyarakat karena proses pembelajaran berlangsung alamiah di mana siswa dituntut aktif mencari, memahami dan mengalami sesuatu atau pengetahuan tersebut. Guru bukan sekedar mentransfer pengetahuan kepada siswa tetapi guru bertugas membantu siswa mencapai kebermaknaan dalam belajar, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi pernbelajaran dari pada memberi informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru bagi siswa dari hasil siswa menemukan sendiri pengetahuan clan keterampilan baru tersebut.
D.   MEMILIH METODE PEMBELAJARAN YANG TEPAT
Ketika memilih metode pembelajaran untuk digunakan dalam praktik mengajar, hal­-hal berikut ini harus dipertimbanakan :
1.    Tidak ada satu pun metode yang paling unggul karena semua memiliki karateristik yang berbeda dan memillki kelemahan serta keunggulan.
2.    Setiap metode hanya sesuai untuk pembelajaran sejumlah kompetensi tertentu dan tidak sesuai untuk pembelajaran sejumlah kompetensi lainnya.
3.    Setiap kompetensi memiliki karakteristik yang urnurn maupun yang spesifik sehingga pembelajaran suatu kompetensi membutuhkan metode tertentu yang mungkin tidak sama dengan kompetensi yang lain.
4.    Setiap siswa memiliki sensitifitas berbeda terhadap metode pernbelajaran.
5.    Setiap siswa memiliki bekal perilaku yang berbeda serta tingkat kecerdasan yang berbeda pula.
6.    Setiap materi pernbelajaran membutuhkan waktu dan sarana yang berbeda.
7.    Tidak semua sekolah memiliki sarana dan fasilitas lainnya yang lengkap.
8.    Setiap guru juga memiliki kernarnpuan dan sikap yang berbeda dalarn menerapkan suatu metode pembelajaran.
Dengan alasan tersebut, jalan terbaiknya adalah mengunakan kombinasi dari berbagai metode yang sesuai dengan :
a.    Karakteristik materi yang diajarkan
b.    Karakteristik siswa
c.    Kompetensi guru dalam metode yang akan digunakan
d.   Ketersediaan sarana dan waktu.
BAB VIII
MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN

A.      PERLUNYA MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN
Mengambil contoh dalam sebuah perjalanan, tujuan harus ditetapkan sebelum keberangkatan agar baik pengemudi maupun penumpang paham ke mana perjalanan akan berakhir dan bagaimnana cara serta route yang akan ditempuh agar sampai ke tujuan dengan, tepat waktu, tepat sasaran, selamat dan ternikmati. Analog dengan itu, tujuan pembelajaran harus ditetapkan sebelum proses belajar dan pembelajaran berlangsung agar guru sebagai pengemudi dan siswa sebagai penumpang memahami apa perubahan tingkah laku yang akan dicapai dan bagaimana mencapainya. Dengan demikian baik guru maupun siswa dapat menyiapkan diri baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap untuk mengikuti proses pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Rumusan tujuan pembelajaran yang jelas juga sangat diperlukan oleh guru dan penyelengara pendidikan untuk merancang dan menyediakan administrasi, sarana dan prasarana serta dukungan lain yang diperlukan.
Sebaliknya, pembelajaran yang tidak didukung oleh adanya tujuan yang jelas akan diselenggarakan secara tidak terarah dan kurang terdukung oleh berbagai kebutuhan yang diperlukan. Yang paling, parah, guru dan siswa tidak memahami apa yang akan dicapai, bagaimana mencapainya, apa bagaimana menggunakan sarana dan prasarana yang diperlukan dan tersedia, serta tidak jelas dan tegas bagaimana, mengevaluasi keberhasilan kegiatan. Akibatnya terjadi penyia-nyiaan (waisting) waktu, tenaga, dan sumber daya karena belajar dan pernbelajaran berlangsung kurang terarah dan tidak, ternikmati oleh baik siswa maupun guru.
B.   PENGERTIAN TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pernbelajaran Umum (TPU) dan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Pembahasan tentang kedua jenis tujuan pembelajaran tersebut adalah akan dikemukakan berikut ini.
1.    Pengertian dan Merumuskan Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran dapat dibedakan atas, TPU adalah penyataan tentang kemarnpuan atau tingkah laku siswa sebagai hasil belajar yang masih bersifat umum. Dikatakan umum di sini karena kemampuan tcrsebut belum tegas dalam arti masih dalam bentuk kernampuan internal yang tidak terarnati dan tidak terukur. Misalnya kata
kerja memahami.
Kata kerja rnemahami rnenyatakan perubahan tingkah laku atau kemampuan yang masih sangat umum. Makna yang terkandung dalarn kata memahami tidak memberikan gambaran yang tegas tentang tingkat dan ilustrasi konkrit dari perubahan tingkah laku yang akan dicapai. Pemahaman seseorang masih sulit diukur dan diamati. Oleh sebab itu, TPU tersebut masih perlu dijabarkan menjadi TPK.
2.    Pengertian dan Merumuskan Tujuan Pernbelajaran Khusus
Berbeda dengan TPU, TPK adalah pernyataan tegas tentang kemampuan atau tingkah laku sebagai hasil belajar. Yang dimaksud tegas di sini adalah menggunakan kata kerja Operasional yang dapat diarnati dan diukur (observable and measureable).
Contohnya kata menyebutkan, menjelaskan, melaksanakan, mengidentifikasikan, menyimpulkan, merekomendasikan, dan lain-lain.
Rurnusan TPK secara tegas menjelaskan kemampuan terukur yang dapat secara nyata diamati. TPK juga menggambarkan taksonomi dan ranah dari tingkah laku yang akan dicapai melalui pernbelajaran yaitu pengetahuan, keterampilan dan afektif.
3.    Daftar Kata Kerja Operasional dalam Rumusan Tujuan Pembelajaran
Kategori tujuan pernbelajaran dicirikan oleh kata kerja operasional yang digunakan. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk merumuskan TPU dan TPK oleh para ahli bahasa telah dihimpun dalam suatu tabel seperti termuat dalam lampiran I. Lampiran I ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Kolom I    : berisi kata-kata kerja Kemampuan Internal yang digunakan dalam merumuskan TPU
Koloni 2           : berisi kata kerja operasional yang digunakan untuk merumuskan TPK.
4.    Tujuan Pembelajaran dan Taxonomi Kemampuan
Dalarn menuliskan tujuan Pembelaaran, selain ranah kernampuan hal lain yang, perlu diperhatikan adalah tingkat atau taxon kemampuan. Namun, untuk ranah keterampilan dan sikap, sebenarnya Bloom sendiri tidak menguraikannya menurut taxonomi.
5.    Kriteria Kemampuan
 Teknik lain menuliskan tujuan pembelajaran terutarna untuk "skill objective" adalah rnelengkapi penyataan tujuan dengan syarat-syarat atau kondisi dan kriteria yang harus dipenuhi sebagai ukuran tercapainya perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar.
6.        TPK, KBM, dan Evaluasi
Dengan merujuk kepada perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk TPK, selanjutnya dapatlah dipilih dan ditetapkan (KBM). Kegiatan Belaiar Pembelajaran dan teknik evaluasi yang akan digunakan.

BAB IX
KOMUNIKASI DALAM BELAJAR DAN PE
MBELAJARAN

A.   DEFINISI KOMUNIKASI
Secara etimologi kata komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu "communis" yang artinya sama (Mulyana, 2000 : 41). Dari arti kata ini kemudian arti komumikasi berkembang menjadi sejumlah definisi yang dikemukakan oleh para ahli komunikasi. Dane Larson sebagaimana dikutip oleh Pace and Fawles, 1994 (Ginting, 2007 : 116) mencatat terdapat 126 definisi komunikasi yang dipublikasikan. Jumlah ini tentu belum termasuk definisi yang dikemukakan oleh penulis lokal.
Masing-masing definisi memilik kelebihan dan kekurangannya dan saling memperkuat. Seperti diingatkan oleh Black and Haroldsen, 1997 (Gintings, 2007 - 116) : "Sementara komunikasi merupakan konsep yang digunakan secara luas, setiap orang hendaknya mengetahui bahwa tidak ada kesepakatan yang tuntas di antara para ahli tentang dimensi istilah itu". Oleh sebab itu ada baiknya di sini dikernukakan beberapa definisi komunikasi untuk memperoleh gambaran yang luas dan komprehensif tentang arti komunikasi sebagai berikut :
Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (Mulyana, 2003 : 26) : "Komunikasi : transmisi, informasi, gagasan emosi, keterampilan dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.
Gerald R. Miller (Mulyana, 2003 : 26), "Komunikasi terjadi dari suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk- mempengaruh perilaku penerima."
Astrid Susanto (Kariyoso, 1994 : 6). "Komunikasi adalah proses pengoran
lambang-lambang yang mengandung arti."
Keith Davis (Kariyoso, 1994 : 6), "Komunikasi adalah proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain."
Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam konteks belajar dan pembelajaran komunikas merupakan sarana penting bagi seorang guru dalam menyelenggarakan proses belajar dan pembelajaran dengan mana guru akan membangun pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan. Melalui kornunikasi guru sebagai sumber menyampaikan informasi, yang dalam konteks belajar dan pembelajaran adalah materi pelajaran, kepada penerima yaitu siswa dengan menggunakan simbol-
simbol baik lisan, tulisan dan bahasa non-verbal. Sebaliknya siswa akan menyampaikan berbagai pesan sebagai respon kepada guru sehingga terjadi komunikasi dua arah guna meningkatkan keberhasilan komunikasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri siswa. Kesimpulan ini sejalan dengan pendapat dari R. Wayne Pace, Brant D. Peterson, dan M. Dallas Burnet (Effendy : 1984 : 32) yang menyatakan bahwa tujuan sentral komunikasi terdiri atas : "to secure the understanding to established acceptance" dan "to motivate action".
B.   MODEL-MODEL KOMUNIKASI
1.    Model Kornunikasi Lasswell
Lasswell seorang pakar komunikasi pada tahun 1948 mengetengahkan model komunikasinya dengan melalui pemyataannya yang sangat populer yaitu, "Who says what in which channel to whom with what effect? (Mulyana, 2000 : 136).
Dalam konteks belajar dan pernbelajaran, dari pemyataan Lasswell tersebut ada tiga hal yang dapat digaris bawahi. Pertama, unsur komunikasi terdiri dari :
What
;:
Pengirim atau komunikasi atau orang yang menyampaikan pesan atau guru
Says what
;:
Pesan atau materi pelajaran
On what channel
::
Media atau alat bantu belajar
To whom it may concern
::
Penerima atau komunikasi atau siswa
At what effect
::
Dampak atau hasil komunikasi atau hasil belajar siswa

Kedua, model komunikasi Lasswell tidak melibatkan umpan balik atau "feedback" sehingga bersifal komunikasi satu arah dari guru kepada siswa. Gaya kornunikasi ini dalarn belajar dan pembelajaran kurang dapat diterima karena akan menyebabkan siswa pasif dan kurang mernbangkitkan daya kritisnya. Akibatnva hasil belajar dan pembelajaran kurang maksimal.
Ketiga, model komunikasi Lasswell tidak rnernpertimbangkan gangguan komunikasi. Model ini menggarnbarkan bahwa proses komunikasi akan selalu berhasil, padahal dalam kenyataannya banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi termasuk dalam proses belajar dan pembelajaran.
2.    Model Komunikasi Schramm
Ada dua hal yang perlu digarisbawahi dari model komunikasi Schramm (Gintings, 2007 : 118 - 119) sebagail berikut :
Pertama, Schramm memperkenalkan gagasan tentang penyandian atau encoding dan penyandian ulang atau decoding. Penyandian adalah proses pengemasan pesan atau maksud oleh pengirim atau komunikator ke dalam susunan simbol-simbol tertentu seperti bahasa, tulisan, gerak tubuh, dan bahasa non verbal lainnya. Penyandian ulang adalah proses sebaliknya, yaitu menginterpretasikan kode-kode atau simbol-simbol ke dalam makna oleh perienma atau komunikasi. Dalam konteks belajar dan pembelajaran, guru harus mengemas rnateri pelajaran yang akan disampaikannya ke dalam bentuk simbol-simbol kalimat yang dapat dengan mudah diinterpretasikan oleh siswa.
Kedua, model Schramm memperhitungkan pengaruh pengalaman atau field of experience yang dimiliki oleh komunikator dan komunikan dalarn mendukung keberhasilan komunikasi. Dalam konteks belalar dan pembelajaran, salah satu aspek komunikasi yang harus dipertirnbangkan oleh guru sebagai komunikator dalam mengemas pesan adalah jenjang dan luasnya pengalaman siswa sebagai kornunikan dalarn konteks mateni pelajaran yang akan disampaikan. Kesalahan dalarn menyesuaikan pesan dengan latar belakang pengalaman siswa akan berakibat terjadinya salah pengertian atau miscommunicationn atau bahkan kegagalan komunikast atau communicationn breakdown.
C.   FUNGSI KOMUNIKASI
Liliweni, 22004 (Gintings, 2007 : 119) mengemukakan bahwa secara umum ada empat fungsi  komunikasi dalam organisasi. Keempat fungsi komunikasi tersebut dapat diadopsi ke dalam konteks belajar dan pembelajaran sebagai berikut :
1.        To tell atau Menjelaskan.
Komunikasi berfungsi menginformasikan dan menjelaskan materi pelajaran termasuk informasi-informasi lain yang diperlukan siswa dalam proses pendidikannya.
2.    To sell atau Menjual gagasan.  
Komunikasi berfungsi menjual isi kurikulurn yang meliputi sistem nilai, gagasan, fakta dan sikap yang diharapkan akan diadopsi atau dimiliki siswa.
3.    To learn Bela jar
Komunikasi berfungsi sebagai sarana yang diperlukan baik oleh siswa rnaupun guru untuk belajar tentang kompetensi yang diperlukannya, tentang dirinya, tentang diri orang dan lain dan tentang lingkungannya.
4.    To decide atau Memutuskan
Fungsi ini berkaitan dengan bagaimana guru, dan masyarakat sekolah lainnya
memutuskan dan mengkomunikasikan keputusannya tentang pilihan-pilihan yang dibuatnya, pendistribusian tanggung jawab dan hak, kebijkakan dan lain sebagainya.

D.  UNSUR-UNSUR KOMUNIKAS1
1.    Pengirim atau Komunikator
Komunikator adalah yang menginisiasi pengiriman pesan. Dalam konteks belajar dan Pernbelajaran peran sebagai komunikator ini dapat diperankan oleh guru maupun siswa sehingga terjadi komunikasi dua arah. Ketika guru menyampaikan materl pelajaran kepada siswa, ia berperan sebagai komunikator siswa sebagai komunikan. Sebaliknya ketika siswa bertanya atau menyampaikan jawaban pertanyaan kepada guru, siswa berperan sebagai komunikator dan guru berperan sebagai komunikan. Dilihat dan segi kompetensi komunikasi, keberhasilan komunikasi di antaranya ditentukan oleh dua faktor.
a.                Kemampuan komunikator dalam mengemas pesan yang akan disampaikannya.
b.                Kemampuan komunikan dalam menginterpretasikan pesan yang diterimanya.
2.    Penyedian atau Encoding
Yaitu proses yang dilakukan oleh komunikator untuk mengemas maksud atau pesan yang ada dalam benak dan hatinya menjadi simbol-simbol, suara tulisan, gerakan tubuh, dan bentuk lainnya untuk dapat dikirimkan kepada komunikan. Dalam belajar dan pembelajaran, guru harus mengemas materi pernbelajaran yang akan disampaikannya kepada siswa ke dalam bentuk tulisan, ucapan, atau gerakan.
3.    Pesan atau Message
Adalah maksud atau informasi yang akan disampaikan oleh komunikator  kepada komunikan melalui simbol-simbol. Jadi dapat juga dikatakan bahwa pesan adalah sesuatu atau makna yang terkandung dalam simbol-simbol. Pesan ini dapat berbentuk verbal yaitu ucapan dan tulisan, atau berbentuk non verbal berupa gerak tubuh atau ekspresi wajah. Dalam belajar dan pernbelajaran, pesan ini adalah materi pelajaran.
4.    Saluran dan Media
Saluran adalah tempat di mana pesan dalam bentuk simbol-simbol tadi dilewatkan dari komunikator ke kornunikan. Bagi manusia saluran komunikasi ini di antaranya panca-­indera yang dapat berupa pendengaran, penglihatan, penciuman, rabaan, dan rasa. Oleh sebab itu, manusia dapat mengirimkan pesan secara tertulis melalui surat, papan tulis, buku, faxcimile dan lain sebagainya. Pesan dalam bentuk
suara dapat disampalkan secara langsung, dan melalui pengeras suara, cassette recorder, CD Player, radio dan lain sebagainya. Pesan dalam bentuk audio visual dapat disampalkan lewat film projector, TV dan lain sebagainya. Semua media ini dapat digunakan dalam proses belajar dan pembelajaran.
5.    Penyandian Ulang dan Decoding
Yaitu proses yang dilakukan o1eh komunikan untuk menginterpretasikan simbol­-simbol yang diterimanya menjadi makna. Pemahaman penerima terhadap pesan yang diterimanya merupakan hasil komunikasi,. Pemahaman siswa tentang penjelasan guru atau sebaliknya interpretasi guru terhadap Jawaban siswa adalah proses penyandian ulang atau decoding.
6.    Penerima atau Komunikan
Adalah penerima pesan atau individu atau kelompok yang menjadi sasaran komunikasi. Ketika guru memberikan penjelasan kepada siswa, maka siswa berperan sebagal komunikan. Sebaliknya, ketika siswa rnenyampaikan jawaban atas pertanyaan atau usulan kepada guru, maka guru lah yang berperan sebagai komunikan.
7.    Umpan Batik atau Feedback
Adalah Informasi yang kembali dari komunikan ke komunikator sebagai respon terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator. Dari umpan balik ini komunikator dapat mengetahui pemaharnan dan reaksi kornunikan terhadap pesan yang dikirimnya. Dengan adanya umpan batik ini akan terbentuk arus komunikasi dua arah.
Dalarn konteks pendidikan, umpan balik ini sangat penting artinya bagi keberhasilan belajar dan pembelajaran. Dengan adanya umpan balik dari siswa, guru akan mengetahui apakah materi yang disampaikan telah dipahami dan apa kesulitan siswa dalam memahami jika ada selanjutnya tindakan remedial apa yang perlu dilakukannva.
Sebaliknya, urnpan balik dari guru misalnya dalam bentuk nilai atau hasil kerja siswa akan mengingatkan kepada siswa sampai sejauh mana penguasaannya terhadap materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan umpan balik tersebut siswa dapat rnernutuskan tindakan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan hasil belajarnya jika kurang mernuaskan.

E.   HAMBATAN KOMUNIKASI
1.   Hambatan Semantik
Hambatan atau ganguan semantik atau gangguan bahasa yaitu gangguan yang diakibatkan oleh kesenjangan pemahaman atau kesalahan dalarn menafsirkan pesan oleh komunikan. Ini di artikanya disebabkan oleh pemakaian kata dan tata bahasa yang tidak tepat, serta perbedaan pengertian terhadap istilah tertentu. Sehingga, tidak jarang pesan diterima sebagaimana yang dikirimkan, tetapi dimaknai secara berbeda oleh penerima. Sebagairnana dikemukakan dalam model komunikasi Schramm, latar belakang pengetahuan komunikan yang berbeda dengan komunikator juga mempengaruhi daya pemahaman komunikan terhadap pesan yang diterimanya.
2.    Hambatan Saluran
Hambatan atau gangguan yang terjadi pada saluran atau channel noise mempengaruhi keutuhan fisik simbol-simbol yang dikirim oleh komunikator kepada komunikan. Kesalahan cetak dalam buku pelajaran, terganggunya suara guru atau siswa karena kebisingan yang terjadi di dalam kelas tidak terlihatnya tulisan guru di papan tulis karena padamnya lampu dan bergoyangnya gambar di layar overhead projector adalah beberapa contoh gangguan saluran komunikasi dalam belajar dan pembelajaran.
3.    Hambatan Sistem
Sekalipun tidak terjadi hambatan semantik dan tidak juga terjadi hambatan saluran, akan tetapi sebagaimana dikemukakan oleh Woolcott, Unwin dan Kandom, 1993 (Gintings, 2007 : 122), "Pesan yang disampalkan tidak akan tiba pada pihak yang memerlukan informasi yang tepat dan cepat jika tidak tersedia sistem formal yang efektif " Pernyataan ini mengingatkan bahwa kelancaran dan keberhasilan komunikasi di sekolah juga ditentukan di antaranya oleh kebijakan dan sarana yang tersedia. Kasus siswa yang bunuh diri hanya karena tidak marnnu mernbayar iuran untuk membeli media pembelaran adalah bukti nyata harnbatan sistem ini. Sekiranya sekolah tersebut terselenggara sistem-sistem komunikasi yang baik, kejadian yang menyedihkan tersebut dapat segera dicegah.
4.    Hambatan Hubungan Interpersonal
Terkait dengan hambatan sistem, sikap seseorang dalam memandang arti dan manfaat komunikasi akan menentukan apakah la mendukung atau justru nenghindarkan terjadinya kornunikasi. Sikap tertutup guru atau sebaliknya sikap tertutup siswa akan menjadi hambatan komunikasi di antara, guru dengan siswa yang berujung kepada kurang, kondusifnya suasana belajar dan pembelajaran. Bagaimanapun situasi ini akan berpengaruh pula terhadap keberhasilan belajar siswa.
F.    ARAH KOMUNIKASI
Dalam proses belajar dan pembelajaran ada tiga arah komunikasi yang mungkin terjadi baik secara terpisah maupun secara bersamaan. Ketiga arah komunikasi tersebut adalah
•   Komunikasi satu arah
•   Komunikasi dua arah
•   Komunikasi multi arah
G.   JENIS-JENIS KOMUNIKASI
Dalam bagian ini akan dibahas tentang berbagai jenis komunikasi yang terkait dengan guru dalam belajar dan pembelajaran. Jenis komunikasi tersebut meliputi :
-                           Komuunikasi verbal
-                           Komunikasi non verbal
-                           Komunikasi antar pribadi
-                           Komunikasi intrapribadi
-                           Komunikasi organisasi
-                           Komunikasi antar budava
H.   GURU DAN KOMUNIKASI DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Setelah dihahas dengan cukup luas rnengenai berbagai aspek teknik komunikasi, perlu dikemukakan tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang guru sehubungan dengan membangun komunikasi yang kondusif dalarn belajar dan pembelajaran. Sehubungan dengan itu, ada sejumlah saran kepada guru untuk diterapkan dalam pelaksanaan tugas profesinya yaitu :
Pertama : untuk meningkatkan keberhasillan pelaksanaan tugasnya dalam penyelenggaraan belajar dan pembelajaran, selain kompetensi lainnya, guru harus memiliki kompetensi komunikasi karena komunikasi merupakan sarana utama dalam belajar dan pembelajaran. Di antara kompetensi komunikasi yang harus dikuasai oleh guru adalah :
a.    Kemampuan menggunakan bahasa pengantar yang baik, benar, efektif, dan efisien serta disesuaikan dengan tingkat kernampuan siswa.
b.    Mengatur irama suara melalui pengaturan variasi nada, volume, dan kecepatan sehingga tidak mernbosankan siswa.
c.    Menggunakan bahasa nonverbal seperti gerakan tubuh (body language) atau gesture dan movement serta ekspresi lainnya untuk memberikan kesan dan tekanan terhadap materi penting yang disampaikan.
Kedua : Guru harus meyakinkan dirinya bahwa ia memiliki kompetensi komunikasi yang baik sebagai syarat untuk mampu melakukan komunikasi yang produktif dalam arti efektif dan efesien. Seorang guru harus mampu mengemas pesan-pesan pembelajaran dengan baik meliputi susunan kalimat, tata bahasa, pemilihan istilah hingga menyesuaikan kemasan dengan latar belakang kernampuan dan pengalaman siswa. Kegagalan guru dalam melakukan komunikasi yang tepat hanya akan mernbuat kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakannya kurang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi siswa.
Ketiga : Guru menjamin bahwa semua siswa memillki kesempatan dan memiliki keberanian mengemukakan pendapatnya dalam diskusi atau kegiatan belajar lainnya. Dengan demikian akan tercipta arus komunikasi yang multi-arah sehingga, semua siswa dapat mengekspresikan potensinya secara maksimal. Terkait dengan hal ini, guru harus mampu mendeteksi terjadinya hambatan komunikasi terutama akibat dominasi siswa atau kelompok siswa tertentu terhadap siswa, dan kelompok siswa lainnya. Dalam konteks pergaulan di sekolath, dampak lebih luas dari dominasi ini adalah terjadinya "bulimia" yaitu eksploitasi kelompok siswa tertentu terhadap kelompok siswa lainnya.
Keempat : Di samping itu, guru harus pula mampu membaca adanya rasa rendah diri pada sebagian siswa yang menyebabkannya enggan berpartisipasi dalam komunikasi dengan sesama temannya maupun dengan guru. Ketertutupan ini akan menyebabkan siswa tersebut kurang memiliki kesempatan memperoleh manfaat dari kegiatan belajar dan pembelajaran melalui kegiatan yang bersifat kooperatif dan kolaboratif. Ketertutupan juga layak dikhawatirkan menjadi sebab siswa akan menghadapi kesulitan dalam kehidupan sosialnya kelak di kemudian hari. Dalam kasus seperti itu meningkatkan keterbukaan hati dan rasa percaya diri serta mendorong agar aktif berkomunikasi dengan guru dan sesama siswa lainnya.
Kelima : Bagaimanapun kelas merupakan tempat di mana kehidupan berbangsa dan bernegara ditanamkan dalam jiwa siswa. Dalam konteks masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang pluralis. guru harus mampu menciptakan iklim komunikasi yang mencerminkan  kehidupan yang Bhineka Tunggal Ika. Lebih tegas lagi, guru harus marnpu menciptakan kelas sebagai miniatur NKRI melalui penciptaan iklim komunikasi
yang kondusif dengan demikian sebagaimana ditekankan oleh Unesco, bahwa pendidikan di antaranya di tujukan untuk membentuk siswa yang, mampu untuk "To live together" atau hidup bersama secara setara dan saline membantu.














BAB X
MEDIA DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   PENGERTIAN MEDIA DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Kata media adalah bentuk jamak dari kata medium yang berasal dari bahasa Latin yang berarti pengantar atau perantara. Dalam konteks belajar dan pembelajaran, media dapat artikan sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan atau materi ajar dari guru sebagai komunikator kepada siswa sebagai komunikan dan sebaliknya.
Ada juga yang mengartikan media sebagai alat bantu mengajar atau ”teaching aid”. Oleh sebab itu, sekalipun telah tersedia media pembelajaran, masih diperlukan guru, teknik, metode, dan sarana serta prasarana lain termasuk dukungan lingkungan untuk menciptakan komunikasi untuk penyampaian pesan pembelajaran dengan berhasil sebagaimana direncanakan oleh guru.
 






Gambar 10.1. Kedudukan Media dalam Penyampaian Pesan Pembelajaran
B.       MANFAAT PENGGUNAAN MEDIA DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Dalarn Pedoman Penatar Pekerti-AA yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi - Departemen Pendidikan Nasional disebutkan ada delapan rnanfaat media dalarn penyelenggaraan belajar dan pernbelajaran waktu :
1.    Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan.
2.    Proses instruksional lebih menarik.
3.    Proses belajar lebih interaktif
4.    Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
5.    Kualitas belajar dapat ditingkatkan.
6.    Proses belajar dapat terjadi kapan dan di mana saja.
7.    Meningkatkan sikap positif siswa terhadap proses dan bahan belajar.
8.    Peran pengajar dapat berubah ke arah positif dan produktif.


C.   JENIS-JENIS MEDIA DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
1.    Media Visual
Media ini menampilkan materi pembelajaran dalam bentuk sesuatu yang dapat dilihat oleh mata manusia. Berdasarkan teknologinya, alat media visual dapat dibedakan atas :
a.    Media visual non-elektrik atau non-elektronik
Yaitu media visual yang bekerjanya atau penggunaannya tidak memerlukan tenaga listrik. Contoh dan media visual non-elektrik atau non-elektronik adalah sebagai berikut :
1) Papan tulis
2) White Board
3) Flane Board
4) Flip Chart
5) Poster
6) Model atau Solid Aid.
b.    Media visual elektrik atau elektronik
Yaitu media visual yang bekerjanya atau penggunaannya memerlukan tenaga listrik. Contoh dari media visual elektrik atau elektronik adalah sebagai berikut :
1). Slide Projector
2). Opaque Projector
3). Overhead Projector atau OHP
2.    Media Audio
Media ini menampilkan materi pelajaran dalam bentuk sesuatu yang dapat didengar oleh telinga manusia. Berdasarkan teknologinya alat media audio dibedakan atas
  1. Media audio non-elektrik atau non-elektronik
Yaitu media audio yang bekerjanya atau penggunannya tidak memerlukan tenaga listrik. Contoh dari media audio non-elektrik atau non-elektronik adalah peralatan musik akustik seperti gitar, gamelan, dan lain sebagainya yang di gunakan dalam pembelajaran seni suara atau seni musik.
  1. Media audio elektrik atau elektronik
Yaitu media audio yang bekerjanya atau penggunaannya memerlukan tenaga listrik. Contoh dari media audio elektrik atau elektronik adalah sebagai berikut:

1). Amplifier
2). Radio
3). Tape Recorder
4). CD Player
3.    Media Audio-Visual
Media ini menampilkan maten pembelajaran dalam bentuk sesuatu yang dapat didengar oleh telinga dan dilihat oleh mata manusia. Pada beberapa Jenis peralatan audio visual gambar yang ditampilkan juga dapat bergerak. Contoh dari peralatan media audio visual adalah : slide projector yang dipadukan dengan tape reccorder, televisi, film strip projector, video player, dan DVD player dan computer.
Keunggulan darl media visual adalah bahwa dengan semakin banyaknya panca indera yang dilibatkan dalam proses komunikasi pernbajaran, maka semakin banyak materi pembelajaran yang dapat diserap oleh siswa. Di samping itu, media audio visual dapat menyajikan objek dan peristiwa nyata di kelas untuk dijadikan bahan pembahasan atau diskusi yang menarik.
4.    Multimedia
Media int menampilkan materi pernbelajaran dengan teknik yang memadukan sernua keunggulan peralatan media audio dan visual dengan berbagai teknik penyajian yang memanfaatkan teknologi komputer dan LCD Projector sebagai peralatan utamanya. Dengan penggunaan multimedia, guru dapat langsung mengetik hasil diskusi dan menampilkannya dalam waktu bersamaan di layar. Multimedia juga memungkinkan dilakukan animasi, pemotongan sebagian dari gambar objek untuk diperbesar dan dijadikan bahan pembahasan dan lain sebagainva.
Keunggulan lain, selain hasilnya dapat langsung dicetak untuk dibagikan kepada­ siswa dalam bentuk hard copy, siswa juga dapat mengcopy langsung, untuk- memperoleh soft copy ke dalarn CD atau flash disc. Multimedia juga memungkinkan untuk belajar secara individual  dan melakukan belajar jarak jauh atau dikenal dengan istilah e-learning.
Namun demikian, penggunaan multimedia membutuhkan keterampilan yang khusus dalarn pengoperasian komputer dengan perangkat lunaknya. jika pengajar tidak memiliki kemampuan tersebut, maka la memerlukan seorang asisten atau operator. Selain itu, penggunaan multiniedia juga memerlukan biaya pengadakan dan pengoprasian yang mahal.



BAB XI
MENYIAPKAN BAHAN PELAJARAN

A.   PENGERTIAN TENTANG BAHAN PEMBELAJARAN
Bahan pembelajaran adalah rangkuman materi yang diajarkan yang diberikan kepada siswa dalam bentuk bahan tercetak atau dalam bentuk lain yang tersimpan dalarn file elektronik baik verbal maupun, tertulis. Untuk mengupayakan agar siswa memiliki pemahaman awal tentang materi yang akan dibahas, sebaiknya bahan pembelajaran diberikan kepada siswa sebelum berlangsungnya keglatan belajar dart pembelaiaran. Dengan dernikian, dapat diharapkan partisipasi akitif siswa dalam diskusi maupun tanya jawab di kelas.
B.   PERBEDAAN BAHAN PEMBELAJARAN DENGAN BUKU TEKS
Tidak sedikit kalangan yang salah paham dalam mengartikan bahan pembelajaran sehingga menyamakannya dengan buku teks. Oleh sebab itu perlu dikemukakan perbedaan antara keduanya yang secara umum sebagaimana dikemukakan dalam tabel 11 .1. berikut :
Tabel 11.1.
Perbedaan Bahan Pernbelajaran dan Buku. Teks
Aspek
Bahan Pembelajaran
Buku Teks
Tujuan Pembelajaran
Yang Terkandung
Spesifik- sesuai dengan standar
kompetensi lulusan
Bersifat umum sesuai
dengan asumsi penulis
Isi
Rangkuman atau cuplikan dari
buku teks atau prosedur
kegiatan yang terkait langsung
dengan tujuan pembelalaran dan
standar isi atau meruiuk kepada
TNA( Training Needs Anaysis)
Dapat merujuk sepenuhnya
kepada kurikulum akan
tetapi dapat merujuk kepada sistematika ilmiah suatu topik bahasan.

Tingkat kedalaman
materi
Disesuaikan dengan kondisi
kelas dan atau berdasarkan tes
awal
Disesuaikan dengan
tuntutan perkernbangan
i1miah
Bentuk
Cuplikan, Rmgkasan'Materi, Prosedur
Himpunan materi lengkap
Macamnva
Lembar Teon atau Hand Out,
Modul, Lembar Praktik atau Job
Sheet, Tape Recorder, CD
Pembelajaran
Buku, majalah, dan diktat
Pembuat
Guru vang akan menvajikan
materi atau tim yang  ditunjuk oleh lembaga pengelola pendidikan
Penulis professional yang bekerjasama dengan penerbit
Lingkup Penggunaan
Internal lembaga pendidikan tertentu
Masyarakat luas



CMANFAAT BAHAN PEMBELAJARAN
1. Jika diberikan kepada siswa sebelum kegiatan belajar dan pernbelajaran berlangsung  maka siswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan dibahas sehingga siswa:
  1. Memiliki kemampuan awal (entry behaviour) yang memadai untuk mengikuti kegiatan belajar dan pembelajaran sehingga dapat mencapai keberhasilan belajarnya yang maksimal.
  2. Dapatdiharapkanpartisipastaktifnyadalamdiskusidantanyajawabketikakegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung.
2.      Pembelajaran di kelas berjalan dengan lebih efektif dan efisien karena waktu yang tersedia dapat digunakan sebanyak-banyaknya untuk kegiatan belajar dan pembelajaran yang interaktif seperti tanya Jawab, diskusi, dan kerja kelompok.
3.      Siswa dapat mengembanekan kegiaian belaJar mandiri dengan kecepatannya sendiri.
D.   KRITERIA BAHAN PEMBELAJARAN YANG BAIK
  1. Sesuai dengan topik yang dibahas
  2. Mernuat intisari atau informasi pendukung untuk memahami maten yang dibahas
  3. Disampaikan dalarn bentuk kemasan dan bahasa yang singkat, padat, sederhana, sisternatis sehingga mudah dipahami
  4. Jika perlu dilengkapi contoh dan ilustrasi yang relevan dan menarik untuk lebih mempermudah memahami isinya
  5. Sebaiknva diberikan sebelum berlangsungnya kegiatan belajar dan pembelajaran sehingga dapat dipelajarl terlebih dahulu oleh siswa
  6. Mernuat gagasan yang bersifat tantangan dan rasa ingin tahu siswa.
E.   STRATEGI MENYUSUN BAHAN PEMBELAJARAN
1.    Menyusun bahan pembelajaran berdasarkan kurikulum
Ketika menjalankan tugas mengajar pada pendidikan formal atau non-formal yang penyelenggaraannya menggunakan kurikulum, maka rujukan utarna dari bahan ajar yang disusun adalah:
a.  Standar kompetensi lulusan yang tertuang dalam tujuan pembelaja
b. Standar isi
c.  Standar sarana
d. Buku pegangan utama yang digunakan
2.    Menyusun bahan pembelajaran berdasarkan peta pemikiran
Peta pernikiran atau "mind map" dapat disusun dengan mengajukan pertanyaan filosofis yang dikenal dengan istilah 5 W + 1 H yang berarti :
Ø        What atau Apa
Ø        Who atau Siapa
Ø        Why atau Mengapa
Ø        When atau Kapan
Ø        Where atau Dirnana
Ø        How atau Bagaimana
F.  ASPEK PROFESIONALISME DAN LEGALITAS
Dalarn rnengernbangkan bahan pernbelajaran seorang guru sebagai akadernisi dituntut untuk merniliki jiwa dan kesadaran profesionalisme. Yang dirnaksud Jiwa dan kesadaran profesionalisme terutarna terkait dengan:
1. Kebenaran ilmiah dari isi yang termuat di dalarn bahan pernbelajaran
2. Relevansi materi yang terkandung dengan tujuan  belajar dan pebelajaran
3. Disajikan dengan rnenarik sehingga mudah dipaharni
Di sarnping itu, seorang guru dalarn menyusun bahan pernbelajaran harus memperhatikan kaidah hukurn dan perundang-undangan yang berlaku terkait plagiarisme dan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

















BAB XII
PENGELOLAAN KELAS

A.   PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Suharsimi Arikunto sebagaimana dikutip oleh Djamarah dan Zain (2006 : 177) mengartikan pengelolaan kelas sebagai kernampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang scluas-luasnya kepada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk perkembangan murid.
Fathrrohman dan Sutikno (2007 : 104) menyimpulkan bahwa pengelolaan kelas merupakan usaha yang dengan sengaja dilakukan oleh guru agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan pernbelajaran.
Dari kedua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa secara praktis pengelolaan kelas dapat diartikan sebagal up-aya dan tindakan yang dilakukan oich guru untuk menciptakan suasana belajar dan pembeiajaran yang kondusif bagi tercapainya lujuan pembeiajaran. Pengertian ini meliputi pengelolaan administrasi, sarana dan prasarana baik fisik maupun non fisik.
B.   TUJUAN PENGELOLAAN KELAS
Berpegang pada pengertian pengelolaan kelas yang telah diungkapkan sebelumnva, dirumuskan bahwa pengeiolaan kelas adalah upaya untuk menciptakan berlangsungnya maka kegiatan belajar dan pembelajaran baik di dalarn ruangan maupun di luar ruangan secara produktif, aktif, kreatif, dan menyenangkan (PAIKEM). .Indikator keberhasilan pengelolaan kelas yang mampu menjadi salah satu pendukung terciptanya kegiatan belajar dan pembelajaran yang PAKEM adalah :
  1. Terjadi perubahan perilaku atau tercapainya tujuan belajar dan pembelajaran secara maksimal sebagaimana diharapkan di dalam kurikulum.
  2. Selarna jam pelajaran berlangsung, guru dan siswa terlibat secara aktif dan saling berinteraksi dalarn kegiatan belajar dan pembelajaran sebagaimana dirancang di dalam RPP.
  3. Terjadi kegiatan-kegiatan yang bersifat perluasan dan pengayaan yang positif dan produktif, melampaui skenario belajar dan pembelajaran yang telah disusun di dalarn RPP
  1. Tercipta suasana batin atau suasana hati yang ceria dan antusias baik di dalam diri guru maupun siswa selama kegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain terlihat jelas adanya motivasi instrinsik di dalarn diri guru dan siswa.
  2. Tidak dirasakan kelelahan mental dan fisik di dalam diri siswa maupun guru selama dan setelah kegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung.
  3. Tidak terjadi kecelakaan kerja baik terhadap siswa maupun guru selama kegiatan  belajar dan pembelajaran beriangsung.

C.   ASPEK-ASPEK KELAS YANG HARUS DIKELOLA DAN MANFAATNYA
1.    Aspek Administrasi
Administrasi kelas meliputi berbagai kegiatan tata usaha dan pendataan yang terkait dengan subjek dan sarana pendidikan yang ada di kelas. Kegiatan administrasi kelas yang menjadi tanggung jawab guru meliputi :
  1. Absensi atau catatan kehadiran siswa.
  2. Laporan tentang materi yang dibahas selama kegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung.
  3. Laporan tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang beriangsung selama jam pelajaran.
  4. Catatan-catatan anekdotal atau kejadian penting yang terjadi selama kegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung.
  5. Catatan tentang keberadaan, penggunaan serta peralatan yang digunakan meliputi peralatan media, peralatan praktik, meubelair dan peralatan terkait lainnya.
  6. Catatan tentang ketersedlaan dan penggunaan bahan praktik yang digunakan.
  7. Administrasi nilai siswa baik nilai harian, nilai tes formatif, nilai tes surnatif, nilai akhir mata pelajaran, serta nilai kepribadian siswa.
  8. Bagi seorang wali kelas termasuk pengadministrasian nilai raport siswa untuk sernua rnata pelajaran yang dlikutinya.
2.   Aspek Fasifitas Fisik
Dalam aspek fisik, seorang guru bertanggung jawab dalam mengelola ketersediaan, keterpakaian, perawatan, serta keselamatan penggunaan berbagai fasilitas fisik yang diperlukan bagi terselenggaranya kegiatan belajar dan pernbelalaran secara rnaksimal. Aspek fisik ini meliputi fasilitas :
a.       Ruangan termasuk rasio sjsxva dengan luas ruangan, penerangan, kecukupan udara dan kebisingan
b. Meubelair
c. Peralatan media
d. Peralatan praktik
e. Peralatan keselamatan kerja termasuk peralatan P3K dan pernadam kebakaran
f.  Peralatan pendukung lainnya.
3.    Aspek Fasilitas Non fisik
Aspek ini terutama terkait dengan aspek psikologis yang dirasakan oleh guru dan siswa. Guru harus menjamin bahwa di kelasnya :
a.  Tidak terladi intimidast atau konflik antara guru dengan siswa, di antara sesama  siswa, serta di antara guru, siswa dan pengelola pendidikan lainnya.
b. Tidak terdapat dominasi atau diskriminasi baik perlakuan, perhatian, dan komunikasi antara guru dengan siswa, di antara sesama siswa serta di antara guru, siswa dan pengelola pendidikan lainnya.
c. Semua siswa secara proporsional memperoleh layanan pendidikan baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.
d. Semua siswa memperoleh kesempatan dan diorong untuk mengekspresikan pendapat dan menampilkan dirinya secara positif dalam rangka rriendukung pertumbuhan kepribadiannya yang unik dan positif serta berprestasi sesual den-gan bakat yang dimilikinya.
e. Semua siswa tidak tercabut dari akar budava dan keyakinan aslinva tetapi  dibimbing untuk menjadi bagian dari semesta yang pluralistis.
Terciptanya suasana non fisik seperti ini di kelas sangat diperlukan bagi penciptaan suasana belajar dan pernbelajaran yang menyenangkan. Lebih jauh dari itu, jika siswa dimisalkan sebagai bibit tumbuhan., suasana kelas yang, kondusif merupakan tanah dan lingkungan yang  sangat mendukung  turnbuh menjadi tanaman yang subur, indah, segar, dan rnanfaat baik bagi dirinva, keluarganya, maupun bagi masyarakat luas dan lingkungannya.

D. BEBERAPA TIPS UNTUK MENCIPTAKAN PENGELOLAAN KELAS YANG BAIK
Ada beberapa tips menurut Gintings, (2008 - 163 - 165) untuk menciptakan pengelolaan kelas yang baik, vaitu
1.    Tata Letak Kursi
Ada beberapa cara mengatur tata letak kursi atau bangku di dalarn ruangan belajar.
Tata letak ini di antaranya dipengaruhi oleh tiga hal :
-    Banyaknya siswa atau besar kecilnva kelompok.
-    Kegiatan belajar dan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
-    Bentuk dan ukuran ruangan.
Salah satu atau kombinasi dan ketiga faktor tersebut akan menentukan tata letak kursi yang bagaimana yang paling cocok digunakan sehingga siswa merasa nyarnan dan memperolch kesempatan menglkuti kegiatan belajar dan pembelajaran dengan baik.
2.   Mengatasi Demam Panggung
Beberapa cara untuk mengatasi &-marn panggung adalah sebagai berikut
a. Persiapan hendaknya matang, karena bila guru menguasai materi dan tahu cara menyampaikannya dengan efektif, maka akan bangkit rasa percaya pada diri sendiri.
b. Kuasai betul kata-kata pembukaan, lima menit pertama merupakan ujian. Bila guru berhasil melaluinya, maka akan timbul rasa tenang dan selanjutnya sesi akan berjalan dengan lancar.
c. Jangan menghafal mati kata-kata yang akan diucapkan. Buatlah catatan-catatan kecil dahulu dan pelajarilah.
d. Mernbuat catatan kecil dalarn kartu akan banyak membantu kelancaran bicara kita.
e. Berlatihlah di depan cermin panjang untuk melihat penampilan di depan siswa.
f. Pelajarilah siswa yang hadir bila mungkin perhatikanlah mereka sebelurn sesi dirnulai. Pada saal membuka sesi pandanglah mereka sebentar sampai mereka diam. Ini akan memberikan ketenangan dan kepercayaan diri pernyaji atau guru.
g. Perlu membentuk sikap mental yang tepat. Yakinkan diri bahwa kelompok ini akan belajar dari guru dan mereka lebih tertarik pada materi yang akan guru berikan dari pada diri guru secara pribadi.
h. Konsentrasikan untuk membantu para siswa rnengikuti sajian guru secara santai. Dengan cara ini guru sendin juga merasa santai.
i. Setelah persiapan untuk mengatasi demam panggung dirasa sudah cukup matang, untuk menambah motivasi dan rasa percaya diri, lakukan IMAGERY TRAINING yaitu melakukan simulasi ruangan sendiri dengan membayangkan peristiwa penyajian yang akan guru lakukan dari cara berpakaian sampal dengan presentasi selesai.

BAB XIII
EVALUASI BELAJAR

A.   KEGUNAAN EVALUASI BELAJAR
Mehrens dan Lehman Newble dan Cannon, 1983 dalam Gintings, 2008 : 168) menemukan serta menunjukkan beberapa kegunaan atau tujuan dari evaluasi belajar yaitu,
  1. Menilai tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan.
  2. Mengukur peningkatan kemampuan dari waktu ke waktu.
  3. Merangking siswa berdasarkan pencapajan tujuan belajamya
  4. Mendiagnosa kesulitan-kesulitan belajar yang dialami siswa.
  5. Mengevaluasi efektivitas metode mengajar yang ditarapkan.
  6. Mengevaluasi efeiktivitas kursus.
  7. Memotivasi peserta didik untuk belajar.
Perlu digaris bawahi bahwa walaupun mungkin saja satu penilaian dapat digunakan untuk lebih dari satu kegunaan di atas, tetapi tidak jarang pula suatu penilaian kurang termanfaatkan sehingga gagal memberikan data yang valid (sahih) dan reliabel (ajeg).
Jangan dilupakan bahwa evaluasi belajar sangat berpengaruh bagi siswa terutama apablia evaluasi tersebut berdampak bagi masa depan mereka seperti halnya tes sumatif. Dalam hal ini, evaluasi dapat berdampak positif, tetapi juga dapat berdampak negatif. Oleh sebab itu, diperlukan kearifan dalam melaksanakan evaluasi.
Di antara yang harus diperhatikan adalah bahwa evaluasi benar-benar valid (sahih alau absah.) dalam arti terkait dengan tujuan instruksional dan rnerefleksikan isi materi yang diajarkan dan kegiatan belajar dan pembelajaran selarna pendidikan berlangsung.
B.   TES FORMATIF DAN TES SUMATIF
1.    Tes Formatif
Tes formatif adalah tes yang dilaksanakan ketika program pendidikan sedang berjalan. Tujuan utama dari tes formatif adalah untuk rnengetahui masalah dan hambatan kegiatan belajar mengajar termasuk metode belajar dan pernbelajaran yang digunakan guru, kelemahan dan kelebihan seorang siswa. Hasil tes formatif merupakan Umpan balik positif bagi guru dan siswa. Oleh karena itu, tes ini dapat dilaksanakan
secara kurang formal seperti tes lisan misalnya.
Sedangkan tes uraian adalah tes dengan reliabilitas yang rendah. Dengan tes jenis ini dimungkinkan adanya dua jawaban yang berbeda dari dua orang siswa yang berbeda, tetapi diinterpretasi atau diberi nilai yang sama oleh guru penilai yang sama. Sebaliknya, guru yang berbeda ketika menilai satu kertas kerja dari seorang siswa yang sama akan diinterpretasikan secara berbeda dan memberikan nilai yang berbeda pula.
3.    Praktis
Sebaik apapun validitas dan reliabilitas suatu tes, masih perlu dipertimbangkan apakah tes tersebut cukup praktis diterapkan. Praktis di sini meliputt dana, waktu, kemampuan penguji dan pengolah. Tes praktik kedokteran dengan menggunakan pasien sebenarnya penguji sangat valid dan reliable. Tetapi metode tes seperti ini tidaklah praktis. Sangat sulit mengumpulkan pasien dengan keluhan yang sama untuk sejumlah peserta tes.
D.   PATOKAN ACUAN NORMA DAN PATOKAN ACUAN KRITERIA
Dalam teknik evaluasi belajar dikenal 2 (dua) patokan acuan atau metode menetapkan nilai hasil tes. PAN (Patokan Acuan Kriteria atau Criterion Referenced). Dengan PAN standar (Patokan Acuan Norma) penilaian yang dijadikan dasar dalam menentukan nilai akhir dan kelulusan seseorang ditentukan dengan hasil evaluasi seluruh peserta. Dengan kata lain, nilai yang diperoleh peserta adalah relatif terhadap nilai seluruh peserta yang ditetapkan secara statistik dengan distribusi normal atau tabel konversi.
1.    Kelemahan Penilaian Menggunakan PAN
Kelemahan dari penggunaan PAN dapat dijelaskan dengan menggunakan contoh-­contoh berikut ini :
  • Dua buah SMA yang berada di wilayah yang sama menerapkan tes yang tidak distandarkan dan dibuat o1eh sekolah masing-masing. Penilaian yang dilakukan oleh kedua sekolah menggunakan PAN.
  • Seorang siswa bernama Dadap mengikuti pendidikan di SMA X yang merupakan sekolah dengan prestasi rendah memperoleh nilai rata-rata A. Siswa tersebut adalah siswa termasuk kategori terbaik di antara siswa yang bodoh.
  • Seorang siswa bernama Waru menjalani pendidikan di SMA Y yang merupakan sekolah unggul memperoleh nilal C. Siswa tersebut termasuk kategori siswa dengan prestasi sedang-sedang saja di antara siswa-siswa yang unggul.
Dari kedua contoh tersebut, dapat disimpulkan kualitas hasil pendidikan di wilayah dalam mana kedua sekolah X dan Y berada tidak standar. Hasil evaluasi akan mengecoh pengguna tamatan kelak Ketika keduanva si Waru dan si Dadap melanjutkan ke perguruan tinggi yang sama, akan terlihat bahwa si Dadap ketika di SMA memperoleh nilai rata-rata A menghadapi kesulitan mengikuti perkuliahan. Sebaliknya si Waru justru dapat lebih cepat memahami isi perkuliahan walau ketika di SMA memperoleh nilai rata-rata C.
2.    Keunggulan Penilaian Menggunakan PAN
Keunggulan utama penggunaan PAN adalah bahwa peserta lebih banyak yang lulus atau memperoleh nilai tinggi.
3.    Kelemahan Penilaian Menggunakan PAK
Karena nilai siswa ditentukan berdasarkan kriteria yang terstandar, bukan dibandingkan terhadap teman sekelompoknya, maka bisa terjadi siswa dalam satu kelompok gagal semua.
4.    Keunggulan Penilaian Menggunakan PAK
Dalam pendidikan profesi lebih disukai penggunaan tes yang menggambarkan tentang kemampuan siswa yang mencapai kompetensi minimal yang standar. Apabila ini yang menjadi tujuan dari evaluasi, maka PAK adalah metode yang paling cocok. Dengan metode evaluasi PAK, standar kelulusan telah ditetapkan sebelum pelaksanaan tes tanpa memperhitungkan distribusi nilai hasil tes. Sekalipun dengan penggunaan PAK memungkinkan banyaknya peserta yang gagal, namun dalam metode ini validitas tes menjadi tinggi.
Keunggulan tes dengan pendekatan PAK dapat dijelaskan dengan menggunakan
contoh berikut ini :
  • Dua buah SMA yang berada di wilayah yang sama menetapkan tes vang distandarkan dan dibuat olch satu tim pembuat soal di wilayah tersebut. Soal dibuat dengan didasarkan pada SKL (Standar Kompetensi Lulusan). Penilaian yang dilakukan oleh kedua sekolah menggunakan PAK.
  • Seorang siswa bernama Mawar mengikuti pendidikan di SMA X yang, merupakan sekolah dengan prestasi rendah memperoleh nilai rata-rata B. Siswa tersebut adalah siswa termasuk kategori baik sesuai standar kompetensi lulusan yang terstandar dan berlaku di wilayah tersebut.
  • Seorang, siswa bernama Kenanga menjalani pendidikannya di SMA Y yang merupakan sekolah unggul memperoleh nilai rata-rata C. Siswa tersebut adalah termasuk kategori siswa dengan prestasi sedang-sedang saja sesuai standar kompetensi lulusan yang terstandar dan berlaku di wilayah tersebut.
Dari kedua contoh tersebut, dapat disimpulkan kualitas hasil pendidlkan di wilayah dalam mana kedua sekolah X dan Y berada adalah terstandar. Hasil evaluasi tidak akan mengecoh pengguna tamatan kelak. Ketlka keduanya si Mawar dan si Kenanga melanjutkan ke perguruan tinggi yang sama akan terlihat bahwa si Mawar yang ketika di SMA memperoleh nilal rata-rata B dan berasal dari sekolah dengan prestasi rendah tidak menghadapi kesulitan mengikuti perkuliahan. Sebaliknya, si Kenanga justru menghadapi kesulitan memahami isi perkuliahan karena ketika di SMA memperoleh nilal rata-rata C sekalipun berasal dari sekolah yang unggul.
E.   METODE EVALUASI
Berikut im dibahas tentang tiga dari sekian banyak metode evaluasi yang digunakan termasuk dalam pendidikan kedokteran. Ketiga metode tersebut adalah
1. Tes Uraian
Tes bentuk uraian mulai jarang digunakan karena sekalipun mudah membuatnya tetapi membutuhkan banyak waktu dalam memeriksa dan mengolah nilainya. Di samping itu, relatif rendahnya reliabilitas tes uraian dan semakin populemya menggunakan tes objektif membuat tes jenis ini kurang disukai oleh sementara pengajar.
Terlepas dari kelemahan-kelemahan itu, tes uraian adalah satu-satunya cara untuk menilai kemampuan siswa mengkomposisikan jawaban dalam suatu pernyataan atau kalimat-­kalimat yang efektif. Oleh sebab ltu tes uraian secara tidak langsung mengukur sikap, sistem nilai dan opini siswa.
  1. Jenis-jenis Tes Uraian
Dari segi bentuk, Tes Uraian dibedakan atas dua jenis :
- Uraian jawaban Terbuka (Extended Response), dan
- Uraian jawaban Terbatas (Restricted Response).
1). Uraian Jawaban Terbuka
Tes ini mengukur pengetahuan faktual, kemampuan memberikan dan mengorganisasi gagasan-gagasan, dan menyajikan dalam kalimat-kalimat yang koheren. Oleh karenanva, tes jenis ini sangat cocok untuk menguji
tujuan pengetahuan (Knowledge Objective) pada taraf atau taxon yang tinggi (Analisis, Sintesis, Evaluasi)
2). Uraian Jawaban Tertutup
Tes jenis ini membutuhkan jawaban yang terarah dan terbatas dari peserta tes. Jenis ini sangat baik digunakan untuk mengukur pengetahuan dalarn taraf yang lebih rendah (ingatan, konprehensif, dan aplikasi). Keunggulan dari tes uraian jenis ini dibandingkan uraian terbuka adalah kemudahan dalam memberikan skor.
b.    Prosedur Membuat dan Pemberian Skor Tes dengan Soal Bentuk Tes Uraian
Ada lima langkah yang harus diikuti dalam membuat soal untuk tes uraian seperti yang diuraikan di bawah ini :
1)   Tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang menggambarkan kemampuan seperti dinyatakan dalam TIK. Gunakan kata-kata pengarah yang tegas seperti uaraian, bandingkan, bedakan, kritiklah, dan jelaskan. Bila menggunakan kata pengarah "diskusikan" jelaskan aspek-aspek yang harus didiskusikan.
2)   Siapkan pertanyaan dalam kalimat yang lengkap sekalipun panjang agar diperoleh jawaban yang singkat, sekitar 1 halaman, terarah seperti diharapkan. Ini lebih baik
daripada pertanyaan dibuat singkat tetapi membutuhkan jawaban yang panjang misalnya hingga 3 halaman. Lengkapnya pertanyaan dimaksudkan untuk menekan bias dalam penilaian.
3)   Sebaiknya soal harus dijawab oleh semua peserta. Hindarkan untuk memberikan kesempatan kepada peserta untuk memilih soal, misalnya siswa dapat memilih 3 dari 5 soal yang diberikan. Dengan cara ini akan sangat sulit membuat perbandingan yang valid di antara siswa bila mereka menjawab pertanyaan yang berbeda.
4)   Siapkan sistem pemberian skor dan nilai, misalnya dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti contoh berikut ini :
Skor Maksimum Ideal untuk pertanyaan no : 2
Kelengkapan analisa   :  10
Argumen logis             :  5
Bahasa                         :  5    +
Skor Total                   :  20

5) Berikan skor atau nilai Jawaban peserta dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini :
                         i.     Kertas kerja dinilai dengan tidak mengetahui nama peserta (nama dapat
digantikan dengan nornor kode) menghindari subjektifitas penilaian.
                       ii.     Nilailah hanya satu soal atau pertanyaan secara bersamaan dalarn satu waktu
atau siapkan penilai yang berbecla untuk setiap satu soal atau pertanyaan yang berbeda
                     iii.     Gunakan standar skor secara konsisten untuk semua kertas kerja.
                     iv.     Usahakan untuk memeriksa jawaban satu soal dari sernua kertas kerja tanpa interupsi agar secara tidak langsung Anda dapat membandingkan jawaban dari satu kertas kerja dengan kertas kerja yang lain dengan pola pikir yang sama.
                       v.     Jika mungkin, gunakan dua penilai yang berbeda untuk satu pertanyaan/soal
yang sama dan gunakan nilai rata-rata dani kedua penilai sebagai nilai akhir.
2.    Tes Objektif
Jenis tes ini disebut objektif karena objektif dalam memberikan skor atau nilai terhadap jawabannya. Dibandingkan dengan tes uraian, tes objektif memiliki keunggulan berikut ini :
a.  Memiliki reliabilitas yang tinggi
b. Cepat dan ekonomis dalam mengoreksi
c. Mampu mencakup daerah bahasan yang luas, karena jumlah soal bisa relatif banyak untuk waktu yang relatif singkat.
Ada empat jenis Tes Objektif yang, dapat digunakan :
·      Benar-Salah
·      Pillhan Jamak
·      Jawaban Singkat atau Isian
·      Menjodohkan
Dalam hal ini hanya akan dibahas tiga jenis yang banyak digunakan yaitu Pilihan Jamak, Jawaban Singkat atau Isian dan Menjodohkan. Bentuk soal Benar-Salah tidak dibahas karena sudah sangat jarang digunakan mengingat validitasnya sangat rendah (besar kemungkinan bahwa Jawaban siswa adalah hasil dari menebak).

a.    Pilihan Jamak atau Multiple Choice
1). Pengertian dan contoh
Bentuk soal Pilihan Jamak terdiri dari pertanyaan atau stem dan altenatif jawaban atau opsi. Dari sejumlah opsi terdapat hanya satu jawaban yang benar, sisanya berfungsi sebagal "Distractor" atau pengecoh Semakin banyak opsi semakin rendah kernungkinan bagi peserta tes untuk menebak. Untuk soal dengan 4 opsi terdapat 25% kernunakinan. Ini lebih baik dibandingkan 50% kernungkinan menebak untuk jenis soal Benar-Salah. Namun sernakin banyak opsi semakin sulit pula membuat soalnya. Oleh karena itu, menggunakan 4 atau 5 opsi sudah memadai.
2). Prosedur Membuat Soal Pilihan Jamak
                         i.     Yakinkan bahwa pertanyaan tersebut penting dan relevan dengan standar dari kelas yang di tes.
                       ii.     Isi utama dari pertanyaan harus termuat dalam stem, dan alternatif jawaban diusahakan sesingkat mungkin.
                     iii.     Hindarkan stem dari informasi yang berlebihan (redundant).
                     iv.     Yakinkan bahwa distractor yang Anda gunakan adalah jawaban salah tetapi ada kaitan dengan permasalahan yang, ditanyakan dan bukan pernyataan yang tidak relevan atau sekadar memenuhi jumlah distractor.
                       v.     Hindarkan memberikan pengarahan terhadap pillhan yang benar atau salah secara tidak langsung dan kemungkinan peserta tes menjawab secara menebak dengan memperhatikan hal-hal berikut ini ,
·         Membuat semua opsi, yang benar dan yang salah dalam kalimat yang relatif sama panjang.
·         Secara tata bahasa kata atau kalimat sernua opsi merupakan kelanjutan  yang sesuia dengan stem.
·         Mendistribusikan jawabn yang benar dari seluruh item soal secara merata untuk semua posisi (a, b, c, dst).
·         Hindari penempatan jawaban yang benar secara berurutan dari satu item ke item berikutnya (misalnya jawaban untuk soal no : I adalah b, jawaban untuk soal no 2 adalah c dan seterusnya).
·         Menghindarkan jawaban : semua kernungkinan di atas benar clan semua kemungkinan di atas salah.
·         Hindarkan penggunaan kallmat negatif dalarn stem.
·         Jangan menggunakan pertanyaan yang bersifat "trick". (Kesulitan peserta tes menjawab dan kegagalan mereka bukanlah tujuan dari penyelenggaraan tes).
3). Pemberian Skor Tes Bentuk Soal Pilihan Jamak
Ada 2 cara dalarn pemberian skor tes dengan pillhan jamak, menggunakan skor minus dan tidak mengunakan skor minus.
Menggunakan Skor Minus :
Pemberian skor untuk setiap item adalah sebagai berikut :
Jawaban Benar            : skor I
Jawaban Salah skor     : skor 0
Tidak dijawab skor     : skor 0
Skor dihitung dengan rumus :



St = B - {S/(n-1)}

 
 


Keterangan :
St : Skor total
B :  Jumlah Skor dan jawaban yang benar
S :  Jumlah Skor dan jawaban yang salah
N : Jumlah opsi dalam setiap item
Tujuan penggunaan skor minus sebagai denda untuk menghindari peserta menebak. Dengan pemberian skor minus, peserta tes menjadi berhati-hati dalam menillih jawaban. Kelemahan penggunaan skor minus adalah bahwa ada kemungkinan skor total yang diperoleh peserta benilai minus. Sehingga diperlukan penggunaan teknik statistik atau cara lain untuk mengkonversinya menjadi nilai sebenarnya.
a.      Tidak Menggunakan Skor Minus:
Dengan cara ini pemberian skor kepada setiap jawaban adalah sebagai berikut :
Jawaban Benar                                    : Skor 1
Jawaban Salah dan Tidak Terjawab    : Skor 0
Rumus perhitungan skor totalnya adalah
St = B

Keuntungan dari cara ini adalah tidak adanya kemungkinan skor total negatif. Tetapi dengan tidak adanya denda bagi jawaban yang salah karena untuk jawaban yang salah dan tidak terjawab sama-sama memperoleh skor Nol, peserta tidak menghadapi resiko sekiranya berspekulasi dengan menebak jawaban yang dipilih.
Dalam contoh terlihat bahwa ketika skor dihitung tanpa pemberian skor minus kedua peserta tes si Dadap clan si Waru sama-sama memperoleh skor 4 karena keduanva menjawab dengan benar sebanyak 4 soal. Padahal, si Dadap karena berhati-hati hanya mengerjakan dengan salah sebanyak 8 item. Bandingkan dengan si Waru karena kemungkinan menebak mengerjakan dengan salah sebanyak 24 item. Dengan contoh ini dapat disimpulkan bahwa penskoran tanpa pernberian skor negatif kurang adil.
b.  Jawaban Singkat
1). Pengertian dan Contoh
Tes jenis ini mirip tes uraian tertutup yang mernbutuhkan jawaban singkat. Bedanya tes jawaban singkat tidak membutuhkan jawaban dalarn bentuk paragraf atau kalimat panjang, tetapi cukup satu kata-kata kunci atau istilah. Tes jawaban singkat selain dapat menghindarkan menebak, juga sangat mudah dalam pemberian skor. Dengan kunci jawaban, koreksi dapat dilakukan oleh orang lain yang bukan pembuat soal karena memiliki reliabilitas yang tinggi.
2). Prosedur Pembuatan Soal Tes Jawaban Singkat
Ada tiga langkah yang disarankan dilakukan dalam membuat soal tes jawaban singkat.
                                  i.     Buatlah pertanyaan secara tepat atau presisi sehingga tidak menimbulkan tafsiran mendua.
                                ii.     Siapkan kunci jawaban dengan memperlihatkan
·                                   Skor untuk setiap jawaban benar
·  Kemungkinan adanya jawaban yang berbeda yang mungkin benar juga. Mungkin saja ini belum terprediksi.
                              iii.     Berilah skor atas jawaban peserta dengan mempertimbangkan
·  Pemberian skor tanpa mengetahui nama peserta
·  Selesaikan pemberian skor terhadap satu jawaban dalam satu waktu
·  Kemungkinan menggunakan penilai yang berbecla untuk setiap jawaban.
3). Pemberian Skor Tes Bentuk Soal Jawaban Singkat
Skor total dari soal tes jawaban singkat diperoleh dengan menjumlahkan seluruh jawaban yang benar. Dengan rumus dapat ditulis :
St = B
Dengan mana :
St = Skor total
B = Jumlah soal atau isian yang benar
c. Menjodohkan
1). Pengertian dan Contoh
Soal tes bentuk menjodohkan terdiri dari dua kelompok, kelompok pernyataan dan kelompok pilihan jwaban atau jodohnya.
Kelompok Pertanyaan :
Kelompok pertanyaan terdiri dari sejumlah pertanyaan jadi mirip seperti kumpulan soal isian. Setiap pertanyaan ini diberi nomor urut di depannya. Kelompok Jodoh :
Kelompok jodoh terdiri dari sejumlah alternatif jawaban dari kelompok per-tanyaan. Setiap Jodoh atau altenatif jawaban diberi tanda huruf di depannya,
2). Prosedur Pembuatan Soal Menjodohkan
·         Buatlah sejumlah pertanyaan yang sama bentuknya dengan soal isian tetapi semua soal memiliki nuansa atau dari pokok bahasan yang sama. Pembuatan soal dari topik atau pokok bahasan yang sama akan mempermudah siswa untuk menduga Jawaban. Berilah nomor urut di depan setiap pernyataan.
·         Buatlah alternatif jawaban dengan jumlah alternatif yang benar adalah sejumlah pertanyaan dan buatlah alternatif jawaban yang berfungsi sebagai pengecoh. Jumlah alternatif jawaban minimal jumlah soal ditambah 1. Sususlah secara acak alternatif jawaban atau jodohnya untuk memberikan tantangan kepada peserta.
3). Pemberian Skor Tes Bentuk Soal Menjodohkan
Skor total dari soal tes dengan bentuk menjodohkan diperoleh dengan menjumlahkan seluruh jawaban yang benar. Dengan rumus dapat ditulis

St = B
 
 

Dengan mana :
St    : Skor total
B     : Jumlah soal atau isIan yang benar.
3. Tes Psychomotor (Skill Object Test) atau Tes Praktik
1). Pengertian dan Contoh
Dalam bidang kejuruan terutama siswa tidak hanya dididik untuk menguasai kemampuan yang bersifat teori tetapi juga kemarnpuan praktik yang syarat muatan psikomotor. Oleh sebab itu evaluasi belajar yang diterapkan juga harus meliputi evaluasi terhadap kedua kemampuan tersebut, evaluasi terhadap dan evaluasi praktik. Metode tes praktik yang banyak diterapkan yaitu dari jenis observasi langsung. Siswa diberi peralatan dati tugas yang harus dikerjakan dalam waktu tertentu.
Metode tes praktik ini dapat dibedakan atas :
                                i.       Tes penguji teori di laboratorium seperti pengujian teorii Hukum Boyle SMA.
                              ii.       Tes melakukan prosedur kerja tertentu seperti menservis radio bagi siswa jurusan elektronika atau survey pasar bagi siswa SMEA.
                            iii.       Tes memproduksi sesuatu seperti membuat mur bagi siswa jurusan mesin.
Metode tes ini dapat dikombinasikan dengan tes oral atau tanya jawab dan menggunakan kasus-kasus atau prosedur praktik sebagai materi pertanyaan.
2). Prosedur Pembuatan Soal Tes Psikomotor atau Tes Praktik
                                i.       Pelajari kurikulum dan silabus untuk menentukan kompetensi dan topik yang akan diujikan.
                              ii.       Buatlah soal tes praktik berdasarkan hasil analisis kurikulum dan silabus.
                            iii.       Soal tes sebaiknya dalam bentuk instruksi-instruksi yang termuat di dalam seperangkat Job Sheet atau lembar kerja.
                            iv.       Siapkan peralatan dan kebutuhan lainnya untuk digunakan oleh siswa dalam tes praktik.
                              v.       Buat panduan penskoran atau penilaian. Aspek yang dinilai untuk setiap langkah atau prosedur di antaranya meliputi :
·      Latar belakang pengetahuan siswa tentang topik dan atau kegiatan yang
dipraktikkan.
·      Ketepatan dan kualitas pengerjaan setiap urutan kerja.
·      Hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan dan kriteria keberhasilannya.
·      Waktu pengerjaan
·      Tindakan keselamatan kerja
3). Pemberian Skor Tes Psikoniotor atati Tes Praktik
                             i.     Buadah ceklist untuk melakukan penilaian terhadap setiap aspek dan atau
prosedur yang dilakukan dalam tes praktik atau psikomotor.
                           ii.     Selanjutnya tentukan batas keluusan atau passing grade misalnya dengan
menggunakan PAK atau berdasarkan profesional judgement. Misalkan batas skor rata-rata kelulusan adalah 1.75.
                         iii.    

Sr = St/n

 
Kemudian hitunglah skor rata-rata yang diperoleh peserta dengan rumus


Dengan mana:
St  = Skor total semua aspek yang diperoleh peserta
Sr  = Skor rata-rata peserta
n   = Jumlah aspek yang dinilai
iv. Tetapkan keberhasilan peserta berdasarkan skor rata-rata yang diperoleh dengan standar kelulusan yang telah dirumuskan misalnya 1,75.
                       v.          Tentukan tindak lanjut dari hasil tes misalnya :
·         Melanjutkan ke topik berikutnya bagi siswa yang telah berhasil.
·         Mengulangi topik yang sama bagi siswa yang belum berhasil.

4). KPA dan KRA dalam Tes Psikomotor
i). KPA atau Key Process Area
Yang dimaksud dengan KPA yaitu satu atau lebih prosedur atau langkah dalarn proses dari kegiatan praktik yang harus dikerjakan dengan benar atau memenuhi standar karena langkah tersebut dinilal sebagai langkah kunci atau KPA. Sebagai contoh, dalarn praktik membuat kopi bagi siswa SMK program studi Tata Boga, siswa akan dinyatakan gagal jika salah dalarn membuat kopi tidak menggunakan air yang telah mendidih denaan suhu minimal 90°C. Dalarn pembuatan kopi, salah satu kriteria utama kopi yang enak adalah diseduhnya bubuk kopi dengan air dengan syarat tersebut.
Dengan alasan itu aspek disebut dijadikan sebagai KPA dan sekaligus menjadi treshold dalam praktik membuat kopi.
ii). KRA atau Key Result Area
Yang dimaksud dengan KRA yaitu satu atau lebih hasil atau produk praktik atas tes psikornotorik yang harus benar dalam arti mernenuhi kriteria atau standar yang telah ditetapkan atau dinilai sebagai hasil kunci atau KRA. KRA ini juga tidak jarang ditetapkan sebagai treshold atau syarat mutlak keberhasilan praktik. Jika dalam pelaksanaan praktik tidak menghasilkan produk atau hasil yang menjadi KRA, maka secara keseluruhan praktik tersebut dinyatakan gagal sekalipun hasil lainnya tercapai dengan baik.
F.    TINGKAT KESULITAN TES
Adalah tidak adil jika guru ketika menyelenggarakan tes tidak mempertimbangkan tingkat kesulitan dengan minimal empat alasan :
  • Taksonomi menggambarkan betapa kompleksitas pengetahuan berjenjang sesuai dengan jenjang taksonominya yang juga menggambarkan tingkat kesulitannya.
  • Siswa memiliki berbagai keterbatasan dan latar belakang kecerdasan clan minat yang berbeda dengan temannya terhadap mata kuliah tertentu, sehingga menghadapi kesulitan yang berbeda ketika mempelajari suatu mata pelajaran.
  • Aplikasi kemampuan dalam kehidupan tidak semua membutuhkan jenjang tertinggi, oleh sebab itu jenjang kernampuan yang rendah juga harus mendapat porsi dalam pengembangan tes.
  • Banyak pakar ilmu pendidikan mempercayai bahwa tingkat kemampuan masing-masing individu dalam kelompok tidak sama dan secara umum memiliki kecenderungan berdistribusi normal.
Dalam distribusi normal menyatakan bahwa :
ü Sebagian besar atau mayoritas individu memiliki kemampuan rata-rata
ü Sebagian kecil memiliki kemampuan di atas rata-rata
ü Sebagian kecil lagi memiliki kernampuan di bawah rata-rata.
Sejalan dengan pertimbangan di atas, maka perlu pula memperhitungkan distribusi jumlah soal didasarkan pada dua hal : Tingkat kesulitan dan Taksonomi tingkat kernampuan. Dengan pertimbangan praktis, keduanya dapat dipadukan seperti dalam tabel berikut ini

Tabel 13.1.
Distribusi Soal Berdasarkan Tingkat Kesulitan, Taksonomi dan Bentuk Soal
Langkah/Aspek
yang Dinilai
Sangat
Memuaskan
Skor 3
Memuaskan
Skor 2
Kurang
Memuaskan
Skor I
Tidak
Dikerjakan
Skor 0
1.    Menyiapkan
peralatan




2.    Menyiapkan bahan




3.    Memasak




4.    Hasil Masakan




5.    Menyajikan




Skor Total





Tabel di atas dapat lebih disederhanakan sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini, di mana hanya terdapat tiga kategori tingkat kesulitan soal yaitu : Mudah, Sedan dan Sulit. Sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini, maka tingkat taksonomi untuk masing­-masing tingkat kesulitan juga berbeda dengan yang dipaparkan dalam tabel sebelumnya.
Tabel 13.2.
Distribusi Soal Berdasarkan Tingkat Kesulitan, Taksonomi dan Bentuk Soal
Tingkat Kesulitan
Tingkat Takson
% Jumlah Soal
Bentuk Soal yang
Dianjurkan
Sangat Mudah
Recall
5% - 10%
MCQ,
Menjodohkan
Mudah
Comprehension
10% - 15%
MCQ,
Menjodohkan, Isian
Seclang
Aplikasi dan
Analisa
50% - 70%
MCQ,
Menjodohkan, Isian,
Uraian Terstruktur
Sulit
Sintesa
10% - 15%
Uraian Terstrutur,
Uraian Bebas
Sangat Sulit
Evaluasi
5% - 10%
Uraian Terstruktur
dan Uraian Bebas

G.   KISI-KISI SOAL
1.    Pengertian
Kisi-kisi soal adalah peta yang menggambarkan komposisi soal yang akan dijadikan sebagai pedoman bagi pembuat soal. Oleh sebab itu kisi-kisi harus dibuat sebelum soal disusun. Komposisi soal ditentukan berclasarkan berbagai aspek atau variabel yang menurut hemat pembuat soal perlu dipertimbangkan seperti :
  1. Pokok bahasan
  2. Waktu yang dialokasikan untuk setiap pokok bahasan dalarn pembelajaran
  3. Tingkat kesulitan
  4. Taksonomi
  5. Bentuk soal
  6. Skor per item soal
  7. Jumlah skor maksimum ideal untuk setiap bentuk soal dan keseluruhan tes.
  8. Waktu pengerjaan soal per item dan keseluruhan tes.
  9. Jumlah soal peritems, bentuk, dan keseluruhan soal.
  10. Teknik mengubah skor menjadi mlai atau memonten
2.    Langkah-langkah Melengkapi Kisi-kisi Soal
Berikut ini diberikan langkah-langkah melengkapi kisi-kisi soal dengan menggunakan tabel 13.2. sebagai formatnya.
  1. Tuliskan semua Pokok Bahasan yang diajarkan selama semester berjalan.
  2. Tuliskan alokasi waktu pembelajaran untuk setiap pokok bahasan.
  3. Tetapkan perbandingan jumlah skor untuk masing-masing jenis soal (Objektif dengan Uraian).
  4. Tentukan jumlah skor maksimum ideal untuk setiap bentuk soal berdasarkan persentasenya.
  5. Tetapkan jumlah skor untuk masing-masing pokok bahasan secara proporsional dengan mempertimbangkan alokasi waktu setiap pokok bahasan.
  6. Tetapkan skor setiap satu item soal untuk masing-masing jenis soal.
  7. Tetapkan jumlah soal untuk masing-masing jenis dengan merujuk kepada jumlah skor masing-masing jenis soal dan skor untuk setiap bentuk soal.
  8. Tetapkan jumlah soal untuk setiap bentuk soal items objektif berdasarkan jumlah skor untuk bentuk ini (40) soal.
  9. Tetapkan jumlah soal berclasarkan perbandingan jumlah soal untuk setiap tingkat kesulitan serta taksonomi kognitifnya.
  10. Petakan jumlah item soal masing-masing jenis dan bentuk soal untuk setiap pokok bahasan. Karena skor Per item untuk bentuk objektif tes adalah 1,5 maka jumlah skor yang telah ditetapkan dalam langkah e, perlu disesuaikan. Tetapi penyesuaian skor ini harus diperhatikan bahwa pengubahan tetap menghasilkan :
·      Perbandingan jumlah soal antar pokok bahasan tidak banyak berubah (tetap
proporsional)
·      Jumlah skor total bentuk objektif tetap 60
·      Jumlah soal bentuk objektif tetap 40 item
·      Skor total seluruhnya tetap 100.
  1. Distribusikan soal ke setiap pokok bahasan, jems dan bentuk soal sesuai dengan jumIah skor dan jumlah soal yang telah ditetapkan dalam langkah-langkah serbelumnya.
  2. Tentukan waktu total pengerjaan soal sebagai berikut :
Objektif tes                                         : 40 item soal x 1,25 menit = 50 menit
Uraian Terstruktur                               : 2 soal x 10 menit = 20 menit
Uraian Bebas                                       : 1 soal x 15 menit = 15 menit
Persiapan dan tambahan lainnya         : 5 menit.
Total Waktu Pengerjaan Seluruh Tes  : 90 menit.

H.   MENENTUKAN NILAI ATAU MEMONTEN
1.    Alasan Pengubahan Skor Menjadi Nilai
Perlu dipahami bahwa skor bukanlah nilai tes. Oleh sebab itu diperlukan perubahan skor menjadi nilai atau ponten diantaranya mengingat hal-hal berikut ini :
  1. Jika yang digunakan adalah PAK sedangkan jumlah skor maksimum ideal seluruhnya tidak sama dengan 100, misalnya 80 atau 120, maka skor yang diperoleh peserta harus diubah ke dalam skala 100 karena lazimnya rentang nilai adalah 0 – 100.
  2. Jika digunakan skor minus untuk setiap kesalahan dalam pengerjaan soal bentuk objektif, akan terdapat kemungkinan adanya peserta yang memperoleh skor total negatif. Oleh sebab itu perlu dilakukan konversi skor menjadi nilai yang positif dengan rentang 0 – 100.
  3. jika yang digunakan adalah PAN, skor seorang peserta tidak bisa secara otomatis dikonversi menjadi nilai yang bersangkutan sebelum dibandingkan dengan peserta lainnya.
2.    Macam-macam Nilai yang Digunakan Di Perguruan Tinggi
Perlu dijelaskan bahwa saat ini di lembaga pendidikan tinggi di Indonesia digunakan 3 macam nilai : Pertama adalah nilai yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan mana prestasi siswa dikategorikan ke dalam 5 kategori yang diberi label huruf : A, B, C, D, E. Namun untuk keperluan perhitungan Indeks Prestasi (IP)  nilal huruf yang bersifat kualitatif tersebut dapat dikonversikan ke dalam nilal kuantitatif dalam bentuk angka : 4, 3, 2, 1, O. Disamping kedua nilal tersebut, masih digunakan nilai dengan rentang 0 – 100.
Tabel 13.3.
Macam-macam Nilai yang Dipergunakan di Perguruan Tinggi di Indonesia
Nilai Huruf
Kategori
Nilai Angka
Skala 0 – 4
Skala 0 - 100
A
Sangat Baik
4
80 - 100
B
Baik
3
68 - 79
C
Cukup/Sedang
2
55 - 67
D
Kurang
1
45 - 54
E
Sangat Kurang/Gagal
0
< 45

Nilai rentang 0 – 100 digunakan dalarn perhitungan nilai mentah sebelum dikonversi ke dalam nilai huruf Tabel di atas memperlihatkan contoh tahapan konversi nilai tersebut. Penilalan di mulai dengan pemberian nilai-nilai tugas, nilai ujian tengah semester, dan nilai akhir semester dengan menggunakan rentang nilai 0 – 100. Selanjutnya nilai dikonversi ke dalarn nilai huruf dan kemudian ke nilal angka dengan skala 0 – 4.
3.    Beberapa Teknik Mengubah Skor Menjadi Nilai atau Memonten
Ada beberapa teknik memonten atau mengukur skor hasil tes atau ujian menjadi nilai. Dalam bagian ini akan diberikan tiga contoh yang memadai untuk diterapkan oleh guru atau dosen dalam pelaksanaan tugas mengajarnya. Ketiga teknik tersebut adalah
a.    Teknik Konversi Langsung
Teknik ini dapat dilakukan jika
-        Digunakan pendekatan PAK dengan mana mlai seorang peserta tidak perlu dibandingkan dengan nilai peserta lainnya.
-        Tidak digunakan skor minus untuk setiap kesalahan dalam pengerjaan soal jenis objektif
-        Kepada setiap item soal telah diberikan nilai tertentu dan jumlah skor total sudah dirancang sejak awal berjumlah 100 sekalipun jumlah soal tidak 100 item.
b.    Teknik Konversi dengan Persentase
Teknik ini dapat dilakukan jika
-        Digunakan pendekatan PAK dengan mana nilai scorang peserta tidak perlu dibandingkan dengan nilal peserta lainnya.
-       Tidak digunakan skor minus untuk setiap kesalahan dalam pengerjaan soal jenis objektif
-       Jumlah item soal maupun skor tidak sama dengan 100.
Adapun rumus untuk mengkonversi skor menjadi nilai adalah :



Nilai = (Jumlah Jawaban Benar / Jumlah Soal) x 100%

 
 


c.    Teknik Konversi dengan Skala
Teknik ini dapat dilakukan jika
-        Digunakan pendekatan PAN dengan mana nilai seorang peserta dibandingkan dengan nilai peserta lainnya.
-        Digunakan atau tidak digunakan skor minus untuk setiap kesalahan dalam pengerjaan soal jenis objektif
-        Jumlah item soal maupun skor bisa sama dan bisa tidak sama dengan 100.
I.     MENENTUKAN NILAI AKHIR MATA PELAJARAN
1.    Nilai Akhir Mata Pelajaran Teori
Banyak pakar sepakat bahwa Nilai Akhir mata pelajaran atau Nilai Akhir mata kuliah bukan hanya ditentukan berdasarkan hasil Tes Akhir saja, tetapi juga merupakan gabungan dari berbagai tes dan juga nilai harian termasuk kehadiran tugas yang diberikan kepada siswa atau mahasiswa. Dengan lain perkataan nilai tersebut mempertimbangkan nilai proses selama siswa atau mahasiswa mengikuti pembelajaran.
Pandangan ini dapat diterima di antaranya mengingat bahwa bisa saja seorang siswa atau mahasiswa ketika ujian atau tes berlangsung dalam kondisi tidak sehat dan lain sebagainya yang kurang menguntungkan dan bersifat non-akademik. Oleh sebab itu, pemanfaatan nilal kumulatif darl kehadiran, tugas, tes formatif, tes pertengahan semester (UTS), dan nilal tes akhir dalam menentukan nilai akhir mata pelajaran atau perkuliahan merupakan tindakan bijaksana dan secara akademik dapat dipertangngungjawabkan.
2.    Nilai Akhir Mata Pelajaran Teori dan Praktik
Untuk mata pelajaran yang terdiri dari kegiatan belajar clan pembelajaran teori dan praktik seperti pada sekolah kejuruan, maka Nilai Akhir mata pelajaran perlu memperhitungkan kedua jenis kegiatan belajar pembelajaran tersebut. Salah satu pandangan melihat bahwa untuk sekolah kejuruan, kegiatan praktik memiliki bobot yang lebih besar dari bobot kegiatan belajar dan pembelajaran teori.


BAB XIV
MEMBUAT PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN

A.   PENGERTIAN RPP
RPP atau Rencana Penyelenggaraan Pembelajaran secara praktis dapat disebut sebagal skenario pembelajaran. Dengan demikian RPP merupakan pegangan bagi guru untuk menyiapkan, menyelenggarakan, clan mengevaluasi hasil kegiatan belajar dan pembelajaran.
Istilah RPP baru diperkenalkan pada akhir-akhir ini dan juga termuat di dalarn Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sebelum itu, dokumen tersebut dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran, Satpel (Satuan Pelajaran), kemudian Satuan Acara Pembelajaran atau SAP (Satuan Acara Perkuliahan).
B.   ISI RPP
Pada dasarnya RPP terdiri dari empat bagian. Isi atau kelengkapan informasi darl ketiga bagian tersebut bervariasi dari satu model ke model lainnya. Akan tetapi secara umurn hal-hal yang dijelaskan di dalam ketiga bagian tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Bagian Penjelasan Umum : berisi tentang topik, siapa yang mengajarkan, siapa yang belajar, kapan, dan berapa lama waktu yang diperlukan.
2.    Bagian Tujuan : yang berisi tentang kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa setelah terselenggarannya kegiatan belajar dan pembelajaran.
3.    Bagian Pendukung : berisi tentang tujuan dan sarana serta prasarana yang diperlukan, serta gambaran umum tentang skenario belajar dan pembelajaran yang akan diselengarakan. Bagian ini diperlukan oleh guru dan atau teknisi untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan. Selain itu, perlu dijelaskan rujukan yang digunakan untuk dijadikan pedoman bagi guru dan siswa ketika akan memperoleh informasi lebih jauh tentang materi yang sedang dipelajari.
4.    Bagian Utama : berisi rincian tentang tahapan-tahapan kegiatan belajar dan pembelajaran berikut waktu dan metode yang digunakan. Semakin rinci isi bagian in semakin baik karena kegiatan belajar dan pembelajaran lebih terarah. Akan tetapi, dalarn penerapannya kelak, guru harus berimprovisasi sesuai dengan dinamika situasi dan kondisi nyata di kelas.



C.   RUJUKAN UTAMA MENYUSUN RPP
Sesuai dengan maksud dan tujuan dibuatnya RPP, setidaknya ada empat dokumen yang harus dijadikan rujukan utama yaitu :
1.    Standar Kompetensi Lulusan atau SKL : digunakan sebagai rujukan dalam merumuskan tujuan pembelajaran serta evaluasi hasil belajar dan pembelajaran yang dicapai siswa.
2.    Standar Isi : digunakan sebagai rujukan dalam merumuskan ruang lingkup serta kedalaman materi yang akan dibahas dalam kegiatan belajar dan pembelajaran yang akan dirancang.
3.    Standar Sarana : terutama digunakan dalam merumuskan teknologi pendidikan yang digunakan dalam belajar dan pembelajaran termasuk peralatan media dan atau peralatan praktik.
4.    Standar Proses : akan menjadi rujukan dalam merancang model dan metode yang melibatkan siswa dalam kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa belajar dan pembelajaran.
D.   MANFAAT DIBUATNYA RPP
1.    Belajar dan pembelajaran diselenggarakan secara terencana sesuai dengan isi kurikulum.
2.    Ketika seorang guru karena satu dan lain alasan tidak dapat hadir melaksanakan tugas mengajarnya, guru lain yang menggantikannya dapat menggunakan RPP yang telah disusun. Dengan demikian, dapat dijamin bahwa ticlak terjadi perbedaan yang prinsip dalam kegiatan belajar dan pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru pengganti. Ketika kemudian guru yang mengampu mata pelajaran tersebut dapat kembali mengajar, ia dapat melanjutkan ke topik berikutnya dengan meluangkan waktu hanya sedikit guru merangkum isi materi yang disampaikan oleh guru pengganti.
3.    Secara manajerial, dokumen RPP merupakan portofolio atau bukti fisik pelaksanaan kegiatan belajar clan pembelaaran yang di antaranya dapat digunakan untuk :
a.       Bahan pertimbangan dalam sertifikasi guru
b.      Perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru
c.       Informasi dalam supervisi kelas oleh kepala sekolah dan atau pengawas Bahan rujukan dan atau kajian bagi guru yang bersangkutan dalam mengembangkan
belajar dan pembelajaran topik yang sama di tahun berikutnya.

E.   BAGIAN-BAGIAN DARI RPP
Sesuai dengan tahapan praktik mengajar, pada dasarnya RPP terdiri dari 3 bagian atau tahapan yaitu :
1.    Pembukaan
Adalah tahapan di mana guru menyiapkan kelas memasuki suasana belajar dan pembelajaran. Ini dapat dilaksanakan dengan melakukan kegiatan-kegiatan berikut ini :
  • Menyampaikan salam sebagai bagian dari upaya membangun hubungan hangat dengan siswa yang berdampak kepada terciptanya iklim belajar yang menyenangkan.
  • Memperkenalkan diri jika ketika itu merupakan awal guru mengajar di kelas tersebut.
  • Mengenal siswa dengan membacakan absensi jlka ketika itu merupakan awal guru mengajar di kelas tersebut.
  • Menjelaskan judul atau topik materi yang akan diajarkan dalam sesi tersebut.
  • Menjelaskan tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus.
  • Menyampaikan deskripsi sajian yang berisi ruang lingkup materi dan kegiatan belajar dan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Waktu yang digunakan untuk pembukaan ini tidak boleh melebihi 10% dari seluruh waktu yang dialokasikan untuk sesi tersebut. Jika diberi waktu mengajar selama 2 jam mata pelajaran atau 2 x 45 menit = 90 menit, maka waktu pembukaan selama 5 – 9 menit sudah mencukupi.
2.    Pengembangan :
Adalah tahapan inti dalam mana sub-sub topik disajikan dengan menggunakan berbagai metode dan model pembelajaran yang telah dirancang di dalam RPP. Dalam tahapan disarankan agar
  • Diterapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa
  • Memperbanyak dialog atau tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana materi telah dikuasai dan koreksi segera yang harus dilakukan oleh guru.
  • Memperhatikan variasi suara : volume, intonasi, clan kecepatan, bahasa tubuh, kontak mata, ekspresi, pemberian contoh, dan ilustrasi untuk mempertahankan konsentrasi dan ketertarikan siswa terhadap rnateri yang disajikan.
  • Sisipkan "Alta Factor"atau faktor kejutan misalnya dengan membawa pengalaman nyata ke dalarn materi yang diajarkan, yang membuat siswa tertarik dan merasa adanya perbedaan positif dalam cara mengajar dan Isi materi yang disampaikan.
  • Upayakan menggunakan berbagai variasi metode pembelajaran seperti peragaan, bermain peran, diskusi atau kegiatan di luar ruangan.
3.    Penutup
Tahapan ini merupakan tahap akhir dari sesi. Oleh sebab itu, tahap im digunakan oleh guru dan siswa untuk menegetahui tingkat pencapaian hasil belajar dan tindak lanjut yang harus dilakukan. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan untuk menutup sesi ialah :
  • Melalui tanya-jawab guru bersama siswa membuat rangkuman atau kesimpulan dari isi belajar dan pembelajaran dalam sesi yang telah dilaksanakan.
  • Guru memberikan tugas tambahan untuk memperkaya pernahaman siswa dengan topik yang dipelajari hari itu.
  • Menyampaikan ucapan terima kasih kepada siswa atas perhatian dan partisipasi aktif mereka dalarn pembelajaran hari itu. Ini sangat bermanfaat dalam membangun hubungan positif di antara guru dan sekaligus menjadi motivasi ekstrinsik bagi siswa.
F.    BERBAGAI MODEL RPP
Untuk memperoleh gambaran tentang ragarn model RPP, disajikan 4 model yang dapat digunakan atau setidaknya dijadikan rujukan oleh guru dalam membuat dokumen tersebut. Dari keempat model ini diharapkan dapat dipillh salah satu atau dikreasi RPP yang ­lebih sesuai dengan kebutuhan spesifik di lapangan. Yang terpenting untuk diingat adalah RPP tersebut bukan hanya sekedar untuk memenuhi persyaratan administrasi tetapi benar­-benar digunakan oleh guru dalam penyelenggaraan pembelajaran.
Model 1 : (Bahan Sosialisasi KTSP, Puskur-Balitbang Diknas, 2006)











RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran                      :
Kelas/Semester                     :
Perternuan Ke                       :
­Alokasi Waktu                      :
Standar Kompetensi             :
Kompetensi Dasar                :
Indikator                               :

I.            TuJuan Pembelajaran      :
II.            Materi Ajar                     :
III.            Metode Pembelajaran     :
IV.            Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
B. Kegiatan Inti
C. Kegiatan Akhir
V.            Alat/Ban/Sumber Belajar:
VI.            Penilaian

















Model 2:
RENCANA PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                      :
Pokok Bahasan                     :
Kelas                                     :
Sub Pokok Bahasan              :
Waktu/Jumlah Jam                :
Hari/Tanggal                         :
Pengajar                                :

A. Tujuan Pembelajaran Umurn (TPU)        :
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)        :
C. Alat dan Bahan                                        :
D. Rujukan                                                   :
E. Deskripsi Sajian                                        :
F. Rangkuman Materi                                   :
G. Kegiatan Belajar Mengajar                      :


Mengetahui :                                                                ..............., tanggal:
Kepala Sekolah                                                                        Guru yang Bersangkutan,


(                        )                                                                              (                         )





Model 3 :

RENCANA PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                      :
Pokok Bahasan                     :          
Kelas                                     :
Sub-Pokok- Bahasan            :
Waktu/Jumlah Jam                :
Hari/Tanggal                         :
Pengajar                                :

A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)         :
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)        :
C. Alat dan Bahan                                        :
D. Rujukan                                                   :
E. Deskripsi Sajian                                        :
F. Rangkuman Materi                                   :
G. Kegiatan Belajar-Mengajar                      :
Tahapan
Kegiatan dan Kunci-
Kunci Pokok
Metode
Waktu
1.      Pendahuluan



2.      Pengembangan



3.      Evaluasi/Penutup




Mengetahui :                                                                  .............,tanggal:            
Kepala Sekolah                                                                  Guru yang Bersangkutan,









Model 4 :
RENCANA PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                      :
Pokok Bahasan                     :
Kelas                                     :
Sub-Pokok Bahasan              :
Waktu/Jumlah Jam                :
Hari/Tanggal                         :
Pengajar                                :

A.    Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)        :
B.     Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)       :
C. Alat dan Bahan                                        :
D. Rujukan                                                   :
E. Deskripsi Sajian                                        :
F. Rangkuman Materi                                   :
G. Kegiatan Belajar-Mengajar                      :

Tahapan
Kegiatan dan Kunci-kunci Pokok
Waktu
Pendahuluan
Menjelaskan Tujuan Pembelajaran

Menjelaskan ruang lingkup materi

Pengembangan
Sub-Topik I   (Judul dan kegiatannya)

Sub-Topik 2  (Judul dan kegiatannya)

Sub-Topik 3  (Judul dan kegiatannya)

Sub-Topik 4  (Judul dan keglatannya)

Evaluasi/Penutup
Membuat rangkuman dan atau kesimpulan

Penutup

Mengetahui :                                                             ..................., tanggal:
Kepala Sekolah                                                                     Guru yang Bersangkutan,




DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin & Wahyuni, E. N. (2007). Teori Belajar & Pembelajaran. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Budiningsth, C. A. (2004). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Dahar, R. W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta : PT. Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Undang-Undang Sistem Pendidikan. Jakarta Guna Grafika.
Dimyati & MuJiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Djamarah, S. B. & Zain, A. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Gintings, A. (2008). Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Humaniora.
Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta - Grasindo.
Hamalik, O. (2006). Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Harsanto, R. (2007). Pengelolaan Kelas yang Dinamis. Yogyakarta: Kanisius.
Johnson, E. B. (2002). Contextual Teaching & Learning : What It is and why its here to stay. Califonia : Corwin Press Inc. Thousand Oaks.
Majid, A. (2008). Perencanaan pembelajaran : Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Marno & M. ldris. (2008). Strategi & Metode Pengajaran Menciptakan Keterampilan Mengajar yang Efeklif dan Edukatif. Yogyakarta : AR- Ruzz Media.
-----------(2008). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belqjar & Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Sadiman, A. S. dkk. (2007). Media Pendidikan : Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Sagala, S. (2007). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajarni Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta . Kencana Pranada Media Group.
Sardiman. (2007). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta PT. Rajagrafindo Persada.
Slameto. (2003). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempenganinya. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Surya, M. (2003). Psykologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung Yayasan Bhalcti Winaya.
Suwardi. (2007). Manajemen Pembelajaran Menciptakan Guru Kreatif dan Berkompetensi. Salatiga : STAIN Salatiga Press.
Syafaruddin & Anzizhan. (2006). Sistem Pengambilaii Keputusati Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Syah, M. (2008). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tnianto. (2007). Model-Model Pembelajarati inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Surabaya: Prestasi Pustaka.
Wliaya, C. (2001). Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.
Yamin, M. (2008). Paradigma Petididikan Konstruktivistik Implementasi KTSP & UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta : Gaung Persada Press (GP Press).





                                                                                

















BAHAN AJAR
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN





 









Penyelenggara Program Percepatan Kualifikasi Sarjana (S-1) Kependidikan
Bagi Guru Dalam dabatan




Oleh
Dr. Demitra, M.Pd







FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
TAHUN 2010


KATA PENGANTAR
 

Inti dari proses pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. Menyadari hal itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional berbagai upaya telah dilakukan oleh pemenintah dengan tujuan meningkatkan proses belajar dan pembelajaran. Hasilnya berbagai pendekatan dan model belajar dan pembelajaran dalam tiga dekade terakhir telah diadopsi ke dalam sistem pendidikan nasional Indonesia.
Terkait dengan terselenggaranya proses belajar dan pembelajaran yang kondusif bagi pencapaian tujuan secara maksimal, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, banyak guru telah mengikuti pendidikan guru sebelum memasuki profesinya, akan tetapi sebagian dari mereka tidak memiliki wawasan dan pengalaman yang siap pakai dalam menyelenggarakan belajar dan pembelajaran. Ilmu kependidikan yang dipelajari lebih bernuansa kognitif teoritis sehingga ketika terjun menjadi guru hanya menduplikasi gaya mengajar guru yang pernah mengajarnya tanpa merasa bersalah.
Kedua, banyak guru yang menjadi guru walau bukan menjadi pilihan utamanya dan sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang kependidikan. Sekalipun di antara mereka ada yang mampu mengajar dengan baik karena didukung oleh bakat dan keseriusan melaksanakan tugasnya, tetapi masih diperlukan bekat ilmu kependidikan untuk, memaksimalkan kornpetensi mengajarnya.
Beranjak dari kenvataan tersebut di atas, disusunlah bahan ajar ini dengan tujuan utama memperkaya wawasan mahasiswa calon guru dan memperkaya khazanah kepustakaan praktis dalam belaiar dan pembelajaran. Semoga bermanfaat bagi kita semua!


                                                                                      Palangkaraya, Januan 2010










i
 
 


DAFTAR ISI
 

KATAPENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I        PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
A.    Pengertian Belajar          
 i
          ii-iv

 1
B.     Belajar sebagai Perubahan Tingkah Laku          
 2
C.     Tujuan Belajar dan Pembelajaran          
 5


BAB II         KARAKTERISTIK BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.    Kompleksitas Belajar dan Pembelajaran  
7
B.     Faktor Utama yang Harus Diperhatikan dalam Pembelajaran     
9
C.     Prinsip-prinsip dalarn Belajar dan Pembelajaran  
10


BAB III     UNSUR-UNSUR DINAMIS BELAJAR & PEMBELAJARAN

A.    Dinamika Guru dalam Pembelajaran       
11
B.     Dinamika Siswa dalam Belajar    
12


BAB IV     TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   Teori Belajar Deskriptif dan Teori Belajar Prespektif  
14
B.   Teori Belajar Behaviuoristik     
14
C.   Teori Belajar Kognitif   
17
D.   Teori Belajar Konstruktivistik  
18
E.    Teori Belajar Humanistik          
21
F.    Teori Belajar Sibernetik
22
G.   Teori Belajar Revolusi-Sosiokultural    
22
H.   Teori Belajar Kecerdasan Ganda          
24


BAB V       MOTIVASI DALAM BELAJAR

A.   Pengertian Motivasi      
25
B.    Motivasi dalam Pembelajaran   
25
C.   Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa     
26
D.   Sumber-sumber Motivasi Belajar Siswa           
   26

ii
 
E.   Beberapa Teori tentang Motivasi dan Implikasinya dalam Pembelajaran        
         28        
F.    Teori X dan Teori Y McGregor
33
G.   Perubahan Motivasi Belajar      
34
H.   Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemberian Motivasi   
36
I.    Pemberian Motivasi dengan Model ARCS      
36
J     Guru dan Motivasi dalarn Pembelajaran           
37


BAB VI     MODEL-MODEL PENIBELAJARAN

A.   Problem Based Learning          
39
B.   Cooperative Learning   
42
C.   Quantum Learning        
46


BAB V11     METODE-METODE PEMBELAJARAN

A.   Pengertian Metode Pembelajaran                                                                     
48
B.   Prinsip, Teknik, dan Manajemen Pembelajaran                                    
48
C.   Berbagai Metode Pembelajaran                                                                        
           49
D.   Memilih Metode Pembelajaran yang Tepat                                                      
           64

         
BAB VIII     MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN
      
A.   Perlunya Merumuskan Tujuan Pembelajaran                                                    
           65
B.    Pengertian Tujuan Pembelajaran                                                                      
           65


BAB IX       KOMUNIKASI DALANI BELAJAR DAN PETNIBELAJARAN

A.   Definis Komunikasi                                                                                                        
           67
B.    Model-model Komunikasi                                                                                
           68
C.    Fungsi Komunikasi                                                                                           
           69
D.   Unsur-unsur Komunikasi                                                                                  
           69
E.    Hambatan Komunikasi                                                                                     
           71
F.    Arah Komunikasi                                                                                             
           72
G.   Jenis-jenis Komunikasi                                                                                     
           72
H.   Guru dan Komunikasi dalam Belajar dan Pembelajaran                                  
           73


BAB X          MEDIA DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.   Pengertian Media dalam Belajar dan Pembelajaran                                         
          75

iii
 
B.    Manfaat Penggunaan Media dalam Belajar dan Pembelajaran                        
          75
C.    Jenis-jenis Media dalam Belajar dan Pembelajaran                                          
           76


BAB X1        MENYIAPKAN BAHAN PELAJARAN

A.   Pengertian tentang Bahan Pembelajaran                                                          
           78
B.    Perbedaan Bahan Pembelajaran dengan Buku Teks                                        
           78
C.    Manfaat Bahan Pembelajaran                                                                           
           79
D.   Kriteria Bahan Pembelajaran yang Baik                                                           
           79
E.    Strategi Menyusun Bahan Pembelajaran                                                          
           79
F.    Aspek Profesionalisme dan Legalitas                                                                 
           80


BAB XII      PENGELOLAAN KELAS

A.   Pengertian Pengelolaan Kelas                                                                          
           81
B.    Tujuan Pengelolaan Kelas                                                                                
           81
C.    Aspek-aspek Kelas yang Harus Dikelola dan Manfaatnya                              
           82
D.   Beberapa Tips untuk Menciptakan Pengelolaan Kelas yang Baik                   
           83


BAB XIII    EVALUASI BELAJAR

A.   Kegunaan Evaluasi Belajar                                                                               
           85
B.    Tes Formatif dan Tes Sumatif                                                              
           85
C.    Patokan Acuan Norma dan Patokan Acuan Kriteria                           
           86
D.   Metode Evaluasi                                                                                               
           88
E.    Tingkat Kesulitan Tes                                                                                       
           96
F.    Kisi-kisi Soal                                                                                                    
           97
G.   Menentukan Nilai atau Memonten                                                                   
           99
H.   Menentukan Nilal Akhir Mata Pelajaran                                                          
          101


BAB XIV      MEMBUAT PENVELENGGARAAN PENIBELAJARAN



A.   Pengertian RPP 
       102
B.   Isi RPP  
       102
C.   Rujukan Utama Menyusun RPP           
       103
D.   Manfaat Dibuatnya RPP          
       103
E.    Bagian-bagian Dari RPP           
       104
F.    Berbagai Model RPP    
       105

iv
 
DAFTAR PUSTAKA




                                                        

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar